Ketika ritme kehidupan kembali menuntut fokus yang utuh dan waktu untuk menulis menjadi kian menyempit, muncul sebuah batas kompromi untuk tidak mengeksploitasi lembar privasi. Di tengah persimpangan antara tanggung jawab dan rindu menulis inilah lahir sebuah ruang bermain taktis untuk membakukan konsep “Menceritakan Lagu”. Sebuah eksperimen hibrida yang terinspirasi dari mahakarya Rectoverso karya Dee Lestari, tempat musik dan sastra saling meminjam nyawa. Melalui proyek ini, bait lirik dari melodi yang melintas akan dialihbahasakan menjadi narasi utuh tanpa menjadi proyeksi cerita personal penulis. Menolak menyentuh lagu-lagu Dee Lestari yang sudah terlanjur sakral, sebuah ajakan kolaborasi justru dibuka lebar bagi pembaca untuk saling berbagi ide. Pada akhirnya, maklumat kecil ini memastikan bahwa di tengah tumpukan kesibukan baru, malam-malam ke depan akan selalu menyisakan tempat bagi pena yang rindu berdansa bersama melodi pilihanmu.
Hidup tidak pernah kehabisan cerita. Hanya saja, tidak selalu memberi waktu untuk menuliskannya. Maka ketika satu tulisan akhirnya lahir, mungkin itu hanya rindu yang kebetulan menemukan jalan pulang.
Hidup laiknya perjalanan di tengah padang yang tak berujung, langkah demi langkah kita lewati di jalan yang terkadang lurus, sering kali berliku. Di awal perjalanan, kita melangkah dengan penuh semangat, mengejar mimpi-mimpi yang tampak megah di kejauhan. Sampai kemudian usia berlipat tanpa permisi dan karenanya perjalanan bukan hanya tentang mencapai tujuan. Ia membawa cerita bahwasanya langkah juga memberikan luka pengajaran, singgah dan diam yang juga memberikan arti, dan mereka yang hadir bersama nafas yang berjalan seiring. Seperti ranting yang patah tapi tetap bertunas, seperti kertas putih yang diisi dengan banyak sekali cerita, setiap usia mengandung makna, sampai nanti berakhir pada sirna.
Kini saya berada di tengah kepala tiga. Jika menggunakan angka matematika dari riwayat Sang Nabi Mulia, kini saya sudah berada di antara catu usia.
Saya dan segala yang terjadi pada saya sudah merasa kewalahan. Saya mungkin sudah tidak bisa lagi terlalu banyak membagi pikiran. Saya rasanya sulit untuk bisa terus memberi ide dan masukan brilian.
Saya percaya masih banyak jagoan-jagoan yang akan membuat Warung Blogger tetap jalan.
Dan, iya. Saya sudah akan pamit dan undur diri.
Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan sebuah notifikasi di salah satu akun media sosial yang saya miliki. Pesan dari seorang…
Saya sedang merasa puas luar biasa. Pasalnya, sudah lama sekali, sejauh yang saya ingat, saya mampu mengkhatamkan satu pertandingan penuh…
