Scroll to top

Esai

andhikamppp
Posted by andhikamppp
13 December 2018

Saya dan Petisi yang Sedang Ramai

Dulu. Dulu sekali. Saya sempat mempertanyakan dampak dari petisi-petisi yang dibuat di salah satu media penyedia petisi daring. Maksud saya, apakah dari ratusan atau ribuan petisi yang dibuat itu menghasilkan sesuatu seperti apa yang diharapkan oleh si pembuat petisi. Beberapa waktu berikutnya berlalu. Hari ini saya mendapatkan jawabannya. Ya. Banyak dari petisi itu yang memberikan hasil. Salah satu contohnya yang menghebohkan, yang beberapa hari terakhir berseliweran di linimasa semua sosial media, tentang permohonan penghapusan iklan sebuah market place yang dibintangi Blackpink, vokal grup wanita asal Korea Selatan. Lebih dari 100.000 orang menandatanganinya, yang berarti setuju, bahwa iklan tersebut harus dihapuskan. Dan demikian pula lah yang terjadi kemudian. Komisi penyiaran ‘memerintahkan’ seluruh media televisi menurunkan iklan tersebut. Lucu.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
29 March 2018

Telur & Makanan Palsu

Saya tersenyum kecut ketika melihat pemberitaan di media, baik cetak maupun digital, terkait isu telur palsu. Alasan-alasan yang dikemukakan, bagaimana kemudian (yang dianggap) telur palsu itu didemonstrasikan. Untuk memperkuat isu tersebut beredar pula sebuah video yang berjudul: ‘inilah pembuatan telur palsu’ dengan tambahan caption yang berlebihan. Padahal, isi dari video tersebut adalah proses pembuatan mainan yang berbentuk... telur. Yang paling konyol, banyak banget orang yang termakan isu sampah tersebut. Astaga, saya menjadi sangat yakin bahwasanya lulus ujian nasional sama sekali tidak mencerminkan isi otak. PR menteri pendidikan menjadi semakin berat.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
27 March 2018

Sepatu Lokal

Ketika saya sedikit lebih muda, saya tidak memiliki minat yang berlebih terhadap sepatu kulit. Alasannya sederhana, saya belagu dengan selalu menggunakan sepatu gaya dengan merk-merk ternama. Dan untuk sepatu kulit, merk-merk ternama itu memberikan harga yang luar biasa gila. Tambahkan sedikit, saya bisa memiliki sepatu main yang lebih cocok dengan cara saya berpenampilan. Sedangkan, untuk membeli sepatu kulit merk-merk lokal. Kualitas, ketahanan, model. Aduh, saya tidak pernah benar-benar percaya, sih, sama merk lokal. Dan untuk urusan ini saya rasa, dan saya cukup yakin, saya tidak sendirian.

Read More
Pram Ichanx
Posted by Pram Ichanx
19 February 2018

Pada Sebuah Kereta

Hilir mudik para penumpang tampak tidak terlalu padat di Stasiun Barcelona Sants ketika aku tiba. Entah karena ini bukan akhir pekan atau memang aku tiba di waktu dimana banyak orang sedang menyantap makan siang atau mungkin siesta sebelum kembali beraktivitas. Belum tepat pukul 1 siang ketika aku memutuskan mendaratkan tubuhku di deretan bangku kosong berwarna gelap seraya menunggu kereta ku datang. Penutup kepala yang terdapat pada bagian belakang jaket segera kuturunkan. Situasi di sekitar, aku rasa, cukup kondusif untuk aku bisa menunggu dengan tenang tanpa dikenali. Bukan soal aku yang ogah dan malas melayani penggemar, namun hari ini aku hanya ingin menjadi manusia biasa yang kadang perlu waktu menjalani kesendirian dan kesunyian. Terutama mengingat kemana aku akan pergi hari ini.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
2 June 2017

Tidur (Terlalu Lama) Saat Bulan Puasa

Banyak pameo yang beredar di tengah masyarakat, bahwa tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Perkataan ini juga mendorong banyak sekali dari kita yang memilih untuk tidur di bulan Ramadhan dengan dalih: “ingin beribadah”. Salah? Tidak juga. Untuk porsi yang pas, tidur memang memiliki manfaat yang luar biasa besar. Namun, bagaimana jika tidur itu dilakukan secara berlebihan? Dari selepas sahur sampai menjelang azan magrib, misalnya?

