Apa yang terjadi pada linimasa media sosial milik kita amat sangat dipengaruhi oleh lingkaran sosial tempat kita bernaung. Saya, sebagai contoh, pernah memiliki siklus linimasa yang melulu tentang sepak bola ketika saya masih aktif di sebuah komunitas pecinta salah satu klub sepak bola. Membosankan? Boleh jadi. Hampir di setiap waktu, tujuh hari dalam seminggu, apa yang berputar di dalam media sosial hanya lah tentang sepak bola. Dari mulai berita, hasil pertandingan, lelucon, atau apa pun selama bersinggungan dengan klub sepak bola tersebut. Saya lelah, tentu saja, oleh karenanya saya merasa harus mengubah atau setidaknya menambah hal-hal baru di dalam lingkaran…
Saya pernah menuliskan sebelumnya tentang beberapa hal yang acap kali membuat saya tidak bisa menulis. Beberapa diantaranya adalah tentang sesuatu hal yang saya sukai dan atau sesuatu yang saya prioritaskan. Meski akhirnya sama, membuat ide-ide yang ada di kepala tertunda untuk saya tuangkan ke dalam tulisan. Atau malah, yang lebih parah, tidak pernah ditulis sama sekali. Namun pada tulisan tersebut ada satu hal lain yang lupa saya sebutkan: menonton film. Ia memberikan pengaruh yang sama besarnya terhadap kemungkinan saya untuk tidak menulis.
Tarikan nafas dalam atas sebatang rokok dengan huruf berwarna merah dan hitam di muka bungkus nya, menjadi hal pertama yang menyentuh bibir ku. Sebotol whisky yang tak penuh sisa semalam di sisi kanan seperti sedang bersiap jika aku butuh tameng dari hembusan kejam angin Samudera Adriatic. Waktu di awal Juli ketika belum di mulai nya aktivitas rutin mengenai sepakbola begitu ku nikmati terutama di usia ku yang tak lagi muda. Aku tak perlu lagi sesibuk di masa lalu untuk menelpon atau menerima panggilan telepon dari banyak agen yang bahkan tak satu pun ku ingat nama nya yang dengan mulut manis…
Saya cukup banyak melewatkan detail-detail pada banyak sekali hal yang terjadi selama lebih kurang sepuluh hari terakhir. Kematian Chester Bennington, misalnya, saya hanya mengetahui sekelebat belaka informasinya. Untuk detail? Tidak sama sekali. Sama halnya dengan banyak informasi lain yang saya lewatkan. Perangkat genggam yang rusak ditambah jaringan internet yang busuk menjadi salah satu alasannya. Alasan lain? Saya sedang berada dalam tugas yang luar biasa menguras waktu, tenaga dan juga pikiran. Di tempat yang jauh dari rumah. Sebelah timur Indonesia, ibukota Sulawesi Tenggara. Kendari.
Saya akan dengan tegas menjawab: Indomie adalah salah satu hal terbaik yang pernah ditemukan oleh manusia. Dengan doa setulus hati, saya akan mendoakan penciptanya untuk mendapatkan tempat terbaik di kehidupan yang nanti. Bagaimana tidak, Indomie hadir dengan membawa manfaat yang teramat untuk umat. Ia menabrak batas-batas budaya, kesukuan dan juga bahkan agama. Ia sama sekali tak memedulikan status sosial penikmatnya, tak merasa perlu bertanya ‘siapa kamu, dari mana asalmu’ dan paling utama: ia akan selalu ada dan berlipat ganda. Dan separuh doa yang sama saya haturkan juga kepada manusia kurang kerjaan yang mengolah cabai atau cengek atau apa lah itu…
Jahanamnya kemacetan ibukota adalah kelaziman. Ia terjadi setiap hari, seperti sekarang ini ketika aku berada di tengah-tengahnya. Suara klakson saling bersahutan berelaborasi menjadi sebuah simfoni yang merdu, namun tetap saja menjemukan. Sinar matahari di luar sana sudah sedemikian terik. Kekhawatiran terlambat untuk segala aktivitas mulai terlihat melalui wajah-wajah cemas anak manusia di dalam bus kota. Ya, aku berada di antaranya. Dalam kondisi seperti ini apa yang bisa kulakukan selain diam, melamun menunggu bosan. Aku melihat arloji di tangan kiriku. Jam delapan lewat dua puluh dua menit, dalam lamunan itu pikiranku berkelebat ke waktu beberapa tahun yang silam. Waktu yang sama,…