Beberapa waktu yang lalu, sebelum saya pergi meninggalkan kota asal untuk bekerja di kota rantau, saya sempat berbisik pada Si Jagoan, “Dek, nanti ayah jemput, ya. Terus kita jalan-jalan, deh”. Ia tersenyum sebagai tanda sepakat dan tentu saja dengan harapan yang besar untuk Ayah menepati janji. Sore tadi, dua minggu setelahnya, saya melakukan panggilan video kepadanya, bertatap muka jarak jauh, untuk sekadar melepas rindu. Panggilan tersambung setelah nada tunggu ketiga. Neneknya yang menerima untuk kemudian beliau teruskan kepada Si Jagoan. Ia berlari ke arah yang berlawanan, menjauhi telfon genggam. “Gak mau” katanya kepada nenek. “Marah, Yah,” kata Nenek, “Ayah janji…
Sudah satu minggu semenjak nusantara dihebohkan oleh berita kecelakaan lalu lintas yang melibatkan salah satu seorang pejabat tinggi negeri. Berita kemudian berkembang dengan pelbagai bumbu yang mewarnainya. Beberapa orang melihat anomali dalam kasus kecelakaan tersebut. Setelah foto-foto dari TKP diperlihatkan kepada publik, berbagai analisis muncul. Sebagian menganalisis berdasarkan sudut pandang keilmuan tentang kecepatan, tumbukan yang terjadi antara benda yang statis dan dinamis. Sebagian lagi menganalisis dengan logika seadanya. Asal sekadar cukup untuk memadu padankan hubungan antara mobil, tiang dan benjol.
Frasa ‘kurang piknik’ kerap digunakan untuk menandai orang-orang yang dianggap memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap suatu hal atau bahasan tertentu. Biasanya orang-orang yang dilabeli ‘kurang piknik’ itu ia yang mudah tersinggung, marah-marah tidak jelas atau baper –jika boleh meminjam bahasa kekinian- ketika dalam suatu forum diskusi, di manapun itu, membahas hal yang boleh jadi tidak ia suka dan tidak ia sepakati. Malah dalam kasus yang lebih parah orang-orang ‘kurang piknik’ itu kerap muncul di waktu tak terduka. Ia hanya melihat, atau mendengar, namum merasa terlibat. Seolah dunia terlalu senggang dan cukup banyak waktu untuk membicarakan dirinya belaka.
Salah seorang pesohor di media sosial membuat sebuah kliping, potongan gambar berita daring, yang merekam sepak terjang perjalanan Sang Gubernur Ibukota dan, tentu saja, wakilnya semenjak pertama kali mereka menjabat sampai hari ini dan sampai kapan entah. Sebagian berita sempat saya baca utuh, untuk kemudian saya tertawa bahak (atau malah kesal bukan main) sebagian yang lain hanya saya baca judulnya saja untuk kemudian menggeleng heran. Dari banyak hal satu yang paling saya ingat adalah tentang keengganan Sang Wakil menggunakan sepatu pantopel sebagai alas kaki untuk ia berangkat kerja. Untuk kali ini saya ingin mengangkat tangan lima jari tinggi-tinggi kemudian berujar:…
Beberapa waktu yang lalu, di twitter, saya mengunggah tangkapan layar dari sebuah situs penyedia jasa kerja yang salah satunya adalah jasa menulis lepas. Beberapa orang teman yang memiliki minat sama dalam menulis memberikan respon untuk tangkapan layar yang saya unggah tersebut. Responnya mayoritas negatif. Saya menebak, mereka boleh jadi mengerenyitkan dahi ketika melihatnya. “Ini apa!?” Mungkin itu yang ada di benak mereka. Tambahkan tanda seru dan tanda tanya sekaligus jika diperlukan. Seratus biji. Bagaimana tidak, tangkapan layar itu menunjukan sebuah lowongan pekerjaan tulis lepas yang berisi persyaratan luar biasa njlimet dengan bayaran yang memprihatinkan. Rp 170.000 untuk 10 artikel. Sekali…
Bapak Anies, Bang Sandi saya tahu ini baru beberapa hari semenjak Anda berdua menjabat. Dan tentu saja belum gajian, yang berarti, kalau paket data Anda berdua habis, masih harus menunggu sampai akhir bulan sampai paket data itu kembali diperpanjang. Tapi setelah beberapa hari kerja, Anda berdua sudah tahu, lah ya, password wifi di balai kota. Atau paling enggak, sekarang sudah tidak terlalu malu, kan, kalau harus ikut tethering dari senior-senior di balai kota? Nah, jikalau begitu, setelah mendapatkan wifi tebengan tentu Anda dapat membaca tulisan ini, tulisan yang saya buat akibat ulah salah satu pemuja Anda berdua yang menghalalkan segala cara…