Lingkaran Penulis Digital

oleh

Pada beberapa bulan terakhir berpariwara di akun media sosial seolah menjadi tren yang lazim sebagai seorang narablog. Anda dapat melihat tagar-tagar komersil dalam skala masif, dan (bedebahnya) dalam rentang waktu yang panjang. Mulai dari tagar sebuah operator seluler, bumbu penyedap rasa, mainan, makanan bayi, minuman (yang katanya) berkhasiat, dan banyak lagi yang hadir bergantian atau malah beriringan.

Bukan, ini bukan tentang tagar yang dibuat sebagai administrasi sebuah kunjungan kegiatan yang dihadiri oleh narablog. Ini murni sebuah pariwara yang terstruktur. Metoda yang menjadi tren, jika saya tidak salah menganalisis, adalah seperti berikut: Sebuah produk memberikan tawaran pada narablog untuk membuat konten pada akun media sosialnya (twitter dan atau instagram dan atau facebook) setidaknya beberapa buah setiap harinya untuk rentang waktu yang disepakati. Bisa satu minggu, dua minggu, satu bulan atau entah. Belum lagi keharusan membagikan ulang konten yang dibuat oleh narablog lain yang mendapat tugas serupa. –sekali lagi, skema ini hanya analisis saya belaka, konsep aktual? Entahlah seperti apa.

Katakanlah satu narablog harus membuat lima konten media sosial perharinya, ditambah membagikan ulang semua konten dari lima narablog yang lain. Jika ada sepuluh atau dua puluh narablog yang memiliki tugas tersebut. Berapa kali kuadrat sampah produk yang mengotori linimasa media sosial Anda. Hitunglah sendiri, ilmu matematika Anda pastilah lebih tinggi dari saya yang kerjanya hanya mengeluh ini.

Saya sering mencoba menebak apa yang ada di dalam kepala para pemilik produk yang memilih kami, para narablog, untuk berpariwara di media sosial alih-alih selebritas yang jelas-jelas akan lebih memberikan impresi, atau setidaknya pengaruh, yang lebih banyak. Jika tujuannya adalah untuk menjaring pelanggan baru, atau mengembangkan produk, menurut saya memilih media sosial narablog untuk berpariwara adalah pilihan yang keliru. Kenapa? Hei, pemilik produk, Anda harus membaca beberapa paragraf di bawah ini.

Pertama, pada halaman sebelumnya saya sudah menulis bahwa dunia tulis digital di negeri ini tidak terlalu luas. Narablog yang tergabung dalam sebuah lingkaran boleh jadi tergabung juga dengan narablog di lingkaran lain. A beririsan dengan B, B beririsan dengan C, C beririsan dengan A. Dalam banyak lingkaran narablog akhirnya hanya akan membentuk sebuah rantai lingkaran yang banyak, namun sempit. Yang artinya, konten yang dibuat hanya dikonsumsi oleh orang-orang itu juga. Berputar-putar belaka.

Kedua, jika tujuannya untuk menjaring pelanggan dari lingkaran non-narablog dari masing-masing narablog yang ditunjuk, tentu kita harus mengacu pada ilmu pemasaran stratejik. Dari apa yang sudah saya pelajari, sajian konten pariwara, dalam bentuk apa pun, jika dilakukan terlalu masif, berlebihan dan dalam waktu yang berdekatan, alih-alih membuat calon pelanggan tertarik menggunakan produk kita. Sebaliknya, mereka cenderung akan lebih mudah merasa bosan, muak, terganggu dan akhirnya tidak sudi menggunakan produk kita, bahkan untuk sekadar mencobanya. Malah, dalam beberapa kasus pelanggan lama boleh jadi meninggalkan produk tersebut setelah mengetahui fungsi dan manfaatnya tidak sama dengan yang disampaikan dalam pariwara.

Ketiga, konsep pariwara yang, saya pikir, amat berlebihan: kuantitas yang teramat banyak di waktu yang berdekatan dan interval yang terlalu lama malah akan membuat nilai produk Anda menjadi berkurang, jika tidak bisa saya katakana jelek. Kenapa? Alasannya sederhana. Dalam konten blog yang notabene menawarkan lebih banyak penggunaan kata saja kualitas konten seringkali dipersetankan. Di media sosial, dengan karakter tulisan yang lebih sedikit, narablog dituntut untuk membuat banyak sekali konten yang segar dan berbeda. Hasilnya? Jauh panggang dari api. Narablog dengan lingkar otak yang terbatas dengan segala hal yang ada di dalamnya lambat laun akan kembali mempersetankan kualitas demi memenuhi target kuantitas yang disepakati. Dan jika diperhatikan, kualitas konten makin hari malah semakin menjijikan. Seperti yang pernah dituliskan dengan cemerlang oleh teman saya, Wanda Syafii, pada tulisannya yang berjudul: Hei Beberapa buzzer, Kalian sehat?

Jika tujuannya hanya untuk menempatkan produk mereka dalam daftar trending topic tagar di zona tertentu. Kalian, wahai pemilik produk, sudah menunjuk orang yang tepat. Setiap tagar pariwara yang dibuat oleh narablog pastilah pernah memuncaki (atau berada dalam) daftar trending topic, setidaknya dalam skala nasional. Namun yang perlu diperhatikan adalah: sebanyak apa orang-orang yang masih peduli dengan daftar tagar komersil pada trending topic?

Saya mulai mendengar cibiran dan juga nada-nada sumbang dari pembaca yang tersinggung dengan tulisan ini yang, meski sudah saya peringatkan, masih saja bebal membaca tulisan ini.

Kata mereka, “kenapa gak hapus aja pertemanan media sosialnya!? Unfollow!?” Sudah, saya sudah berhenti mengikuti cukup banyak akun yang membuat linimasa saya rusak. Beberapa yang lain sekadar saya matikan notifikasinya, mute, demi menjaga pertemanan di dunia nyata. Hei, masih ada, kan, orang yang berlebihan menanggapi berhentinya ikatan pertemanan di media sosial. Mute, menjadi salah satu cara untuk saya menghindari konflik yang terjadi kemudian.

Kata mereka yang lainnya, “alah, kamu mungkin iri karena tidak pernah mendapat tawaran pekerjaan juga”. Terserah, paling tidak saya pernah mendapatkan juga tawaran-tawaran seperti itu, beberapa diantaranya saya tulis dan saya buatkan khusus dalam kategori “pariwara” Anda dapat melihatnya pada laman ‘daftar isi’. Beberapa diantaranya saya tolak karena masing-masing produk yang datang bertubrukan kepentingan. Tidak elok rasanya jika saya membuat sebuah pariwara produk dan dalam waktu yang berdekatan saya membuat lagi pariwara yang lain untuk kompetitor dari produk yang sebelumnya. Beberapa narablog abai memikirkan poin penting ini. Jika saya menerima semua tawaran yang datang, daftar itu akan semakin panjang. Arogan? Boleh jadi, saya memang dikenal seperti itu. Bodoh dan arogan.

Kata mereka yang lain, “ini siapa sih, berani banget bikin tulisan begini, gak terkenal, gak sadar diri, apa?” Saya tidak ingin mencari musuh dengan membuat tulisan ini. Jika pun ada yang tersinggung, saya mohon maaf dengan sepenuh hati. Saya hanya membuat sebuah tulisan yang mewakili keresahan saya beberapa waktu belakangan ini. Saya tidak menyebutkan nama, baik orang atau pun produk, seharusnya saya tidak bisa dituntut oleh undang-undang plastik itu. Tidak ada nama baik yang saya rusak di tulisan ini. Namun, jika masih saja ada yang tersinggung, boleh jadi apa yang saya sampaikan di tulisan ini benar adanya.

Saya yang bukan siapa-siapa ini hanya ingin mengajak teman-teman untuk kembali bergairah dalam menulis. Saling beradu kreativitas yang juga memacu semangat kita untuk menulis.

Saya masih ingat bagaimana senangnya saya ketika ada komentar yang masuk di salah satu tulisan saya, komentar yang membahas tentang isi dan kualitas tulisan yang saya buat. Atau sebaliknya, saya pun masih ingat betapa stresnya saya ketika saya mendapat kritikan pedas tentang isi dan kualitas tulisan saya. Kritikan yang tentu membuat saya mencoba untuk menulis lebih baik lagi. Gairah seperti itu, tampaknya, tidak akan akan saya (atau Anda) temukan dalam sebuah konten pariwara.

