Sabtu Bersama Bapak

22 mins read
6

Hanya sedikit sekali film yang diadaptasi dari sebuah buku yang berhasil memuaskan penontonnya. Atau lebih tepatnya memuaskan penonton yang sudah membaca bukunya. Film Jomblo yang juga diadaptasi dari buku Adhitya Mulya menuai sukses besar di pasaran, tapi saya tidak (belum) membaca novelnya. Jadi saya tidak bisa memastikan bagaimana film itu jika dibandingkan dengan bukunya. Tetapi untuk Sabtu bersama bapak saya membaca bukunya terlebih dahulu dan saya pikir Sabtu bersama bapak edisi film tidak termasuk dari bagian yang sedikit itu. Ia tergabung dalam banyak sekali film adaptasi buku yang ketika filmnya selesai akan membuat penontonnya bergumam sambil melempar sisa popcorn “Yaelah, gini doank??”.

Gunawan Garnida yang diperankan oleh Abimana Aryasatya jauh lebih muda ketimbang Itje Garnida yang diperankan oleh Ira Wibowo. Ketimpangan usia ini tidak bisa ditutupi meskipun muka keduanya dimodifikasi sedemikian rupa oleh balutan make-up entah ketika Abimana dibuat tua, ataupun ketika Ira dibuat muda. Sama saja. Tapi baiklah, hal itu tidak mempengaruhi jalannya cerita. Sama tidak berpengaruhnya dengan ditemukannya nama Sapta Garnida pada sertifikat kelulusan Satya pada awal-awal cerita ketika film baru saja dimulai. Atau ketika saya melihat botolan alkohol di rumah Satya yang dalam buku diceritakan sebagai sosok yang cenderung religius. Ah, tapi sekali lagi. Dengan beberapa hal seperti itu, cerita dalam film akan tetap berjalan tanpa mempengaruhui kualitasnya.

Review-SabtuBersamaBapak-Movie

Penurunan kualitas cerita baru bisa dirasakan pada beberapa belas menit berikutnya. Seperti yang terjadi pada rumah tangga si sulung misalnya. Konflik-konflik yang ada dalam kehidupan rumah tangga Satya (Arifin Putra) dan Risa (Acha Setriapsa) sangat jauh berbeda dengan apa yang ditulis di dalam buku. Saya bisa memaklumi keputusan tempat tinggal mereka yang dipindahkan dari Copenhagen-Denmark ke Paris-Prancis. Tapi, ah pada tulisan ini saya berusaha keras sekali untuk tidak membeberkan isi cerita yang ada pada film. Tapi yang pasti Anda tidak akan menemukan momen-momen dimana perubahan Satya dari sosok bapak dan suami yang temperamen kemudian pelan-pelan berubah menjadi sosok bapak dan suami yang dirindukan dan membanggakan. Apalagi dengan sangat kaku dan anehnya karakter Ryan dan Miku yang diperankan oleh, hei, sebentar, kemana Dani? Kenapa Dani tidak ada? Dihilangkannya karakter Dani secara otomatis akan menghilangkan beberapa “nasihat bapak” yang saya pikir sangat sayang untuk tidak disampaikan di dalam film.

Menikah itu banyak tanggung jawabnya. Rencanakan. Rencanakan untuk kalian. Rencanakan untuk anak-anak kalian.

-Gunawan Garnida ; Sabtu bersama bapak.-

Berkebalikan dengan konflik-konflik pada kehidupan Satya yang dipangkas sedemikian rupa, kehidupan Cakra justru tampak begitu ditonjolkan. Cakra yang diperankan oleh Deva Mahenra… eh, sebentar sebelum dilanjutkan saya cukup penasaran alasan apa yang digunakan oleh Deva, yang notabene sedang naik daun, ketika menerima peran sebagai Cakra. Di dalam buku, sosok Cakra digambarkan sebagai lelaki payah, dan … jelek.  Ah sudahlah meski begitu akting Deva dalam memerankan tokoh Cakra menurut saya begitu baik, mungkin yang terbaik di film ini. Kikuknya Satya, yang diceritakan sudah lama menyandang status jomblo di usianya yang mencapai kepala tiga, ketika berurusan dengan wanita tampak begitu natural. Meski beberapa kali setiap kali saya melihat Cakra saya jadi teringat sosok Bastian yang juga diperankan oleh Deva Mahenra pada sitkom Tetangga masa gitu.

Seperti yang saya sampaikan di atas, kehidupan Cakra di film ini begitu ditonjolkan. Alasannya boleh jadi karena menonjolkan kehidupan Cakra yang jomblo yang diintimidasi sedemikian rupa karena statusnya akan jauh lebih diterima dan lebih menyenangkan ketimbang menonjolkan konflik rumah tangga yang berat. Bukankah masyarakat negeri ini memang lebih suka yang seperti itu? Mungkin alasan itu jugalah yang membuat film-film bertemakan komedi nampak lebih laku di negeri ini. Seperti film-film yang diperankan oleh para pelawak tunggal, yang separah apapun kualitas filmnya akan selalu mendulang rupiah yang banyak untuk para pembuatnya. Ah, iya kembali ke Sabtu bersama bapak, demi alasan komedi ini jugalah peran Firman (Ernest Prakasa) dan Wati (Jennifer Arnelita) harus ditambahkan sedemikian banyak. Meski Ernest dan Jennifer memainkan peran mereka dengan sangat baik, kehadirannya malah membuat film Sabtu bersama bapak lebih seperti film komedi ketimbang film keluarga.

Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan. Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain.

