Belakangan ini banyak hal yang terjadi di Indonesia yang mendapat perhatian dunia internasional. Yang menyenangkan, perhatian yang datang tidak melulu karena hal negative seperti apa yang terjadi di masa lalu. Seperti misalnya, penyanyi dan musisi asal Indonesia yang mendapatkan atensi di kancah musik internasional, lakon film yang diputar dan mendapat penghargaan di berbagai festival film mancanegara. Yang terbaru, masih dari industri hiburan, ada Guklabs-Games Developer asal Jakarta yang menarik perhatian dunia lewat WISGR game yang akan segera mereka rilis.
Saya memang menyukai dunia baca. Tak terlalu lama semenjak saya mampu mengeja alfa beta. Namun, ketika itu, yang saya baca adalah cerita bergambar. Selain buku cetak pelajaran di sekolah, saya merasa tak sudi untuk berlama-lama menyelam di barisan kata yang panjang. Dewi Lestari, bersama karya-karyanya mengubah itu semua. Akar, bagian kedua dari Supernova, adalah barisan kata panjang pertama yang saya baca utuh. Tanpa Jeda. Dan saya jatuh cinta. Dengan semua yang ada di dalamnya, saya begitu tergila-gila. Imajinasi saya meliar. Dan saya berada dalam sensasi yang luar biasa. Sensasi yang tidak pernah saya dapatkan ketika saya membaca cerita yang disempitkan…
Saya tersenyum kecut ketika melihat pemberitaan di media, baik cetak maupun digital, terkait isu telur palsu. Alasan-alasan yang dikemukakan, bagaimana kemudian (yang dianggap) telur palsu itu didemonstrasikan. Untuk memperkuat isu tersebut beredar pula sebuah video yang berjudul: ‘inilah pembuatan telur palsu’ dengan tambahan caption yang berlebihan. Padahal, isi dari video tersebut adalah proses pembuatan mainan yang berbentuk… telur. Yang paling konyol, banyak banget orang yang termakan isu sampah tersebut. Astaga, saya menjadi sangat yakin bahwasanya lulus ujian nasional sama sekali tidak mencerminkan isi otak. PR menteri pendidikan menjadi semakin berat.
Ketika saya sedikit lebih muda, saya tidak memiliki minat yang berlebih terhadap sepatu kulit. Alasannya sederhana, saya belagu dengan selalu menggunakan sepatu gaya dengan merk-merk ternama. Dan untuk sepatu kulit, merk-merk ternama itu memberikan harga yang luar biasa gila. Tambahkan sedikit, saya bisa memiliki sepatu main yang lebih cocok dengan cara saya berpenampilan. Sedangkan, untuk membeli sepatu kulit merk-merk lokal. Kualitas, ketahanan, model. Aduh, saya tidak pernah benar-benar percaya, sih, sama merk lokal. Dan untuk urusan ini saya rasa, dan saya cukup yakin, saya tidak sendirian.
“Sudah ngajuin cuti?” Bulan ketiga di tahun ini. Sudah waktunya mempersiapkan segala sesuatu untuk menepikan sejenak rutinitas demi membagi waktu untuk Si Kecil yang akan berulang tahun di bulan depan. Setidaknya, itulah yang biasa kami lakukan di tiga tahun terakhir ini. “Sudah. Kamu, sudah?” pertanyaan itu kembali padaku. Aku menggeleng, menunggu momen yang pas, kataku kemudian. Rencananya memang di minggu-minggu ini aku baru berencana mengajukan cuti. Birokrasi pengajuan cuti di tempatku bekerja memang tidak terlalu sulit. Namun, mengingat kekosongan beberapa posisi di divisi tempatku bertugas, aku harus memutar otak untuk alasan cuti yang masuk akal.
Saya yang arogan sudah amat sangat terbiasa menerima pujian ketika ada seseorang yang datang berkunjung membaca tulisan saya. “Tulisannya bagus. Ceritanya mengalir”, “Kok bisa sih nulis kaya gini. Ingin bisa!”, “Baru mampir sudah suka sama tulisannya”, adalah beberapa contoh ‘pujian’ yang biasa saya dapatkan. Ya, meskipun yang terakhir disebutkan adalah sebuah draf busuk yang mungkin juga ada di blog-blog kamu semua. Yang lain sisanya? Ya, banyak. Bahkan saya cenderung bosan dengan puja-puji yang datang di hampir setiap tulisan yang saya buat. Tidak usah kamu bayangkan, berat, biar saya saya. Tapi jika mau, kamu harus menjadi saya untuk merasakannya. Ya, menjadi…