Pagi selalu membawaku pada satu nama yang diam-diam pulang ke dalam doa, pada seseorang yang terbiasa menahan lebih banyak dari yang ia bagi, dan merasa cukup bahkan sebelum benar-benar mencoba. Aku mengenalmu dari hal-hal yang tidak kamu ucapkan, dari batas yang kamu bangun sendiri, dari langkah yang kamu hentikan sebelum sempat sampai. Hingga aku mengerti, bahwa tidak semua yang dekat harus dimiliki, dan tidak semua yang ingin perlu diperjuangkan. Maka aku memilih mencintaimu dengan cara yang paling tenang, tanpa memaksa, tanpa mengejar, tanpa harus sampai. Aku menyayangimu dalam diam yang panjang, dalam jarak yang tidak pernah benar-benar dekat. Dan mungkin, pada akhirnya, cukup mengetahui bahwa kamu ada dan hidup , itu sudah cukup.
Di antara gelas yang mencair dan pintu yang akhirnya tertutup rapat, aku belajar bahwa melepaskan bukan berarti berhenti peduli, tapi berhenti menjadi ruang tunggu bagi seseorang yang bahkan tidak pernah berniat untuk benar-benar menghuni. Karena pada akhirnya, semesta tetap berjalan dengan acuh, membiarkan kita memahami secara mandiri bahwa cinta yang tidak bisa dimiliki memang selalu punya cara paling jeli untuk melukai.
Aku menjalani hidup yang tenang, dan kamu juga, sampai kita dipertemukan lagi di waktu yang tidak memberi ruang untuk menjadi apa-apa.
Awalnya biasa saja, lalu berubah pelan, menyisakan hal-hal kecil yang tinggal lebih lama dari seharusnya.
Kita tahu batas itu ada, dan untuk pertama kalinya aku mengerti, aku kalah tanpa pernah benar-benar bertanding.
Aku tidak menyesal, hanya sadar tidak semua yang terasa tepat harus menjadi milik.
Jika mesin waktu itu ada, aku hanya ingin kembali untuk tidak melewatkan.
Dan ketika itu tidak mungkin, aku hanya bisa membiarkanmu tetap ada, dekat tapi tidak pernah bisa menjadi.
“Iya. Sudah pembukaan, Pak. Tapi baru pembukaan satu”. Perawat berusaha menjelaskan kondisi istri yang kini terbaring di ranjang instalasi gawat…
Sudah beberapa hari berlalu dan ternyata benar, yang paling menyebalkan dari kembali bekerja setelah libur cukup panjang bukan tentang bagaimana…
Jam dinding berdetak menawarkan bunyi syahdu di tengah malam yang temaram. Dari kejauhan, sayup-sayup asma Tuhan menggema bersahutan. Di antara…