Read More
Pram Ichanx
Posted by Pram Ichanx
9 March 2017

... With Sugar Daddy

Siang hari, 8 Maret 2017. Langkah ku tepat di belakang asisten rumah tangga yang tadi membukakan pintu lalu kemudian mempersilahkanku masuk. Aku terus mengekor langkah sang asisten rumah tangga tersebut hingga ke sebuah ruang yang di dominasi rak buku berwarna coklat tua dengan deretan buku yang tergolong banyak. Sesaat setelah menyiapkan dua buah kursi yang dipisahkan dengan sebuah meja yang berbentuk artistik, sang asisten rumah tangga itu meninggalkanku menunggu dengannyaman orang yang memang ingin ku temui hari ini. Seseorang yang memiliki hunian mewah nan asri di Forte dei Marmi ini, jelas bukan sosok yang biasa biasa saja. Sudah sejak lama sebenarnya aku menginginkan untuk bertemu dengan pemilik rumah ini dan melakukan wawancara dengan beliau, namun baru hari ini lah aku berkesempatan menemuinya secara pribadi dan sudah mendapat izin langsung darinya untuk melakukan wawancara secara ekslusif.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
4 February 2017

(Mencoba) Berkumpul Bersama Penulis

Pepatah bijak mengatakan : pribadi kita sangat bergantung kepada lingkungan tempat kita banyak berinteraksi. Entahlah seperti apa tepatnya pepatah itu diucapkan. Tapi satu yang patut kiranya untuk digaris bawahi, dan saya teramat setuju olehnya, adalah betul bahwa lingkungan, lingkaran pertemanan yang kita miliki amat sangat memengaruhi kehidupan keseharian kita. Pernah kita dengar sebuah wacana jika kita sering bergaul dengan penjual parfum, wangi parfum tersebut akan juga melekat pada kita. Atau jika kita sering bergaul dengan orang pintar, boleh jadi akan banyak ilmu bermanfaat yang bisa kita terima. Lalu, apa yang terjadi jika kita, atau saya, bergaul dengan banyak sekali penulis?

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
14 December 2016

Satu Langkah Lagi, Garuda

Siapa menyangka tim sepakbola negeri ini, meski pincang di awal, bisa berlari sedemikian jauh pada perhelatan sepakbola akbar se-Asia tenggara dalam tajuk Piala AFF 2016. Padahal di awal tahun, sepakbola negeri ini masihlah dirundung duka akibat dimatikan secara sepihak karena olah pikir ketidakbecusan para penguasa yang semena-mena. Dan di akhir tahun, kita berada di ujung jalan untuk memperebutkan singgasana tertinggi di sebelah tenggara asia melawan mereka, negeri gajah putih, sang penguasa sementara. Siapa menyangka.

Terakhir kali kita merasakan sensasi yang sama, berada di atas untuk level teratas, itu lebih kurang enam tahun lalu. Di ajang yang sama.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
10 November 2016

Kota Yang (Tak) Menyenangkan

Ia tak lebih dari seorang malaikat yang tersesat di dunia yang kejam. Dititipkan oleh Tuhan dengan segala kebaikan, itu semua bahkan terlihat sebelum kakinya mampu menopang tubuh untuk tegak berdiri. Lihatlah seonggok tubuh bercahaya itu, dengan matanya yang bulat memesona, lesung pada kedua belah pipinya yang merona. Dan, aduhai, senyum itu? Begitu menggemaskan. Tuhan pastilah sedang bersenang hati ketika menciptanya. Dan semesta tentu menyambut secara luar biasa ketika tangis anak kecil itu membuncah di dunia untuk pertama kalinya. Jikapun ada suatu kesalahan, hanyalah ketika orang tuanya memutuskan untuk melahirkan dan membiarkannya tumbuh di kota ini. Sungguh sebuah kesalahan yang kelak sulit sekali termaafkan.

Read More
Muhammad Wanda Syafii
Posted by Muhammad Wanda Syafii
25 October 2016

Kapten Pendosa

Beberapa tahun lalu, Claudio Lotito, presiden klub Italia, Lazio mengecam Ultras Lazio dan melarang fans garis keras tersebut hadir di setiap pertandingan kandang mereka. Beberapa tahun lalu pula, fans klub Serie A lainnya, Genoa, menghukum para pemainnya dengan memaksa para pemain menanggalkan jersey klub kesayangan mereka. Fans menganggap jika para pemain tidak pantas mengenakan jersey kebanggaan kota Genoa tersebut yang tengah terpuruk di klasemen. Bersitegang dengan fans memang menjadi hal yang lumrah di Italia. Tetapi, ketegangan yang disebabkan Mauro Icardi, striker Inter Milan, dengan para Interisti tentu dua, atau tiga tingkat diatas 2 permasalahan yang saya jabarkan di atas.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
5 August 2016

