“Sudah ngajuin cuti?” Bulan ketiga di tahun ini. Sudah waktunya mempersiapkan segala sesuatu untuk menepikan sejenak rutinitas demi membagi waktu untuk Si Kecil yang akan berulang tahun di bulan depan. Setidaknya, itulah yang biasa kami lakukan di tiga tahun terakhir ini. “Sudah. Kamu, sudah?” pertanyaan itu kembali padaku. Aku menggeleng, menunggu momen yang pas, kataku kemudian. Rencananya memang di minggu-minggu ini aku baru berencana mengajukan cuti. Birokrasi pengajuan cuti di tempatku bekerja memang tidak terlalu sulit. Namun, mengingat kekosongan beberapa posisi di divisi tempatku bertugas, aku harus memutar otak untuk alasan cuti yang masuk akal.
Saya yang arogan sudah amat sangat terbiasa menerima pujian ketika ada seseorang yang datang berkunjung membaca tulisan saya. “Tulisannya bagus. Ceritanya mengalir”, “Kok bisa sih nulis kaya gini. Ingin bisa!”, “Baru mampir sudah suka sama tulisannya”, adalah beberapa contoh ‘pujian’ yang biasa saya dapatkan. Ya, meskipun yang terakhir disebutkan adalah sebuah draf busuk yang mungkin juga ada di blog-blog kamu semua. Yang lain sisanya? Ya, banyak. Bahkan saya cenderung bosan dengan puja-puji yang datang di hampir setiap tulisan yang saya buat. Tidak usah kamu bayangkan, berat, biar saya saya. Tapi jika mau, kamu harus menjadi saya untuk merasakannya. Ya, menjadi…
Populasi adalah sekumpulan individu dengan ciri-ciri sama (satu spesies yang sama) yang hidup dalam tempat dan waktu yang sama. Kemudian ia tumbuh bersama-sama bersama satu atau dua atau lebih kumpulan itu melakukan hubungan timbal balik dengan habitat atau lingkungannya sehingga timbul suatu kesatuan ekologi yang dinamakan ekosistem. Saya ingin membahasnya lebih jauh. Tetapi biologi, sudut keilmuan yang membahas tentang rangkaian individu-populasi-komunitas-ekosistem, adalah salah satu mata pelajaran yang paling saya benci. Saya mendapatkan remedial di hampir setiap ulangan. Jadi saya akan mencoba membahasnya dari sudut pandang keilmuan yang lain. Yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari sebagai individu, sebagai manusia. Dari sudut…
“Loh, sendirian aja, Mas?” seorang pramusaji, sembari memberikan daftar menu, bertanya dengan dahi yang berkerenyit. Aku menatap ke seberang meja. Di sana tak ada lagi dia yang biasanya diam berpangku dagu seolah segala kata, rindu dan apalah entah dapat diejawantahkan dengan diam belaka.”Iya, Mbak” aku tersenyum sembarang, memesan kentang goreng dan frozen hot chocolate tanpa merasa perlu melihat menu, “dan berikut-berikutnya juga sendirian” lanjutku pelan. Ia tersenyum, dengan tulus, membacakan kembali pesananku sebagai prosedur pelayanan dan memastikannya tidak salah. Aku mengacungkan jempol sebagai tanda kesepakatan. Setelah ia pergi, aku membuka laptop. Menutup mata sekejap, menghela nafas. Dan kemudian sebuah cerita…
Tepat satu tahun yang lalu, saya ingat betul sedang melakukan hal yang sama persis dengan apa yang saya lakukan malam ini. Menulis. Yang membedakan adalah ketika itu saya menulis di dalam bangsal rumah sakit demi menemani ia yang terpaksa sakit. Menjadi cerita akhir tahun yang tidak menyenangkan. Dan sekarang saya di kamar Selebihnya sama: di tengah ruangan yang gelap, beberapa waktu setelah tengah malam, ia terbaring lelap dan sepi dan membiarkan tangan saya menari di atas tuts keyboard guna membuat rangkaian kalimat untuk tulisan penutup di tahun yang sebentar lagi berganti.
Saya yang sedang mencoba mempelajari kembali Bahasa Indonesia sempat menjadi menyebalkan ketika, dalam beberapa kasus tertentu, selalu mencoba memperbaiki bahasa orang-orang di lingkaran saya, terutama bidang tulis di situasi formal, agar sesuai dengan kaidah kebahasaan. Setidaknya dengan informasi yang saya ketahui belaka. Saya cukup sebal ketika menerima surel resmi dari rekan kerja –atau malah pihak luar dengan tanda baca yang berantakan atau menggunakan kata-kata yang biasa digunakan dalam percakapan non-formal. Lama-lama saya, yang masih bodoh, mulai memaklumi dua hal tadi. Pikir saya tidak semua orang, kan, mau atau peduli dengan kaidah kebahasaan. Jika saya sedang tidak berusaha kembali belajar, tampaknya,…