Skip to main contentScroll Top
19th Ave New York, NY 95822, USA
LIFE
Pena yang tak sempat menulis

Catatan kecil tentang hidup yang semakin penuh dan sebuah rindu yang belum benar-benar selesai.

Ada masa ketika pena menulis hidup.

Ada masa ketika hidup membuat pena berhenti menulis.

Hidup tidak pernah kehabisan cerita. Ia hanya perlu dijalani lebih seksama dalam bentuk yang penuh bernamakan pekerjaan, perjalanan pulang yang panjang, dan makna di setiap kata pulang.

Maka jika pena ini lebih sering diam, mungkin bukan karena ia berhenti menulis, ia sedang perlu menjalani cerita-cerita itu terlebih dahulu.

Beberapa hari terakhir saya melakukan kegiatan serupa manusia pada umumnya: membolak-balik arsip kenangan. Iya, kan? Kamu melakukan itu juga. Entah pada beranda media sosial, entah pada galeri ponsel, entah pada tumpukan data yang diam-diam tersimpan di perangkat lunak. Kita melakukannya hampir di sepanjang waktu. Tujuannya? Sebagian besar mengingat hal-hal yang pernah singgah, sebagian lagi untuk menertawakan apa yang terjadi di waktu sebelumnya. Di atas segalanya, ia kadang membawa kita kembali untuk beranjangsana di setiap catatan perjalanan.

Bedanya, kali ini yang saya buka bukan galeri ponsel atau beranda media sosial.

Melainkan laman ini.

Tempat kalian berada saat ini.

1. Arsip kenangan

Ada semacam sesak yang muncul ketika saya membukanya. Seperti seseorang yang kembali berdiri di depan sebuah rumah yang pernah ia tinggali—rumah yang pintunya lama sekali tidak ia ketuk, jendelanya lama sekali tidak ia buka. Rumah yang saya tinggalkan terlalu lama.

Sesak itu muncul dari alasan yang sebenarnya sederhana. Dari beberapa tulisan terakhir yang ada di laman ini, masing-masing memiliki jeda yang teramat lama. Entah satu, entah dua. Bulan? Bukan. Ia terjeda dalam bilangan tahun.

Jika hidup adalah tinta dan saya adalah penanya, maka cerita seharusnya bisa lahir kapan saja. Setidaknya dulu begitu. Ketika hal-hal kecil bisa menjelma menjadi ide cerita. Yang sedikit lebih besar berubah menjadi narasi yang terasa luar biasa. Dan ketika semuanya dirangkai bersama, ia bisa tumbuh menjadi sebuah karya yang, mungkin saja, sudi untuk kalian baca.

Sebab tinta kehidupan sebenarnya tidak pernah habis. Kertas kosong pun selalu sabar menunggu untuk diisi. Maka masalahnya bukan pada mereka. Masalahnya ada pada saya. Si Pena yang, entah sejak kapan, tidak bisa lagi berdansa. Si Pena yang, entah sejak kapan, tak lagi pandai bercerita.

Beberapa tahun yang banyak, memang hidup bersenandung dengan irama yang berbeda. Hidup tidak lagi berima sama.

 Izinkan saya membuat alasan.

2. Meja yang semakin penuh

Pertama, mungkin saya mulai dari pekerjaan.

Jauh di waktu yang lalu, saya hanya memiliki satu meja kerja sederhana. Meja kecil dengan beberapa tumpukan buku yang tertata rapi. Tidak banyak, tidak pula tergesa-gesa. Saya bisa membacanya satu per satu, perlahan, sampai benar-benar habis. Dan ketika satu buku selesai, buku lain tidak langsung datang.

Maka di meja yang sempit itu, masih ada ruang. Masih ada kertas kosong yang bisa saya isi.

Kemudian suatu hari, setelah buku terakhir benar-benar saya habiskan—dan setelah saya menolak untuk diberikan buku yang sama lagi—saya memutuskan untuk berpindah ke meja kerja yang lebih besar.

Di meja baru ini, buku-buku datang lebih banyak. Semuanya masih tertata rapi, tetapi jumlahnya jelas berbeda. Saya tetap membacanya satu per satu, hanya saja waktu yang dibutuhkan menjadi jauh lebih lama. Kadang ketika satu buku hampir selesai, buku baru sudah lebih dulu datang menunggu.

Kertas kosong masih ada di meja ini. Masih terlihat. Tetapi untuk menuliskan satu cerita, perlu kumulasi kata dari waktu yang lama.

Lalu, satu waktu berikutnya, saya kembali berpindah meja.

Kali ini meja kerja itu jauh lebih besar. Buku-bukunya jauh lebih banyak. Dan tidak lagi tertata rapi seperti sebelumnya. Sebagian datang dari tempat yang berbeda. Sebagian lagi memiliki bahasa yang tidak selalu saya pahami dengan segera.

Untuk mulai membacanya, saya harus merapikannya terlebih dahulu. Menyusunnya ulang. Membuat beberapa tumpukan baru agar semuanya bisa dimengerti sebagai satu cerita yang utuh.

Tetapi sebelum satu tumpukan selesai saya baca, buku-buku lain sudah datang lagi. Lebih banyak. Lebih cepat. Dan jauh lebih berserakan.

Di sini, kertas kosong sudah tidak terlihat dari meja. Maka hanya keajaiban yang membuat saya bisa menjadi pena kemudian lantas bercerita.

Demi alasan yang lebih mudah dipahami, mari kita ubah semua buku tadi menjadi untaian kata yang berkumpul pada sebuah layar kaca.

Iya.
Bahwa sebagian besar keseharian saya habis di depan layar.

