Skip to main content Scroll Top
Blog
Menceritakan Lagu

Mengikuti sang penulis agung. Ini adalah sebuah ruang hibrida tempat barisan lirik dialihbahasakan menjadi narasi, menjemput rasa yang sempat bersembunyi. 

Bagian 1.

Persimpangan dan Sebuah Hilir Baru.

"Menjaga Gairah Kata di Tengah Deru Realitas Baru"

Halaman ini pernah melewati sunyi yang cukup lama. Membiarkan debu waktu menutupi sudut-sudutnya tanpa ada satu pun cerita baru yang keluar. Sampai akhirnya, sejak satu tulisan itu muncul dengan judul “Pena yang tak sempat menulis”. Beberapa tulisan perlahan mulai kembali lahir dari tangan ini. Dan entah mengapa, setiap kali satu tulisan berhasil diselesai, hasrat saya terhadap menulis kemudian berejakulasi. Sebuah kepuasan yang mengingatkan saya mengapa saya selalu rindu pulang ke dunia kata-kata.

Namun, di depan sana, realitas baru sudah mengetuk pintu. Beberapa waktu ke depan, saya akan kembali melangkah masuk ke dalam ritme kehidupan sebagaimana manusia. Bergerak di antara batas waktu dan rutinitas yang menderu. Sebuah fase yang membawa tampuk tanggung jawab luar biasa, yang menuntut fokus penuh dan kehadiran yang utuh. Di sela-sela waktu yang akan semakin menyempit, momok itu kemudian kembali datang: saya takut, saya tidak akan memiliki waktu yang cukup lagi untuk sekadar duduk dan menulis. Saya akan kehilangan lagi gairah yang belakangan ini kembali saya dapatkan.

Di saat yang sama, ada sebuah batas kompromi yang harus saya buat dengan diri sendiri. Bahwa tidak semua tinta harus saya goreskan untuk menjadi lembaran yang bisa dibaca. Ada cerita yang terlalu sunyi untuk dirayakan, atau justru terlalu riuh hingga maknanya akan luntur jika dipaksa menjadi kalimat. Atau di waktu lain, ada cerita yang terlalu personal, terlalu sakral untuk dijabarkan di atas layar. Di atas segalanya, ada ruang privasi yang harus saya buat tetap sunyi.

Logikanya kemudian menjadi rumit: saya ingin menjaga rasa senang luar biasa dalam menulis, namun waktu saya akan semakin terbatas, dan beberapa lembar privasi tidak bisa selalu saya eksploitasi.

Maka, di tengah persimpangan antara rindu menulis dan tanggung jawab yang menyita waktu, sebuah ide lama kembali melintas. Sebuah jalan pintas sekaligus ruang bermain yang ingin saya tetapkan secara resmi: membakukan sebuah konsep untuk “Menceritakan Lagu”.

Ketika hidup sendiri sedang terlalu sibuk untuk dirangkai menjadi narasi, meminjam “hidup” dari melodi orang lain adalah sebuah cara agar pena ini tetap bisa berdansa. Jika meja kerja saya terlalu penuh untuk melahirkan cerita baru, maka barangkali, melodi dari lagu-lagu yang lewat di telinga bisa menjadi hilir baru bagi kalimat yang mencari jalan pulang.

Bagian 2.

Ketika Musik dan Sastra Saling Meminjam Nyawa

"Membangunkan Eksperimen Lama, Mengajak Ingatanmu Melebur Bersama"

Eksperimen ini sebenarnya bukan tanah baru yang asing bagi saya. Jauh sebelum hari ini, ingatan saya terlempar ke satu dekade silam. Saat itu, saya pernah mencoba mengetuk pintu yang sama, meraba-raba sebuah medium baru melalui sebuah tulisan berjudul “Kupu-Kupu Malam”. Sebuah upaya awal untuk menjahit nada-nada yang melintas menjadi sebuah narasi utuh.

Langkah sepuluh tahun lalu itu tidak lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh karena kekaguman saya pada sebuah mahakarya berjudul Rectoverso karya Dee Lestari. Penulis yang hingga hari ini karyanya selalu memiliki tempat paling khusyuk di ingatan saya.

Melalui Rectoverso, saya belajar tentang sebuah konsep hibrida yang magis: bahwa sebuah cerita bisa didengar, dan sebuah lagu bisa dibaca. Dee Lestari berhasil membuktikan bahwa musik dan sastra bukanlah dua garis sejajar yang tidak bisa bertemu. Keduanya bisa saling meminjam nyawa. Ketika melodi mulai menyentuh ruang dengar, ia mampu memantik imajinasi visual yang begitu pekat, melahirkan karakter-karakter baru, dan menyusun plot cerita yang barangkali tidak pernah dibayangkan oleh sang pembuat lagu itu sendiri.

