Sebelum Anda membaca tulisan ini ada baiknya, agar tulisan ini lebih dapat dikhidmati, Anda menutup mata sejenak. Kemudian membayangkan sebuah ikatan persahabatan yang Anda bina, bersama sahabat-sahabat Anda, tentu saja. Di mana canda, tawa, susah, senang menjadi hal yang luar biasa yang membuat ikatan persahabatan itu menjadi sedemikian kuat. Dan suatu ketika mereka, sahabat-sahabat Anda itu, hilang entah pergi atau mati, meninggalkan Anda sendirian. Satu per satu. Hingga akhirnya menyisakan Anda seorang belaka dalam kesepian. Sudah? Jika sudah, maka biarkanlah saya menceritakan suatu hal tentang kehilangan dan persahabatan.
Dalam rentang waktu satu minggu terakhir saya mengambil cuti dari tempat saya bekerja. Dalam rentang waktu tersebut saya juga menyengajakan diri keluar, untuk sementara waktu, dari dunia daring. Media sosial, grup-grup aplikasi percakapan, bahkan surel kantor, yang biasanya harus saya tanggapi, kini terpaksa saya abaikan. Tentu saja ada pengecualian yang saya lakukan untuk beberapa hal yang amat sangat mendesak. Pada periode waktu tersebut, saya melakukan beberapa hal yang tidak biasanya saya lakukan. Seperti misalnya menyalakan televisi di pagi hari. Ini menarik, karenanya saya jadi mengetahui Arsya, anak kedua dari Mas Anang dan istri, telah lahir dengan begitu menggemaskan. Ia, diberitakan,…
Jika kelak saya memiliki karir yang baik dalam dunia kepenulisan. Saya akan menandai tahun dua ribu enam belas sebagai awal mula saya belajar menulis. Lalu apa yang terjadi dengan tulisan-tulisan saya sebelum itu? Jika Anda pernah membacanya lalu ingin meludahi tulisan-tulisan lama saya. Mari, saya akan dengan senang menemani Anda. Apakah berarti saya tidak menghargai tulisan saya sendiri? Bukan. Justru sebaliknya, saya ketika itu benar-benar tidak pernah menghargai apa yang namanya belajar. Proses. Oleh karena itu saya jauh sekali dari pantas untuk disebut sebagai penulis. Namun, apabila Anda sekarang ini, pada tulisan-tulisan saya yang baru, masih ingin meludahinya. Sebentar dulu,…
Matahari sudah bersiap untuk pulang, cahayanya tak lagi hangat, digantikan senja yang begitu memesona. Di suatu bukit yang ribut terlihat seekor anjing liar kecil yang melangkah gontai, dengan kepala tertunduk berjalan dengan ekor menyentuh tanah, tak ada semangat barang sedikitpun. Seolah segala beban dalam kehidupan anjing sedang ia pegang. Pada waktu yang berkelebat Si Anjing kecil kini tertelungkup di sebuah batu besar, “huh,” menghembuskan nafasnya pelan, matanya nanar memandang ke jauh entah. Pada waktu yang bersamaan, diiringi matahari yang undur diri, Ibu Si Anjing kecil datang menenangkan seperti bagaimana biasa yang dilakukan oleh ibu dalam kategori dunia manapun, “Oi, kenapa…
“Bro, ayo siap-siap. Tenggo, kan?” aku melihat jarum panjang pada jam tangan yang kukenakan, menepuk dahi, lalu menjawab pertanyaan temanku tadi dengan sebuah tatapan heran. Astaga, ini baru jam empat lewat lima puluh lima menit, dan kau sudah siap untuk pulang? Aku memerhatikan kembali layar monitor, memeriksa beberapa file yang masih terbuka. Sepuluh menit waktu yang aku habiskan untuk memastikan semua pekerjaan hari ini benar-benar telah selesai. Sempurna, tak ada hutang pekerjaan untuk besok pagi. Aku mengangguk, “sip, sudah selesai. Kau tak keberatan menunggu tiga sampai lima menit, kan?” kali ini giliran aku yang bertanya. Sigit, teman yang aku tanya mengerenyitkan…
Siang hari, 8 Maret 2017. Langkah ku tepat di belakang asisten rumah tangga yang tadi membukakan pintu lalu kemudian mempersilahkanku masuk. Aku terus mengekor langkah sang asisten rumah tangga tersebut hingga ke sebuah ruang yang di dominasi rak buku berwarna coklat tua dengan deretan buku yang tergolong banyak. Sesaat setelah menyiapkan dua buah kursi yang dipisahkan dengan sebuah meja yang berbentuk artistik, sang asisten rumah tangga itu meninggalkanku menunggu dengannyaman orang yang memang ingin ku temui hari ini. Seseorang yang memiliki hunian mewah nan asri di Forte dei Marmi ini, jelas bukan sosok yang biasa biasa saja. Sudah sejak lama…