Scroll to top

Ulang Tahun

andhikamppp
Posted by andhikamppp
6 October 2017

Ruang Hati

Bagaimana jika kita memulainya dengan satu cerita lucu. Waktu aku, dengan wajah yang memerah, meminta kamu untuk menutup mata sebentar. Aku melangkah, mendekat, mengitari tubuhmu yang berdiri kaku, setengah putaran. Kamu bertanya, untuk apa, dan aku diam. Aku di belakangmu saat itu, tepat. Dengan satu perhiasan perak yang, malu-malu, aku pakaikan pada kain yang menutup hampir seluruh kepalamu. Matamu terbuka, dan kita berdua tersipu malu. Mata kita berbicara, tanpa suara, cukup lama. Sampai akhirnya, satu kecupan kudapatkan di kening, sebentar, namun dengan arti yang sebegitu dalam.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
21 June 2017

Tahun Ketiga

Jahanamnya kemacetan ibukota adalah kelaziman. Ia terjadi setiap hari, seperti sekarang ini ketika aku berada di tengah-tengahnya. Suara klakson saling bersahutan berelaborasi menjadi sebuah simfoni yang merdu, namun tetap saja menjemukan. Sinar matahari di luar sana sudah sedemikian terik. Kekhawatiran terlambat untuk segala aktivitas mulai terlihat melalui wajah-wajah cemas anak manusia di dalam bus kota. Ya, aku berada di antaranya. Dalam kondisi seperti ini apa yang bisa kulakukan selain diam, melamun menunggu bosan. Aku melihat arloji di tangan kiriku. Jam delapan lewat dua puluh dua menit, dalam lamunan itu pikiranku berkelebat ke waktu beberapa tahun yang silam.

Waktu yang sama, tiga tahun yang lalu.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
6 October 2016

Bagaimana Kita Jatuh Hati?

Waktu tak pernah berencana untuk diam, beristirahat sekedar membuang lelah. Waktu akan senantiasa berlari dengan irama yang sama, konstan tak pernah berubah seolah memaksa kita untuk tumbuh kembang beriringan dengan waktu yang terus berjalan. Tak diizinkan sekalipun kita untuk berputar arah atau jalan kebelakang, tak akan pernah bisa. Sekarang ini yang bisa kita lakukan hanya ikut menapak arah bersama waktu, melanjutkan cerita yang telah dimulai, menyelesaikan bait demi bait skenario hidup yang telah dicetak rapi dalam naskah bernama waktu. Sedang untuk waktu yang sudah tertinggal jauh hanya bisa kita tertawakan, atau tangisi?, terserah. Lalu di kemudian hari, kita akan mengejawantahkan beberapa hal pada waktu yang tertinggal itu. Untuk memaparkan pertanyaan yang tak sempat terjawab sebelumnya, atau setidaknya untuk menerjemahkanya ke dalam bentuk cerita.

Dan tentang pertanyaan-pertanyaan itu, ada satu yang kerapkali muncul setiap kali aku dipaksa mengingat waktu bagaimana cerita ini bisa bermula, tentang kita. Sudah sangat lama sejak hari itu, namun masih cukup hebat untuknya membuncahkan pikiran ini setiap kali aku mengingatnya. Pertanyaan yang aku pikir, akan sehebat apapun kita berdiskusi, berbincang sepanjang siang-sampai petang, tak akan pernah kita temui jawabnya. Meskipun pertanyaan itu sangat sederhana : bagaimana bisa kita saling jatuh hati?.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
21 June 2016

Dua Puluh Satu Juni

Butiran embun menetes terburu-buru menggenapi tanah yang dari semalam sudah basah. Hanya sebentar sebelum kemilau asa dari ufuk timur datang untuk menghilangkan sisa-sisa hujan semalam, sedikit demi sedikit menghangatkan sejuta keinginan. Aku menatap bumi melalui kaca yang terbingkai dari dalam kotak besi yang bergerak perlahan, menegangkan.  Aku tidak bisa tidak tersenyum setiap kali mengingat kata bijak itu. Pagi adalah sebuah berkah yang indah, tak masalah ia datang dalam cerah atau mendung karena bagaimanapun pagi adalah awal untuk memulai sesuatu yang disebut kehidupan. Pun dengan pagi ini, ketika aku akan memulai sebuah cerita panjang kehidupan.