Menengok kembali arsip sepuluh tahun lalu membuat saya tersadar, esensi dari hibrida itu masih tertinggal di sana, menunggu untuk dibangunkan kembali.

Jika dulu saya hanya menjadikannya sebagai sebuah eksperimen sekilas, maka kali ini, saya ingin kembali berjalan di jalur tersebut dengan kesadaran yang lebih utuh. Kembali mengetuk pintu rumah yang pernah saya datangi sepuluh tahun lalu, membawa pena yang rindu berdansa ini untuk bersandar pada bait-bait lagu yang siap dialihbahasakan menjadi sebuah cerita yang lebih panjang.

Namun, ada satu garis tegas yang ingin saya tarik sejak awal: proyek ini sama sekali bukan tentang ego atau proyeksi dari cerita personal saya.

Sebab, keindahan terbesar dari sebuah lagu terletak pada universalitasnya. Nada tidak pernah memilih kepada siapa ia ingin bertamu. Satu buah lagu, dengan bait lirik yang sama, bisa mewakili ribuan kepala dengan ribuan takdir yang berbeda. Ia bisa menjadi pelipur lara bagi yang terluka di sudut kamar, sekaligus menjadi lagu perayaan bagi mereka yang baru mendapat bahagia di batas senja. Melodi mampu melintasi ruang yang sepi, menjemput rasa yang sempat bersembunyi. Cerita dari satu lagu, pada akhirnya, bisa menjadi cerita milik banyak orang.

Oleh karena itu, saya tidak ingin berjalan sendirian di ruang ini.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak teman-teman, pembaca, atau siapa pun yang kebetulan singgah di sini, untuk saling berbagi ide. Katakan pada saya, lagu milik siapa dan lagu apa yang perlu saya ceritakan selanjutnya. Berikan saya bahan bakar berupa melodi yang pernah, atau sedang menemani hari-hari agar pena ini bisa kembali merangkai cerita di dalamnya.

Hanya saja, ada satu catatan kecil yang menjadi pengecualian.

Karena seluruh konsep ini berakar dari kekaguman saya pada Rectoverso, dan karena Dee Lestari adalah penulis favorit yang karyanya selalu saya tempatkan di posisi tertinggi, saya memutuskan untuk menetapkan satu aturan main: saya tidak akan menulis cerita dari lagu-lagu ciptaan Dee Lestari. Bagi saya, karya-karyanya sudah terlanjur magis, utuh, dan sakral untuk disentuh ulang. Biarlah lagu-lagu beliau tetap berada di tempatnya yang abadi, sementara kita mencari petualangan baru lewat lagu-lagu yang lain.

Pada akhirnya, tulisan ini adalah sebuah maklumat kecil. Sebuah tanda bahwa langkah selanjutnya dari pena ini tidak boleh benar-benar terhenti. Ia hanya sedang bersiap untuk membuka laci baru, menambah variasi dan warna di atas meja kerja yang sama.

Ketika waktu berjalan semakin cepat dan ruang personal menuntut perhatian yang lebih besar, melodi-melodi di luar sana hadir untuk menawarkan ruang bermain yang lebih luas. Menjadi kanvas tambahan di mana kata-kata saya dan ingatan kamu bisa melebur menjadi satu. Kita tidak lagi sekadar mendengarkan musik, kita akan mulai membaca apa yang tersirat di balik nadanya.

Hari-hari ke depan mungkin akan segera penuh dengan tumpukan tanggung jawab yang baru. Namun, tepat sebelum kesibukan itu benar-benar menyita waktu, saya ingin memastikan satu hal: bahwa malam-malam kita ke depan akan selalu punya ruang untuk cerita-cerita baru.

Di kepala saya, beberapa judul lagu sudah mengantre untuk dialihbahasakan menjadi narasi, beberapa diantaranya sudah menyusul jejak yang pernah ditinggalkan satu dekade sebelumnya. Tapi tentu saja, antrean itu tentu saja masih menyisakan banyak tempat untuk melodi yang kamu pilih.

Namun, perlu saya garis bawahi sejak awal: kecuali jika kamu menyertakan pesan spesifik atau sudut pandang tertentu yang ingin dititipkan bersama lagu tersebut, maka biarlah pena ini bergerak bebas. Saya akan menerjemahkan bait-bait lirik yang kamu beri berdasarkan ruang dengar dan pemahaman saya sendiri: membiarkan melodi itu menyusup, lalu lahir kembali menjadi sebuah narasi baru dari kepala saya.

Atau jika kamu memiliki ide yang lebih liar, pintu komentar sudah dibuka. Mari kita bekerja sama dan biarkan pena ini kembali berdansa.

Jika berkenan, silakan tuliskan lagu yang kamu ceritakan.

Daftar lagu yang pernah saya buat menjadi tulisan dapat dilihat pada halaman "Cerita Lagu"

Related Posts

Leave a comment