-Cakra Garnida mengutip nasihat bapak. Sabtu bersama bapak-

Kejombloan Cakra ,yang saya anggap untuk menaikan minat masyarakat negeri ini untuk menonton Sabtu bersama bapak, malah menjadi hal paling fatal dalam penurunan kualitas film. Demi menonjolkan unsur komedi nasihat-nasihat bapak, yang seharusnya menjadi daya tarik film ini, hanya muncul beberapa kali saja. Sejauh yang saya ingat, nasihat bapak untuk Cakra hanya muncul dua kali. Yang pertama tentang harga diri, dan yang kedua tentang bagaimana kedua pasangan harus saling menguatkan. Sebetulnya kedua nasihat itu sudah cukup bagus. Hanya saja, rasanya jika satu-dua nasihat lain ditambahkan tentu saja akan lebih bagus. Ah, iya tentang nasihat. Satya di film ini lebih banyak mengejewantahkan nasihat bapak. Bisa kita lihat pada beberapa adegan flashback bapak dengan Satya atau pada adegan-adegan bapak di dalam video. Yah meskipun, untuk isi, nasihat-nasihat untuk Satya cukup jauh dengan yang ditulis dibuku.

Terakhir untuk Ayu, gadis idaman Cakra. Pada buku Ayu diceritakan cukup banyak sekali meskipun hanya di beberapa bagian saja peran ayu dikuatkan, sedikit sekali. Tapi sedikitnya peran Ayu itu cukup penting untuk menentukan akhir cerita Sabtu bersama bapak. Dan di film, peran yang sedikit itu dibuat lebih sedikit. Di film, karakter Ayu yang diperankan oleh Sheila Dara Aisha hanyalah karakter pasif. Dengan dialog singkat seolah hanya untuk melengkapi dialog pemeran lain. Padahal saya menunggu bagaimana perjuangan Ayu yang diceritakan di bagian akhir buku. Selain itu, melihat Sheila Dara berlama-lama akan menjadi bonus yang mantap untuk saya yang merasa bosan sekali berada lama-lama di bioskop sepanjang film ini berlangsung.

“Loh, kok jadi gitu. Bukannya gini ya. Itu kemana”

Boleh jadi kalimat-kalimat itulah yang akan muncul jika Anda memutuskan menonton film ini bersama teman yang juga membaca buku Sabtu bersama bapak. Memang sulit memasukan semua cerita buku kedala film yang berdurasi terbatas. Akan tetapi, sungguh sebuah kesalahan jika harus menghilangkan beberapa bagian penting dan menggantinya dengan bagian yang.. ah, begitulah. Sabtu bersama bapak edisi film adalah sebuah perpaduan antara film komedi yang ditambahkan adegan kekeluargaan. Jangan terbalik. Sebagai penikmat bukunya, boleh jadi Anda akan merasa kecewa, kecuali Anda termasuk orang yang sensitif terhadap hal yang berkaitan dengan keluarga, pada beberapa adegan boleh jadi Anda akan terbawa suasana dan diaduk-aduk emosinya. Berita baik untuk Anda yang kebetulan belum membaca bukunya, saya pastikan Anda akan menikmati film ini, mungkin untuk Anda bahas di acara santap malam bersama keluarga dirumah.

Sekali lagi. Ingat. Jangan pernah Anda berupaya untuk menjadi seperti Gunawan Garnida.

Review-Banner-SabtuBersamaBapak

 Untuk membaca ulasan buku Sabtu bersama Bapak

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

6 Comments

  1. Adhitya Mulya ini penulis yang transisinya berasa banget. Saya penggemarnya. Semua karyanya sudah saya baca. Jomblo sampai ke SBB, perubahan menulisnya step by step menuju jenjang yang berbeda, yang lebih dewasa. Tapi humornya yang slapstick tetap bertahan. Nah SBB ini karya paling sederhana dan dewasa banget dari Adhitya Mulya. Always related ke pembaca.

    Sayang banget filmya saya nggak sempat nonton versi filmnya. Kalaupun memang tidak sebagus filmnya, semoga itu cuma perbedaan selera dari visual ke audiovisual saja. Esensinya tetap sama.

    Dan yang pasti, cinta saya kepada Acha Septriasa adalah utuh adanya. Semoga dia bisa merasakannya.

  2. bang Andhika,
    saya gak bahas buku #sabtubersamabapak nya yaaa…

    Saya ingin membahas tulisan Bang Andhika.
    Kereen banget, bang nulis reviewnya.

    Bisa ga ada spoilernya gitu yaa…

    Saya nge fans niih…sama blognya.
    Haturnuhun Bang.

  3. Wihh, harusnya saya yang haturnuh teh. Mugi betah didieu (Duh ga enakeun saya kalau pake bahasa sunda).

    Emm, soalnya saya gak suka baca atau denger spoiler, jadi sebisa mungkin gak boleh ada spoiler di tulisan saya. Cuma gitu aja kok alasannya. 🙂

  4. Saya menyukai buku dan filmnya, banyak nasihat bermanfaat yang bisa diambil.
    Tapi memang enggak cukup membuat saya ingin mengulang menikmatinya.
    Btw, ini kunjungan pertama ke blog Andhika, sangat keren blognya ^_^

    • Terima kasih Teh Eva kunjungannya, semoga betah dan sering mampir. Iya sepakat banget, pas pertama kali baca pun ngerasa : “Wah ini buku bagus” tapi gak tertarik untuk baca ulang, lalu kemudian karena mau difilmin aja saya sempetin baca ulang. Dua tahun kemudian.

      Btw, semoga “sangat keren blognya” itu untuk isi ya, Mbak. Bukan tampilan saja :p

write your comment / request below

%d blogger menyukai ini: