Ada jenis rasa sakit yang sangat spesifik ketika kita menyadari bahwa kebahagiaan hari ini tidak akan diingat oleh orang di samping kita saat esok tiba. Melalui ulasan film One Day ini, kita akan membedah bagaimana sebuah ketulusan diuji dalam ruang sempit berdurasi dua puluh empat jam. Ini bukan sekadar cerita tentang cinta beda kasta, melainkan tentang pengorbanan sunyi seorang pria yang memilih untuk menjadi “tidak ada” demi menjaga dunia orang yang ia cintai tetap utuh. Kita akan diajak melihat bagaimana detail-detail kecil yang dianggap sampah oleh dunia justru menjadi bahasa kasih yang paling jujur. Sebuah refleksi getir bahwa yang paling menyakitkan bukanlah kegagalan untuk bersatu, melainkan keputusan untuk kembali menjadi asing saat kita sebenarnya punya kunci untuk menjadi segalanya. Bersiaplah untuk bertemu dengan jenis kesedihan yang laku, yang akan membuat Anda terdiam lama setelah layar menjadi gelap
Tak ada yang lebih tabah, dari hujan bulan Juni. Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu. Tak ada yang lebih…
Sedikit nasihat: Jika nanti suatu saat kamu mulai menyadari ada yang sesuatu yang berbeda di hubungan yang sedang kamu jalani,…
Jika kamu melihat Endgame sebagai sebuah film tunggal. Film ini mungkin akan terasa biasa-biasa saja. Tapi sayangnya, Endgame adalah sebuah kesatuan film yang ‘dibuat’ selama sebelas tahun yang tak terpisahkan. Endgame adalah penutup yang mengesankan dari dua puluh satu perjalanan.
Saya pernah terjebak beberapa kali di lingkaran setan bernama koleksi. Jika dihitung sudah ada beberapa jenis barang yang saya cari…
Untuk urusan gadget dan telepon genggam, saya pernah berada di fase hedon di mana saya merasa perlu untuk berganti perangkat…
