Ketika ritme kehidupan kembali menuntut fokus yang utuh dan waktu untuk menulis menjadi kian menyempit, muncul sebuah batas kompromi untuk tidak mengeksploitasi lembar privasi. Di tengah persimpangan antara tanggung jawab dan rindu menulis inilah lahir sebuah ruang bermain taktis untuk membakukan konsep “Menceritakan Lagu”. Sebuah eksperimen hibrida yang terinspirasi dari mahakarya Rectoverso karya Dee Lestari, tempat musik dan sastra saling meminjam nyawa. Melalui proyek ini, bait lirik dari melodi yang melintas akan dialihbahasakan menjadi narasi utuh tanpa menjadi proyeksi cerita personal penulis. Menolak menyentuh lagu-lagu Dee Lestari yang sudah terlanjur sakral, sebuah ajakan kolaborasi justru dibuka lebar bagi pembaca untuk saling berbagi ide. Pada akhirnya, maklumat kecil ini memastikan bahwa di tengah tumpukan kesibukan baru, malam-malam ke depan akan selalu menyisakan tempat bagi pena yang rindu berdansa bersama melodi pilihanmu.
Pagi selalu membawaku pada satu nama yang diam-diam pulang ke dalam doa, pada seseorang yang terbiasa menahan lebih banyak dari yang ia bagi, dan merasa cukup bahkan sebelum benar-benar mencoba. Aku mengenalmu dari hal-hal yang tidak kamu ucapkan, dari batas yang kamu bangun sendiri, dari langkah yang kamu hentikan sebelum sempat sampai. Hingga aku mengerti, bahwa tidak semua yang dekat harus dimiliki, dan tidak semua yang ingin perlu diperjuangkan. Maka aku memilih mencintaimu dengan cara yang paling tenang, tanpa memaksa, tanpa mengejar, tanpa harus sampai. Aku menyayangimu dalam diam yang panjang, dalam jarak yang tidak pernah benar-benar dekat. Dan mungkin, pada akhirnya, cukup mengetahui bahwa kamu ada dan hidup , itu sudah cukup.
Ada orang-orang yang datang sebagai rekan kerja, lalu perlahan mendekat, melekat, dan akhirnya menjadi bagian dari hidup yang sulit dilewatkan. Bersama mereka, saya belajar bahwa sebuah tim tidak hanya dibangun oleh target dan angka, tetapi juga oleh tawa, luka, serta ruang untuk saling tumbuh menjadi lebih utuh dan lebih teduh. Tulisan ini adalah catatan tentang perjalanan itu—tentang halaman yang ditulis bersama, tentang perpisahan yang tetap menyisakan jejak, dan tentang nama-nama yang diam-diam terus tinggal dalam ingat.
Di antara gelas yang mencair dan pintu yang akhirnya tertutup rapat, aku belajar bahwa melepaskan bukan berarti berhenti peduli, tapi berhenti menjadi ruang tunggu bagi seseorang yang bahkan tidak pernah berniat untuk benar-benar menghuni. Karena pada akhirnya, semesta tetap berjalan dengan acuh, membiarkan kita memahami secara mandiri bahwa cinta yang tidak bisa dimiliki memang selalu punya cara paling jeli untuk melukai.
Hidup tidak pernah kehabisan cerita. Hanya saja, tidak selalu memberi waktu untuk menuliskannya. Maka ketika satu tulisan akhirnya lahir, mungkin itu hanya rindu yang kebetulan menemukan jalan pulang.
Hidup laiknya perjalanan di tengah padang yang tak berujung, langkah demi langkah kita lewati di jalan yang terkadang lurus, sering kali berliku. Di awal perjalanan, kita melangkah dengan penuh semangat, mengejar mimpi-mimpi yang tampak megah di kejauhan. Sampai kemudian usia berlipat tanpa permisi dan karenanya perjalanan bukan hanya tentang mencapai tujuan. Ia membawa cerita bahwasanya langkah juga memberikan luka pengajaran, singgah dan diam yang juga memberikan arti, dan mereka yang hadir bersama nafas yang berjalan seiring. Seperti ranting yang patah tapi tetap bertunas, seperti kertas putih yang diisi dengan banyak sekali cerita, setiap usia mengandung makna, sampai nanti berakhir pada sirna.
Kini saya berada di tengah kepala tiga. Jika menggunakan angka matematika dari riwayat Sang Nabi Mulia, kini saya sudah berada di antara catu usia.
