Ada orang-orang yang datang sebagai rekan kerja, lalu perlahan mendekat, melekat, dan akhirnya menjadi bagian dari hidup yang sulit dilewatkan. Bersama mereka, saya belajar bahwa sebuah tim tidak hanya dibangun oleh target dan angka, tetapi juga oleh tawa, luka, serta ruang untuk saling tumbuh menjadi lebih utuh dan lebih teduh. Tulisan ini adalah catatan tentang perjalanan itu—tentang halaman yang ditulis bersama, tentang perpisahan yang tetap menyisakan jejak, dan tentang nama-nama yang diam-diam terus tinggal dalam ingat.
“Loh, sendirian aja, Mas?” seorang pramusaji, sembari memberikan daftar menu, bertanya dengan dahi yang berkerenyit. Aku menatap ke seberang meja….
Sebelum Anda membaca tulisan ini ada baiknya, agar tulisan ini lebih dapat dikhidmati, Anda menutup mata sejenak. Kemudian membayangkan sebuah…
Matahari sudah bersiap untuk pulang, cahayanya tak lagi hangat, digantikan senja yang begitu memesona. Di suatu bukit yang ribut terlihat…
“Karena ga semua hal baik buat orang, baik juga buat kita, atau sebaliknya” Kemaren adalah hari broadcast dan copy paste…