Mencari uang melalui tulisan di media digital tidak lah pernah menjadi sesuatu yang salah. Namun jagalah (atau malah tingkatkan) kualitas konten yang Anda buat dalam setiap tulisannya. Lebih baik lagi jika konten-konten pribadi sesuai kategori yang dimiliki tetap ada dan berlipat ganda (untuk hal ini saya masih terus mencoba membuat setidaknya satu tulisan dalam setiap minggu. Doakan, ya). Satu yang saya percaya, kualitas konten setiap tulisan akan menjadi harga diri kalau punya seorang penulis digital. Konten yang semakin berkualitas tentu saja akan berimbas kepada banyak hal. Salah satunya, tentu saja, harga yang pantas Anda terima jikalau nanti menerima konten pariwara.

Dalam banyak sekali kesempatan ketika bertemu dengan narablog lain. Pertanyaan “apa alasan kamu nge-blog?” seringkali terucap oleh masing-masing kami. Jawaban mayoritas yang muncul adalah: “karena saya suka menulis”. Lalu, jika blog (atau juga media sosial) hanya berisikan konten-konten pariwara, apakah jawaban itu masih pantas diucapkan? Atau malah harus diubah kalimatnya menjadi: “apakah kamu suka menulis?”

Catatan 2:

  • Gambar diambil dari freepik.com dengan perubahan seperlunya.
  • Omong-omong, saya baru sadar menulis ini di hari raya kemerdekaan. Jadi, bolehlah saya mengucapkan: Dirgahayu Republik Indonesia!!! Terima kasih telah memberi kesempatan untuk saya lahir dan tumbuh di sini.

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

16 Comments

  1. Cari circle yang bukan blogger penting loh. Ini yang sedang saya lakukan di sosmed. Dan kalo update status ga melulu soal nulis dan blog. Gitu.

    Btw kok tim bolanya gak disebut Mas. Malu ya jadi supporter tim itu?

  2. share aja mas
    klo bagi saya, ngeblog itu seni. gimana sih klo orang seni itu berkarya
    berapapun uang, lomba, ato page views gak akan menjadi pemikiran buat alasan nulis
    bisa nulis dengan hasil terbaik, meski gak banyak dibaca ato blog gak terlalu terkenal, its ok, rasanya puas
    lambat laun, klo orang tau kualitas kita, tulisan kita bakal banyak yg ngangenin,
    cmiiw imho
    dan ijin share tulisannya
    matur thankyu

    • Sepakat. Sedikit banyak kita sependapat. Tapi ketika kita memutuskan untuk menulis pada blog dan membagikannya, secara tidak langsung kita meminta orang lain untuk membaca, kan?

      Keresahan saya, jika “meminta” seharusnya membuat sesuatu yg menyenangkan, kan? Konten pariwara masif, nirkreativitas, menurut saya jauh dr menyenangkan, sih.

  3. Hehehe … saya salah satu blogger yang mas tulis tuh.
    Maka dari itu, salah satu caranya adalah dengan mencari teman lagi yang bukan blogger mas.
    Kalo temen di timeline blogger semua ya muak juga, hehe.
    Biasanya saya selingi dengan me-like fanpage-fanpage lucu/komedi atau yang berbau nasihat agama.
    Saya juga bikin blog lagi yang khusus curhat. Jadi dibedakan blog mana yang isinya curhat dan isinya banyak konten iklan.

  4. iyasih kalau friendlist fb,twitter,instagram blogger semua, tidak ada tempat pelarian dari pariwara haha..

    pokoknya ngeblog ga seindah dulu CPC seret larinya ke blogpost, sama tagar-tagar kampret itu, mau gimana lagi realita…

  5. Penutupnya bagus sekali. 🙂

    Aku suka tulisan ini. Aku akan mengabaikan banyak typo-nya. Isi yang dituliskan di sini sesungguhnya mewakili apa yang aku rasakan juga. Aku blogging karena aku mencintai dunia tulis menulis sejak kecil. Hingga pada akhirnya aku tau bahwa tulisanku bisa membawa aku ke kehidupan yang lebih baik.