Pukul enam tiga puluh tepat. Di bawah pohon beringin besar yang terbaris rapi -yang seolah dipaksa untuk tumbuh berdekatan burung-burung gereja berkicau riuh. Satu dua malah hinggap dekat trotoar pejalan kaki. Berloncat-loncatan saling menggoda pasangan. Aku memerhatikannya, terpesona melihat burung-burung yang sedang mabuk cinta. "Sudah siap??" kaca diketuk dari luar, orang yang entah siapa tak kukenal bertanya dengan ramah.  Aku menarik nafas dalam sekali, lalu tersenyum, ada jeda beberapa saat sebelum aku sempat untuk menjawab, kemudian kututup dengan anggukan kecil. Duhai, pagi ini sungguh akan menjadi luar biasa dan semoga saja semesta sudi untuk bekerja sama.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
25 May 2016

Cerita tentang Wibi

Cerita ini dimulai saat matahari mulai tenggelam dan senja datang membawakan banyak sekali cerita. Sunyinya taman kota membuat suara ayunan yang berisik menjadi jelas setiap kali ia berdenyit. Satu persatu orang mulai pergi meninggalkan tempat itu, semakin sepi saja, menyisakan anak kecil yang termangu duduk sendiri di ayunan yang nyaris tak bergerak tepat di tengah taman kota. Ia mulai terisak di saat air matanya belum sempat jatuh. Tak ada yang lebih menyakitkan daripada itu. Tangis yang tak dibarengi oleh air mata. "Ayah" ia berucap pelan, memanggil sosok yang amat ia rindukan. Matahari sudah hilang sempurna. Langit menjadi gelap, plang Taman kanak-kanak Tadika Puri di seberang taman kota sudah tidak terlihat. Sudah lebih dari tiga jam ia menunggu disana, untuk anak seusianya ini sudah berlebihan. Tapi bagaimanalah, paman tak bisa menjemput tepat waktu, dipaksa kerja lembur.

Dari langit hujan datang beriringan, tak terlalu banyak namun cukup membuat anak itu basah kuyup. Ia tak peduli, karena di tengah taman kota, paman akan mudah menemukannya dan ia percaya paman akan segera datang. Benar saja, sebelum adzan Isya berkumandang paman datang tergesa-gesa, memeluknya erat merasa berdosa membiarkan anak sekecil itu menunggu lama di tengah hujan. "Maafkan paman datang terlambat, Wibi".

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
10 April 2016

Satu Tahun Yang Lalu

"Sudah pembukaan empat, Pak" perawat berusaha menjelaskan setelah berulang kali aku menanyakan kondisi istri yang saat ini sedang terbaring di unit gawat darurat. Beberapa menit yang lalu aku menerobos masuk pintu rumah sakit meminta pelayanan terbaik untuk istriku yang sejak sore tadi merasakan nyeri luar biasa di perutnya. Untunglah tidak terlambat, taxi yang kupesan datang tepat waktu, jalanan kota yang sepi membuat perjalanan dari rumah ke rumah sakit bisa ditempuh kurang dari sepuluh menit. "Silakan Bapak pulang dulu untuk membawa perlengkapan. Kami akan membawa istri bapak ke ruang persalinan. Mungkin harus menginap dua-tiga hari. Tak usah terburu-buru, Pak. Masih banyak waktu. Jika lancar, mungkin tujuh sampai delapan jam lagi" perawat itu dengan tenang menjelaskan. Aku tersenyum, menunjuk ke arah kursi yang sudah aku duduki satu jam terakhir "Sudah saya bawa, Mbak".

Pukul satu lewat tiga puluh dini hari. Aku melihat penunjuk waktu pada layar telefon genggam lalu kuputuskan untuk melakukan panggilan suara. Sepanjang yang aku ingat, ini adalah panggilan suara paling pagi yang pernah aku lakukan. "Sudah pembukaan empat, Bu. Kata perawat mungkin baru pagi nanti. Doakan saja lancar semuanya. Iya, Bu. Pakai bus pertama masih sempat kok. Hati-hati" panggilan suara selesai beberapa kalimat setelahnya. Aku memberitahukan kondisi istri kepada ayah dan ibu dirumah. Tak lama setelahnya aku menghubungi orang tua istri dengan kalimat dan informasi yang lebih kurang sama persis.