Saya memulainya pada waktu yang entah. Mengakhirinya dengan kebingungan yang sama. Dalam keadaan seperti ini, definisi waktu kerja perlahan kehilangan bentuknya. Ia tidak lagi dimulai dengan jelas di pagi hari dan selesai dengan tenang di sore hari. Kadang ia memanjang sampai malam. Kadang ia muncul kembali di waktu yang seharusnya menjadi jeda.

Dan hampir semuanya terjadi di tempat yang sama.

Di depan layar.

Pagi dimulai di sana. Siang berlanjut di sana. Kadang malam pun masih berakhir di sana.

Sampai pada satu titik saya menyadari sesuatu yang cukup sederhana.

Setelah terlalu lama berada di depan layar, ada rasa yang perlahan tumbuh di dalam diri: saya jenuh, saya takut lalu saya muak. Sampai akhirnya cita-cita saya menjadi sederhana: menjauh darinya.

Termasuk dari layar yang kini menggantikan kertas, tempat pena ini dulu biasa bercerita.

3. Pulang

Lalu kerja hari itu akhirnya selesai. Atau setidaknya terlihat selesai.

Saya menutup layar, merapikan beberapa kata terakhir yang masih tertinggal di sana, lalu meninggalkan meja kerja yang sejak tadi menahan saya cukup lama. Tetapi pekerjaan tidak benar-benar berhenti di situ. Ia harus selalu ikut pulang. Ikut berdansa di balik kemudi sepanjang perjalanan, atau berdempetan bersama saya di kursi sempit moda transportasi yang saya gunakan. Ia, pekerjaan-pekerjaan itu, serupa karib yang tak pernah benar-benar pamit dari perjalanan pulang.

Pada waktu yang lebih bersahabat, saya mencoba lelap di perjalanan. Namun yang sering terjadi justru sebaliknya. Lampu merah yang terasa terlalu lama, deretan kendaraan yang bergerak pelan menyerupai laju cerita yang tak pernah benar-benar selesai—entah bagaimana caranya—membuat suasana tetap mendukung saya untuk bekerja. Di sela itu semua, pikiran masih membuka halaman-halaman pekerjaan yang belum selesai. Sesekali saya memeriksa pesan yang datang. Sesekali membaca kembali sesuatu yang tadi sempat tertunda.

Tapi satu yang menjadikan “pulang” selalu memiliki makna. Bahwa di rumah, beberapa mata menunggu saya segera tiba.

Ada langkah-langkah kecil yang berlari ketika pintu akhirnya terbuka. Ada suara yang memanggil dengan nada yang sulit dijelaskan. Rindu, gembira, marah, seolah-olah mengejawantahkan bahwa pulangnya saya adalah bagian paling penting di hari mereka.

Mereka ingin bermain.

Mereka ingin bercerita.

Atau hanya ingin saya duduk di dekat mereka sebentar.

Malam sering berubah menjadi ruang bermain kecil di dalam rumah. Tawa mereka memantul di dinding-dinding yang sempit, cerita-cerita kecil mengalir tanpa aturan, dan permainan sederhana yang bagi mereka terasa sebesar dunia.

Di ruang kecil itu, waktu berjalan dengan cara yang berbeda.

Pekerjaan yang tadi terasa mendesak perlahan menjauh. Layar yang sejak tadi menjadi candu harus saya kesampingkan terlebih dulu. Yang tersisa haruslah tawa, langkah-langkah kecil, dan tangan-tangan mungil yang menarik saya untuk tetap tinggal sedikit lebih lama.

Yang kemudian lalu saya pahami, bahwa pulangnya saya adalah kepingan terakhir untuk penutup cerita mereka.

Maka yang penting tinggallah satu: Pena bisa menunggu. Mereka tidak.

Dan malam pun berjalan sebagaimana mestinya—dipenuhi cerita kecil yang mungkin tidak pernah saya tulis, tetapi tetap hidup di ingatan.

Sampai akhirnya tubuh memberi pesan yang jujur. Hari ini sudah berjalan teramat panjang.

Dan saya lelah.

4. Kalimat yang mencari pulang

Maka jika ada satu hal yang masih tersisa dari semua ini, ia hadir dalam wujud rindu.

Rindu pada hari-hari ketika menulis datang tanpa perlu dipanggil. Ketika sebuah cerita bisa lahir hanya dari potongan kejadian kecil yang kebetulan lewat di kepala. Hari-hari ketika pena ini terasa ringan, dan halaman kosong selalu tampak dekat.

Sekarang semuanya sedikit berbeda.

Bukan karena ceritanya habis. Hidup justru semakin penuh oleh cerita. Hanya saja sebagian besar dari cerita itu harus saya jalani terlebih dahulu, sebelum sempat saya tuliskan.

Dan seperti itulah.

Bahwa pada satu masa, saya menulis untuk menceritakan hidup. Lalu pada masa yang lain, saya terlalu sibuk menjalaninya.

Karena itu saya tidak berani lagi berjanji pada diri sendiri bahwa menulis akan kembali menjadi prioritas. Pena ini mungkin akan lebih sering terdiam di sudut meja. Halaman kosong mungkin akan lebih sering menunggu tanpa benar-benar saya datangi.

Tetapi malam ini, satu tulisan muncul. Entah bagaimana caranya, rindu itu menemukan jalan pulang.

Dan mungkin itu sudah cukup untuk mengatakan satu hal kecil: pena ini belum benar-benar berhenti.

Ia hanya menunggu waktu sedikit melambat untuk saya mencumbu rindu.

Related Posts

Comments (1)

auranya sedih banget..

Leave a comment