Kenapa Saya Menulis?

6 mins read

Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan sebuah notifikasi di salah satu akun media sosial yang saya miliki. Pesan dari seorang teman sekolah di kala saya masih bocah, isinya: sebuah ajakan untuk bergabung dengan grup diskusi alumni pada sebuah layanan pesan singkat. Saya iyakan ajakan tersebut. Menyenangkan rasanya dapat kembali bertegur sapa, meski maya, dengan mereka yang sudah bertahun-tahun alfa hadir di lingkaran kita. Seperti layaknya jutaan grup diskusi yang baru dibuat, di sana ratusan pesan hadir kemudian. Laju diskusi tak terbendung. Dalam sebuah canda, perpindahan kata melebihi kecepatan cahaya, bahasan baru muncul sebelum yang lain selesai. Ia benar-benar tak menyisakan tempat rehat kepada mereka yang memilih tidak diam. Dari banyak sekali cerita, saya mendapat satu giliran pertanyaan: “kamu nulis juga?”.

Blog ini dengan tulisan-tulisan yang ada di dalamnya tentu menjadi jawaban yang menyenangkan dari pertanyaan itu. Mudah saja untuk kemudian untuk saya mengatakan: “Iya, saya nulis juga. Kalau ada waktu untuk baca, boleh loh. Ini blog saya”.

Seharusnya sesederhana itu jawaban saya. Tapi nyatanya tidak.

Bayangan saya berkelebat ke tahun-tahun yang banyak sebelumnya. Di awal cerita ketika saya memutuskan untuk membuat sebuah media tulis. Dengan tingkah yang pongah saya menyatakan “saya suka menulis” setiap kali ada yang bertanya ‘kenapa?’.

Tentu saja itu menjadi jawaban yang paling aman dan meyakinkan. Jawaban yang membuat saya seolah menjadi seorang mulia yang sudi mengejewantahkan apa saja lewat sebuah tulisan. Di dunia tulis itu juga saya memiliki mimpi yang banyak yang lantas membuat saya berkomunitas, menambah pertemanan dari lingkaran penulis digital.

Kala itu saya berpikir bahwa blog, dengan segala ceritanya, adalah sebuah alternatif baca terbaik dibandingkan media arus utama yang lebih gemar menulis judul berita fantastis ketimbang memastikan akurasi dari isi berita yang ditulis tersebut dan para penulis profesional yang boleh jadi mengesampingkan idealisme dan kejujurannya dalam menulis demi sebuah nilai jual dalam pasar maka tulisan didalam blog hadir sebagai oase di tengah padang pasir. Ia hadir dalam segala bentuk kejujuran ditulis apa adanya tergantung dari ekspresi si pemilik blog tersebut. Bisa saja suatu ketika kita menemukan tulisan satir yang menyinggung hal-hal sensitif yang sulit sekali bisa kita temukan di media arus utama, atau tulisan melakonlis hasil buah pemikiran penulis yang sedang patah hati, atau tulisan penuh semangat yang ditulis ketika misalnya tim sepakbola favorit penulis sedang menang atau setelah si penulis mendapat lotre mungkin, atau dalam bentuk apapun. Kecuali sedang mengikuti lomba atau ketika dibayar oleh suatu brand sebagai buzzer produk tulisan pada blog adalah tentang kejujuran.

Dan saya ingin berada di dalam kemuliaan itu.

 

Saat itu, ketika saya memutuskan untuk memulai perjalanan menulis digital, saya dipusingkan oleh banyak hal. Tema yang harus saya pilih, nama dan tampilan yang menarik sampai dengan penyedia jasa digital yang akan saya jadikan ‘rumah’ untuk blog saya nantinya. Untuk urusan terakhir seorang teman berkata: DomaiNesia adalah web hosting terbaik. Coba aja”. Saya mengangguk dan menjadikannya sebagai salah satu alternatif pilihan.

Pramoedya, dalam salah satu tulisannya berkata: ‘Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian’.

Saya mengamininya: saya menulis untuk mengejar keabadian.

Saya menulis agar ide-ide yang ada di kepala dapat tersampaikan. Saya menulis agar saya dapat mengingat kembali cerita-cerita yang saya miliki di kemudian hari. Untuk saya, untuk orang yang mungkin sudi mampir untuk membacanya juga. Diterima? Entahlah. Itu urusan belakangan. Paling tidak dengan menulis saya merasa pikiran-pikiran saya satu langkah menuju keabadian. Jika beruntung, mungkin anak-cucu saya bisa membacanya kembali suatu saat nanti. Di sini di tempat saya menulis ini.

Bahkan, nalar liar saya memiliki satu lagi mimpi. Saya harus bisa membuat karya tulisan cetak sebelum saya tua. Mungkin di usia tiga lima, entahlah.

Mimpi itu menyenangkan.

Jika…

Benar-benar bisa…

Menjadi kenyataan.

Sayangnya apa yang saya lakukan belakangan ini jauh dari apa yang saya bayangkan sebelumnya. Dengan segala sikap enggan di waktu-waktu sekarang. Dengan banyak sekali catatan yang sulit saya prioritaskan. Dengan segala hal-hal yang banyak lainnya. Tampaknya saya kudu mengevaluasi kembali pernyataan saya.

Apakah saya benar-benar suka menulis?

Rentang waktu satu tulisan dengan tulisan berikutnya saja sudah menunjukkan bahwa saya memang malas. Di komunitas? Saya jelas gagal mengemban tanggung jawab yang dipercayakan orang-orang kepada saya. Yang saya ceritakan barangkali hanya omong kosong belaka. Saya punya ambisi namun saya gagal pada eksekusi. Saya punya mimpi namun saya lebih banyak berdiam diri.

Saya malu.

Dan saya harus berbuat sesuatu.

Membuat keputusan untuk saya. Untuk orang-orang yang sempat memercayakan segalanya untuk saya. Paling tidak di sini, di dunia tulis ini.

Dari banyak sekali cerita, saya mendapat satu giliran pertanyaan: “kamu nulis juga?”.

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

write your comment / request below

%d blogger menyukai ini: