Ada orang-orang yang datang sebagai rekan kerja, lalu perlahan mendekat, melekat, dan akhirnya menjadi bagian dari hidup yang sulit dilewatkan. Bersama mereka, saya belajar bahwa sebuah tim tidak hanya dibangun oleh target dan angka, tetapi juga oleh tawa, luka, serta ruang untuk saling tumbuh menjadi lebih utuh dan lebih teduh. Tulisan ini adalah catatan tentang perjalanan itu—tentang halaman yang ditulis bersama, tentang perpisahan yang tetap menyisakan jejak, dan tentang nama-nama yang diam-diam terus tinggal dalam ingat.
Aku menatap kosong ke tengah taman yang lenggang. Di sana, di tengah taman itu, terdapat sebuah bangku tempat kami biasa bercengkerama, dalam rentang waktu satu-dua tahun terakhir satu persatu bangku telah kehilangan pemiliknya. Gelas-gelas yang biasanya berputar jauh, kini kembali lebih cepat. Akumulasi asap yang terkepul sudah menjadi sedemikian bias. Aku tersenyum. Rasa-rasanya baru kemarin taman ini ramai dengan tawa penghidupan. Sekarang semuanya berbeda. Aku bangkit berdiri. Menengok ke arah sana sekali lagi. Giliranku kali ini.
Sudah beberapa hari berlalu dan ternyata benar, yang paling menyebalkan dari kembali bekerja setelah libur cukup panjang bukan tentang bagaimana…
Hari ini, jika melihat tanggalan yang tertera pada setiap tulisan, tepat dua bulan saya tidak menerbitkan tulisan baru. Berdasarkan riwayat…
Populasi adalah sekumpulan individu dengan ciri-ciri sama (satu spesies yang sama) yang hidup dalam tempat dan waktu yang sama. Kemudian…
“Loh, sendirian aja, Mas?” seorang pramusaji, sembari memberikan daftar menu, bertanya dengan dahi yang berkerenyit. Aku menatap ke seberang meja….