Menjadi Seorang Pelatih

Sebagai pecinta sepakbola bukan sekali dua kita mengutuk tim yang kita dukung ketika menuai hasil negatif. Dalam sekali waktu, para pemain seringkali dikambing-hitamkan atas kegagalan sebuah kesebelasan meraih poin penuh. Salah? Tidak juga. Wajar saja jika menyalahkan pemain menjadi sebuah kelaziman karena bagaimanapun mereka itulah yang menjadi penentu arah permainan. Baik-buruknya sebuah hasil dalam pertandingan sepakbola sangat bergantung oleh kaki-kaki yang bermain di atas lapangan. Namun, semua skenario yang terjadi di lapangan sangat bergantung terhadap olah pikir orang lain yang boleh jadi dalam satu pertandingan sama sekali tidak pernah menendang bola, hanya berjalan memutar pada kotak yang sempit. Ya, dalam banyak kasus, pelatihlah yang paling bertanggung jawab terhadap kelangsungan sebuah pertandingan sepakbola. Apa yang dilakukan pemain, sedikit banyak hanya kepanjangan dari  pelatih. Mengejewantahkan taktik dan strategi dari olah pikir para pelatih.

Read More
Pram Ichanx
Posted by Pram Ichanx
5 May 2016

Surat Terakhir Sang Legenda

"Daripada delapan scudetto. Daripada promosi dari Seri B. Daripada satu Coppa Italia. Daripada empat Piala Super Italia. Daripada satu trofi Liga Champions. Daripada satu Piala Super Eropa. Daripada satu Piala Interkontinental. Daripada sebuah gol ke gawang Fiorentina. Daripada sebuah gol dengan gaya Del Piero. Daripada sebuah gol di Tokyo. Daripada air mata saya. Daripada sebuah gol di Bari. Daripada sebuah gol voli back-heel di dalam derby. Daripada sebuah gol untuk Avvocato. Daripada lidah yang terjulur dalam laga melawan Inter. Daripada sebuah assist untuk David. Daripada gol nomor 187. Daripada sebuah gol di Jerman. Daripada Berlin. Daripada sebuah gol ke gawang Frosinone. Daripada gelar top skorer Seri B. Daripada gelar top skorer Seri A. Daripada sebuah standing ovation di Bernabeu. Daripada 704 pertandingan dalam kostum hitam putih. Daripada 289 gol. Daripada sebuah tendangan bebas yang berbuah scudetto. Daripada sebuah gol ke gawang Atalanta. Daripada rekor apapun. Daripada kostum nomor 10. Daripada ban kapten.

Tidak ada, tapi... apa yang sudah kalian berikan kepadaku selama 19 tahun ini. Aku senang karena kalian tersenyum, bersorak, menangis, menyanyi, berteriak untukku dan denganku. Tak ada warna yang lebih cerah bagiku selain hitam dan putih. Kalian membuat mimpiku jadi nyata. Lebih daripada hal lain apapun, hari ini aku cuma mau bilang TERIMA KASIH. Selalu di samping kalian."

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
9 March 2016

Happy Birthday Inter

Kala itu saya pernah, pada berbagai kesempatan, memperkenalkan diri sebagai seorang pendukung dari salah satu klub sepakbola yang ada di Italia. Sejati ?? Entahlah rasa-rasanya tak perlu sejauh itu jika tujuannya hanya untuk berkonfrotasi dengan khalayak ramai, lawan atau kawan. Kala itu pula saya menjadi salah satu yang paling marah ketika klub itu dikutuk atau dihina dengan semena-mena oleh  pendukung klub lawan untuk berbagai alasan. Dan juga saya termasuk dari bagian yang menjadi rusak mood-nya ketika klub itu sedang kalah dan menjadi yang paling berbahagia ketika sedang bermain cantik lalu menang.

Kala itu saya termasuk yang tak sudi untuk kehilangan satu pertandingan pun klub itu bermain. Tengah malam, hujan lebat, sakit sedang, jarak jauh belasan atau puluhan kilometer, itu persoalan kecil belakangan lah bisa kita pikirkan. Tapi demi bisa senantiasa duduk manis di depan layar untuk menonton klub itu bertanding, saya akan lakukan apapun persoalannya. Pertandingan persahabatan yang tak mempertaruhkan apa-apa saja saya sanggupi apalagi jika dihadapkan pada pertandingan besar penuh gengsi. Kerja ?? Cuti sajalah, masih ada besok lusa.

