Skip to main contentScroll Top
Category Title

17 Jan: (Untuk) Sampai ke Tujuan

Mari temani saya sebentar. Kita sedikit berbicara tentang harapan, cita-cita dan mimpi besar lainnya. Dua tiga minggu yang lalu mimpi-mimpi dan harapan itu dikonversi oleh khalayak menjadi sebuah resolusi. Hal yang lazim dilakukan oleh hampir semua umat manusia di dunia. Yang diucapkan kali ini kembali terucap di tahun berikutnya. Lalu untuk kemudian dilakukan berulang kali di tahun yang banyak kemudian. Pertanyaannya. Apakah segala hal yang tidak tercapai itu adalah benar tentang mimpi yang kita inginkan? Atau malah kita mendapat apa-apa yang tidak pernah kita pikirkan?

02 Dec: Menghapus Medan

Saya bekerja di tempat yang baru. Namun, banyak hal yang saya rasa tidak berubah dibandingkan dengan tempat sebelumnya. Wajar dua tempat ini memiliki lini bisnis yang hampir sama. Bisa dikatakan, apa yang saja kerjakan saat ini lebih kurang sama dengan apa yang pernah saya kerjakan sebelumnya. Termasuk di antaranya juga lingkup wilayah yang sudah saya singgahi dan atau yang akan saya tuju nanti. Beberapa kota di Borneo, satu-dua tempat di Sulawesi dan beberapa lainnya di Sumatera akan tetap menjadi tempat saya singgah barang satu-dua minggu setiap periode waktu tertentu. Tapi di sini, di tempat baru, ada satu daftar yang hilang….

pulang

16 Nov: Pulang

Akhirnya! Setelah beberapa waktu terakhir terpaksa mengurung diri di rumah, keluar hanya ke tempat-tempat yang jaraknya hanya sepelemparan batu belaka. Untuk pertama kalinya, semenjak si kecil lahir, kami berani untuk bergerak ratusan kilometer demi memenuhi undangan di kota jauh. Kami memutuskan untuk menyewa mobil. Untungnya mencari sewa mobil di jakarta lepas kunci tidak terlalu sulit. Sedikit berlebihan dalam persiapan. Memastikan kondisi si kecil baik dengan istirahat yang harus cukup. Dan: kakek-nenek, kami datang.

Undangan-di-kota-jauh

15 Oct: Undangan di Kota Jauh

“Mas, datang?” di satu kerumunan seorang teman memberikan undangan pernikahan. Yang bertanya tentu saja bukan si empunya hajat tapi teman lain yang juga menerima lembar undangan yang sama. Pikiran saya sedang kosong perlu satu-dua pertanyaan tambahan sampai akhirnya saya mengangguk kecil. “Iya, mudah-mudahan waktunya pas, ya” jawab saya. Ketika kerumunan itu mulai mereda saya menghempas diri di atas kursi. Menggaruk kepala yang tidak gatal. Diskusi-diskusi beberapa waktu terakhir berkelebat di dalam kepala. Aduh.

demibola

24 Sep: Demi Bola

Saya sedang merasa puas luar biasa. Pasalnya, sudah lama sekali, sejauh yang saya ingat, saya mampu mengkhatamkan satu pertandingan penuh laga yang dilakoni tim sepakbola favorit saya. Iya, di layar kaca tentu saja. Di akhir pekan kemarin saya berhasil menghabiskan sembilan puluh menit penuh melihat mereka berjibaku di tengah lapang meluluhlantahkan musuh bebuyutannya. Beberapa waktu yang banyak, saya memang kerap alfa dalam memberi dukungan maya. Jangankan satu laga penuh atau separuhnya, bahkan bisa dikatakan saya absen menonton di hampir seluruh laga yang mereka mainkan.

Aktualisasi-Diri

21 Sep: Aktualisasi Diri

Beberapa waktu lalu, di lini masa twitter sempat ramai beredar cuitan yang berisi tentang kisah seorang muda, yang konon katanya berasal dari sebuah universitas bergensi yang menolak sebuah pekerjaan dengan imbalan 8 juta rupiah. Sebagai catatan, seorang muda tersebut baru saja menyelesaikan pendidikannya. Di waktu yang berdekatan, seorang dosen memberikan kuliah, juga melalui lini masa twitter, mengenai korelasi antara nilai kuliah tinggi dengan international exposure yang rendah adalah sebuah kemubaziran waktu. Ia bilang, nilai tinggi akan menjadi percuma jika tidak dibarengin dengan pencapaian lain yang ia beberkan dengan amat panjang.