"Pak, sudah pembukaan lima" kata perawat bergegas menuju ruang persalinan. Aku ikut menyusul, demi melihat istri yang makin kepayahan, aku berusaha untuk tetap tersenyum.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
20 January 2016

Dua Puluh Tujuh

Saat tulisan ini dibaca, boleh jadi saya tidak sedang di depan layar monitor –mengetik paragraf demi paragraf tulisan ini. Entah sedang apa saya saat tulisan ini dibaca, boleh jadi sedang menjahili anak yang sedang tidur, atau sedang duduk menyendiri di sudut terujung rumah kontrakan sembari mengepulkan asap satu dua batang rokok plus kopi sachet biar lebih cepat, atau memindah-mindah channel TV yang belakangan ini sulit menemukan tontonan yang asik (bahkan di tv berbayar sekalipun) atau boleh jadi saya sedang diam, tidak melakukan apa apa tapi sembari berharap tulisan ini bisa anda baca dan bisa anda terima (jika anda sudah sampai ke bagian ini, setidaknya harapan itu terwujud) jika berkenan silahkan lanjutkan ke paragraf berikutnya.

Tulisan ini saya buat beberapa jam (atau beberapa hari atau beberapa minggu atau beberapa bulan atau beberapa tahun) sebelum anda sempat membacanya. Provider blog yang saya gunakan saat ini mengizinkan saya untuk memanipulasi waktu terbit postingan, membuatnya lebih cepat atau menundanya beberapa waktu kedepan dari waktu postingan ini dibuat. Menurut saya ini menarik, bagaimana blogger pemalas seperti saya bisa merencanakan sesuka hati kapan materi yang saya buat bisa diposting dan (berharap) dibaca dan diterima oleh orang yang sudi mampir ke blog ini. Katakanlah dua hari kedepan ada momen yang menarik, lalu kemudian hari ini saya memiliki ide materi untuk momen tersebut, saya buat materi itu hari ini, detik ini, untuk kemudian saya posting dua hari berikutnya. Saat materi itu terbit di blog ini, entah sedang apa saya saat itu.  Boro-boro posting blog,boleh jadi saya sedang ikut merayakan momen tersebut.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
9 November 2015

Collezio Inter

Collezio adalah sebuah bahasa italia yang jika diterjemahkan secara paksa kedalam Bahasa Indonesia memiliki arti ‘koleksi’. Dan Inter dalam bahasa semesta bola kerap diidentikan kepada sebuah tim sepakbola yang juga berasal dari italia. Jadi jika sekali lagi saya diizinkan untuk memaksakan bahasa terjemahan maka saya akan mengartikan Collezio Inter adalah koleksi inter. Lalu bagaimana jika ada sekelompok orang yang melabeli diri mereka dengan nama Collezio Inter, apakah mereka itu adalah kelompok orang-orang yang punya koleksi tentang Inter??

Nama bagaimanapun adalah sebuah tentang variasi yang banyak. Bisa saja ia tentang warna kulit seperti misalnya si hitam & si putih atau bisa saja suatu waktu ada yang dinamai si malas, si pintar, si rajin dan lain lain bergantung seperti apa sifat dari yang dinamai tersebut. Yang paling mulia, tentu saja nama yang digunakan sebagai doa seperti misalnya ketika saya menamai anak saya dengan nama Naufal Daffa yang secara bahasa kurang lebih artinya adalah : Lelaki tampan dan dermawan yang memiliki pertahanan diri yang kuat. Tapi, bisa saja kan nama tidak memiliki arti apa-apa –kosong hanya sebagai pembeda antara A dan B karena pada akhirnya nama akan menjadi sebuah identitas yang harus dijaga.

Lalu, kembali ke pertanyaan tadi bagaimana jika ada sekelompok orang yang melabeli diri mereka dengan nama Collezio Inter, apakah mereka itu adalah kelompok orang-orang yang punya koleksi tentang Inter??

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
29 August 2015

Langkah Selanjutnya

Saya suka membaca dan saya memiliki tingkat agresivitas yang cukup tinggi dalam membaca, apapun itu bentuknya, email-email yang harus dibaca, artikel menarik dari beberapa situs, dan linimasa twitter adalah salah satu diantaranya. Baiklah, jika kesemua itu tadi dianggap aktivitas atau tuntutan dari keseharian, saya akan mengambil contoh lain. Sedari kecil saya sempat dan masih mengoleksi bacaan fisik seperti novel, komik, tabloid dan beberapa potong koran. Saat saya masih belum terkontaminasi dampak negatif teknologi, mereka itulah yang menyita waktu saya. Kombinasi terbaik saat makan adalah : tangan kanan makanan dan tangan kiri buku. Entah berapa banyak buku yang sempat basah karena dibawa ke kamar mandi. Sekarang –meski tak seaktif dulu aktivitas itu masih suka saya lakukan. Ehm, maaf. Jadi bolehkan saya mengklaim­ kalau saya suka membaca ??