    Aku bersyukur aku menulis, mengenal blog khususnya. Tapi, aku resah. Sebab, idealisme dan realitas yang ada seperti berbenturan. Aku ingin tetap menjaga tulisanku dengan kekhasan yang mungkin gak khas banget, tapi di sisi lain aku membutuhkan uang untuk hidupku.

    Ini beneran, aku beberapa kali vakum hanya untuk memutar otak perihal keseimbangan ini. Hingga pada akhirnya, karena aku merasa aku gak sanggup membuat banyak tulisan di blog karena masih ada hal-hal lain yang harus atau ingin aku kerjakan, aku selalu berusaha membuat artikel yang soft selling (dengan label sponsored).

    Untuk media sosial, mungkin banyak yang mengenal aku pelit follow. Suka disindir. Suka dianu-anuin di grup. Tapi ya gak apa-apa. Aku hanya ingin tetap menjaga linimasaku. Ikut campaign pun, aku jarang RT punya orang kalo gak wajib. Aku tau itu nyampah ehehe. Kalo wajib pun… setelah selesai aku undo retweet hehehe jahat? Gapapa. Feel free to unfollow or block. Gitu aja.

    Maaf panjang wkwkwk.

  6. aku baca sampai selesai, tertarik dengan kecemasaan yang disebutkan di depan dan lega dech akhirnya. Sebagai pemilik blog, alasanku menulis blog bukan karena suka menulis sich, semua untuk merekam apa yang pernah aku lalui, itu awalnya, eee…keterusan dalam zona nyamannya memiliki blog.

  7. Kalau untuk media sosial Twitter, no komenlah. Di circle gue bersih dari tagar komersial. Setiap ada bloger yang dalam seminggu lebih dari tiga hari live twit mulu, gue mute atau unfoll. TL gue bersih dari kayak begituan. Yang malesin tuh Instagram pas produk susu. Semuanya promosi begitu. Dan bener, mereka saling beririsan. Wqwq. Mumpung waktu itu bulan puasa, gue juga bisa sekalian puasa main IG deh.

    Kalau soal blog, gue mah selalu mementingkan kenyamanan pembaca. Tulisan liputan acara sebisa mungkin enak dibaca dan ada gaya gue. Placement pun gue edit dulu. Pokoknya gue selalu punya prinsip demi menjaga idealisme. Yang haram macam situs judi dan togel, gue tolak. Nggak mau yang menyangkut politik dan agama. Pancasila kemarin aja gue gak ambil, gue takut dan merasa belum mengamalkan Pancasila dengan baik. 🙂

  8. Hmmm… so much emotion. (eh bener gak nih englishnya. haha)

    Buzzer ya… akhir-akhir ini harus diakui udah di tahap menganggu sih. Mereka kehilangan jati dirinya. Tapi gimana ya, kesempatan untuk dapat receh dari hal yang kita suka itu sesuatu banget. Zaman dulu mana ada orang dikasih uang buat ngetweet doang. Problemnya di buzzer sekarang adalah konten mereka yang sama persis. Hanya karena di breef nya gitu ya mereka bikinnya gitu juga, tak ada kreatifitas. Saya pun sering mengambil beberapa job yang receh banget, yah lumayan buat beli pulsa kan uangnya. Tapi kebanyakan post-post itu tidak saya share untuk berkali-kali karena kan dibayarnya cuma buat ngepost, bukan buat ngeshare. hahah bikin kotor timeline.

    Hmm abis baca ini jadi pengen nulis juga ah.. tentang keresahan.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Blog

Anak Ayah

“Anak ayah banget, ya, Dek?” pengemudi transportasi daring itu berujar setelah cukup

Sebelum Nonton

Saya pernah menuliskan sebelumnya tentang beberapa hal yang acap kali membuat saya

Kendari, Kali Kedua

Saya cukup banyak melewatkan detail-detail pada banyak sekali hal yang terjadi selama

Tahun Ketiga

Jahanamnya kemacetan ibukota adalah kelaziman. Ia terjadi setiap hari, seperti sekarang ini

Si Jagoan

“Yah, jek aja,” suara lembut penuh semangat dari ujung telfon di sana.
Go to Top