Read More
raysistance
Posted by raysistance
27 October 2015

Krisis Ekonomi Sebagai Penyebab Menurunnya Performa Chelsea

Menyandang status sebagai juara bertahan, bukan jaminan untuk Chelsea FC bisa dengan mudah mempertahankan gelar Liga Inggris. Mengawali musim baru dengan terlunta-terlunta membuat pasukan Jose Mourinho hanya mampu bertengger di posisi 14 klasemen sementara Liga Inggris dengan hanya memetik dua kali kemenangan, dua kali hasil imbang, dan tiga kali kekalahan.

Hasil buruk ini bisa jadi karena dampak dari krisis ekonomi yang tengah melanda Indonesia. Menguatnya nilai tukar dolar terhadap rupiah, bisa saja membuat armada The Blues menjadi lesu karena dengan melemahnya rupiah membuat pendukung fanatik Chelsea menjadi enggan untuk membeli pernak-pernik yang dijual klub. Sehingga menyebabkan menurunnya performa Chelsea di Liga Inggris.

Read More
Pram Ichanx
Posted by Pram Ichanx
10 August 2015

Carta a Los Amigos Javier Zanetti

Kursi kayu sederhana aku duduki saat tulisan ini aku rangkai. Jika biasanya aku mengetik buah pikiran ku dengan komputer, kali ini aku memilih menulis dengan tangan ku sendiri. Cerutu yang sedari tadi ku nikmati tetap menyala di iringi hembusan angin pedalaman hutan Chiapas. Entah sudah horchata gelas ke berapa ku tenggak demi kesegaran di tenggorokanku. Tidak ada belitan amunisi laras panjang AK-47 otomatis di leher ku dan ketiadaan pasukan pengawal di sekitarku menandakan aku sedang duduk nyaman di tempat aman ketika menulis ini, termasuk ketika aku memutuskan melepas balaclava favorit ku untuk sejenak.

Ini bulan ke 8 yang berarti bulan yang spesial untuk mu kawan. 42 tahun yang lalu kau lahir di sebuah kota tua bernama Buenos Aires di Argentina. Masa kecil mu yang banyak kau habiskan di kawasan distrik Dock Sud tentu memiliki kondisi yang lebih baik ketimbang masa kecilku dahulu di kawasan Meksiko tengah. Ayah ku yang dulu bekerja sebagai guru desa membuat aku mengenal dunia lewat bacaan. Aku tidak mengenal dunia lewat siaran berita melainkan lewat novel, essai atau potongan potongan sajak. Buku karya Garcia Marquez, Fuentes, Monsivais hingga Vargas Llosa menemani ku melewati masa kecil ku hingga kemudian di sekolah menengah aku mulai membaca tentang Hitler, Marx, Lenin, Mussolini dan banyak buku ilmu politik secara umum lain nya.

Read More
Pram Ichanx
Posted by Pram Ichanx
4 August 2015

Anomali Totti

Saat tulisan ini muncul di layar gadget anda, Steven Gerrard mungkin sedang berlari lari kecil di Stub Hub Center California bersama Robbie Keane di bawah arahan Bruce Arena. Gerrard adalah satu dari beberapa nama yang akhirnya memutuskan meninggalkan panggung sepakbola Eropa. Silau nya lampu sorot di benua biru tak lagi di rasa nyaman hingga akhir nya Amerika menjadi tujuan selanjutnya. Hasrat Gerrard untuk bisa menjadi juara Liga Inggris mungkin masih menyala meski dengan cahaya yang temaram bahkan nyaris mati. Maka tak ada yang salah juga ketika seorang Steven Gerrard memilih merumput di MLS agar lebih menikmati hidup nya sebagai pemain sepakbola yang tetap di bayar mahal namun dengan tekanan yang jauh lebih ringan.

Apakah Gerrard pengecut? Apakah Gerrard layak di labeli pecundang yang memilih meninggalkan medan perang nya sebelum ia benar benar gugur dalam pertempuran nya? Saya pribadi tak sesinis itu menilai keputusan Gerrard. Di usia nya yg tak lagi muda Gerrard hanya ingin terus bermain dengan tekanan yang tak melulu memaksanya lelah secara fisik dan pikiran. Gerrard butuh kenyamanan yang bisa melahirkan kebahagiaan dan Gerrard tahu betul kebahagiaan nya harus ia ciptakan sendiri meski itu harus membuatnya pergi dari kota yang ia cintai.

Read More