Ada orang-orang yang datang sebagai rekan kerja, lalu perlahan mendekat, melekat, dan akhirnya menjadi bagian dari hidup yang sulit dilewatkan. Bersama mereka, saya belajar bahwa sebuah tim tidak hanya dibangun oleh target dan angka, tetapi juga oleh tawa, luka, serta ruang untuk saling tumbuh menjadi lebih utuh dan lebih teduh. Tulisan ini adalah catatan tentang perjalanan itu—tentang halaman yang ditulis bersama, tentang perpisahan yang tetap menyisakan jejak, dan tentang nama-nama yang diam-diam terus tinggal dalam ingat.
Hidup tidak pernah kehabisan cerita. Hanya saja, tidak selalu memberi waktu untuk menuliskannya. Maka ketika satu tulisan akhirnya lahir, mungkin itu hanya rindu yang kebetulan menemukan jalan pulang.
Hidup laiknya perjalanan di tengah padang yang tak berujung, langkah demi langkah kita lewati di jalan yang terkadang lurus, sering kali berliku. Di awal perjalanan, kita melangkah dengan penuh semangat, mengejar mimpi-mimpi yang tampak megah di kejauhan. Sampai kemudian usia berlipat tanpa permisi dan karenanya perjalanan bukan hanya tentang mencapai tujuan. Ia membawa cerita bahwasanya langkah juga memberikan luka pengajaran, singgah dan diam yang juga memberikan arti, dan mereka yang hadir bersama nafas yang berjalan seiring. Seperti ranting yang patah tapi tetap bertunas, seperti kertas putih yang diisi dengan banyak sekali cerita, setiap usia mengandung makna, sampai nanti berakhir pada sirna.
Kini saya berada di tengah kepala tiga. Jika menggunakan angka matematika dari riwayat Sang Nabi Mulia, kini saya sudah berada di antara catu usia.
Saya dan segala yang terjadi pada saya sudah merasa kewalahan. Saya mungkin sudah tidak bisa lagi terlalu banyak membagi pikiran. Saya rasanya sulit untuk bisa terus memberi ide dan masukan brilian.
Saya percaya masih banyak jagoan-jagoan yang akan membuat Warung Blogger tetap jalan.
Dan, iya. Saya sudah akan pamit dan undur diri.
Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan sebuah notifikasi di salah satu akun media sosial yang saya miliki. Pesan dari seorang teman sekolah di kala saya masih bocah, isinya: sebuah ajakan untuk bergabung dengan grup diskusi alumni pada sebuah layanan pesan singkat. Saya iyakan ajakan tersebut. Menyenangkan rasanya dapat kembali bertegur sapa, meski maya, dengan mereka yang sudah bertahun-tahun alfa hadir di lingkaran kita. Seperti layaknya jutaan grup diskusi yang baru dibuat, di sana ratusan pesan hadir kemudian. Laju diskusi tak terbendung. Dalam sebuah canda, perpindahan kata melebihi kecepatan cahaya, bahasan baru muncul sebelum yang lain selesai. Ia benar-benar tak menyisakan…
Akhirnya! Setelah beberapa waktu terakhir terpaksa mengurung diri di rumah, keluar hanya ke tempat-tempat yang jaraknya hanya sepelemparan batu belaka. Untuk pertama kalinya, semenjak si kecil lahir, kami berani untuk bergerak ratusan kilometer demi memenuhi undangan di kota jauh. Kami memutuskan untuk menyewa mobil. Untungnya mencari sewa mobil di jakarta lepas kunci tidak terlalu sulit. Sedikit berlebihan dalam persiapan. Memastikan kondisi si kecil baik dengan istirahat yang harus cukup. Dan: kakek-nenek, kami datang.