Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan sebuah notifikasi di salah satu akun media sosial yang saya miliki. Pesan dari seorang teman sekolah di kala saya masih bocah, isinya: sebuah ajakan untuk bergabung dengan grup diskusi alumni pada sebuah layanan pesan singkat. Saya iyakan ajakan tersebut. Menyenangkan rasanya dapat kembali bertegur sapa, meski maya, dengan mereka yang sudah bertahun-tahun alfa hadir di lingkaran kita. Seperti layaknya jutaan grup diskusi yang baru dibuat, di sana ratusan pesan hadir kemudian. Laju diskusi tak terbendung. Dalam sebuah canda, perpindahan kata melebihi kecepatan cahaya, bahasan baru muncul sebelum yang lain selesai. Ia benar-benar tak menyisakan…
Apa yang terjadi pada linimasa media sosial milik kita amat sangat dipengaruhi oleh lingkaran sosial tempat kita bernaung. Saya, sebagai contoh, pernah memiliki siklus linimasa yang melulu tentang sepak bola ketika saya masih aktif di sebuah komunitas pecinta salah satu klub sepak bola. Membosankan? Boleh jadi. Hampir di setiap waktu, tujuh hari dalam seminggu, apa yang berputar di dalam media sosial hanya lah tentang sepak bola. Dari mulai berita, hasil pertandingan, lelucon, atau apa pun selama bersinggungan dengan klub sepak bola tersebut. Saya lelah, tentu saja, oleh karenanya saya merasa harus mengubah atau setidaknya menambah hal-hal baru di dalam lingkaran…
“Memang Abang punya blog ??” Adit tak puas, membuatku yang baru saja berniat untuk beranjak pindah ke ruang tamu, terpaksa harus menundanya sementara waktu. Aku menatap wajah perempuan itu. Dalam waktu yang hampir bersamaan mata kami bertemu, saling menatap tidak terlalu lama. Lalu kami berdua menunduk, tersenyum, mencoba mengingat kembali darimana awal semua cerita ini bermula. Ruang keluarga berukuran empat kali empat meter itu lenggang sejenak. Empat orang anak kecil –yang telah berhasil kubuat menjadi penasaran sedang diam tertegun menunggu jawaban. Sedangkan, yang ditanya sedang khidmat membolak-balik secuil kenangan yang tiba-tiba datang menggelitik. Memang seperti itulah jika kita berbicara tentang…
Aku menatap bangunan di depan warung kopi ini. Mengetik balasan pesan singkat, memasukan perangkat genggam ke tempatnya, lalu tersenyum membayangkan kemungkinan babak kedua perbincangan dengan perempuan cantik di bangunan itu. Hujan memang masih mengguyur bumi cukup deras tetapi akan terlalu memakan waktu jika aku harus menunggunya sampai benar-benar reda. Lalu aku memutuskan untuk berlari cepat menabrak butiran-butiran air hujan yang jatuh ke bumi sesukanya tanpa memperdulikan apapun yang akan dihadapinya. “Kenapa gak nunggu berenti dulu sih !? Tunggu sebentar akan aku ambilkan kaus punya ayah.” setelah memberiku handuk kering perempuan itu mendengus kesal melihat lelakinya ini basah kuyup. Aku diam sebentar, tersenyum lalu menggangguk, malas…
Diujung pertanyaan aku bergegas berlari ke warung kecil yang berjarak sepelemparan batu dari bangunan tempat aku berbincang panjang enam puluh menit terakhir tadi. Warung ini tidak terlalu ramai hanya ada dua-tiga orang lelaki muda yang usianya aku taksir lebih kurang samalah dengan usiaku sekarang dan ditambah ibu pemilik warung beserta asistennya. Sembari menunggu pesanan kopi datang aku kembali dibuat tersenyum dengan perbincangan di bangunan yang letaknya persis berada ditempatku duduk sekarang ini. Tentang apa ?? Jika benar kau ingin tahu mohon tunggu sebentar dulu, aku harus menghisap satu-dua batang rokok yang sudah kutahan sedari tadi lagipula kopi hitam ini sudah…