Saya suka menulis dan saya memiliki tingkat agresivitas yang cukup tinggi dalam menulis, apapun itu bentuknya, email-email yang harus dibalas, mengomentari artikel menarik dari beberapa situs, dan memenuhi linimasa twitter adalah salah satu diantaranya. Baiklah, jika kesemua itu tadi dianggap aktivitas atau tuntutan dari keseharian, saya akan mengambil contoh lain. Ehm, sebentar dulu. Contoh yang lain, apa ?? Menulis cerita di tabloid remaja ?? menulis puisi di surat kabar akhir pekan, menulis opini di situs-situs bertraffic tinggi ?? atau sekedar memenuhi blog dengan tulisan-tulisan entah apapun lah itu bentuknya ??

Mengingat kebeberapa waktu belakang. Sial, ternyata saya tak sesuka itu dalam menulis.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
20 January 2015

Dua Puluh Enam

Saat tulisan ini dibaca, boleh jadi saya tidak sedang di depan layar monitor –mengetik paragraf demi paragraf tulisan ini. Entah sedang apa saya saat tulisan ini dibaca, boleh jadi sedang menyapa usil anak di dalam rahim istri, atau sedang duduk menyendiri di sudut terujung rumah kontrakan sembari mengepulkan asap satu dua batang rokok plus kopi sachet biar lebih cepat, atau memindah-mindah channel TV yang belakangan ini sulit menemukan tontonan yang asik (bahkan di tv berbayar sekalipun) atau boleh jadi saya sedang diam, tidak melakukan apa apa tapi sembari berharap tulisan ini bisa anda baca dan bisa anda terima (jika anda sudah sampai ke bagian ini, setidaknya harapan itu terwujud) jika berkenan silahkan lanjutkan ke paragraf berikutnya.

Tulisan ini saya buat beberapa jam (atau beberapa hari atau beberapa minggu atau beberapa bulan atau beberapa tahun) sebelum anda sempat membacanya. Provider blog yang saya gunakan saat ini mengizinkan saya untuk memanipulasi waktu terbit postingan, membuatnya lebih cepat atau menundanya beberapa waktu kedepan dari waktu postingan ini dibuat. Menurut saya ini menarik, bagaimana blogger pemalas seperti saya bisa merencanakan sesuka hati kapan materi yang saya buat bisa diposting dan (berharap) dibaca dan diterima oleh orang yang sudi mampir ke blog ini. Katakanlah dua hari kedepan ada momen yang menarik, lalu kemudian hari ini saya memiliki ide materi untuk momen tersebut, saya buat materi itu hari ini, detik ini, untuk kemudian saya posting dua hari berikutnya. Saat materi itu terbit di blog ini, entah sedang apa saya saat itu.  Boro-boro posting blog, boleh jadi saya sedang ikut merayakan momen tersebut.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
9 September 2014

SMPN 4 Bandung , 2001/04

9 September hari ini, dalam catatan harian di handphone , ga ada moment penting yang harus diinget. Apalagi sampai harus dirayain. Bahkan di notification ulang tahun Facebook ga ada temen deket yang ulang tahun hari ini. Ga harus ngucapin ke siapa siapa berarti. Tapi pas lagi anteng-antengnya scrolling TL di twitter, ada postingan (gatau dari siapa) yang membahas SMP di Bandung. Jadi keingetan kalau ga salah 9 september ini adalah hari ulang tahun SMP tempat saya sekolah dulu.

Googling sebentar, typing SMPN 4 Bandung , nemu profilnya di wikipedia. Dan cocok. Hari ini hari ulang tahun ke 65 SMPN 4 Bandung.  Tiba tiba memori-memori 3 tahun di SMP muter muter di otak.

Yang saya sesalkan di kehidupan SMP saya adalah tidak terlalu banyak memori yang bisa saya rekam sebagai bahan cerita untuk kehidupan tua nanti. Siklus harian semasa SMP hanya berangkat sekolah-belajar-istirahat jam 10-belajar-pulang. Cukup membosankan (dan menyedihkan mungkin) karena selama 3 tahun . 6 hari dalam seminggu badan terbiasa dengan pola seperti itu. Tapi untunglah masih ada sedikit memori yang sempat dan masih terekam sampai saat ini dan mungkin bisa jadi monolog singkat jika anak cucu nanti meminta cerita.

Mari kita sedikit bernostalgia.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
20 January 2014

DUA PULUH LIMA

Kali pertama tahun ini, semenjak gue bisa nginget apa yang harus diingat, gue lupa kalo gue ulang tahun, Babak kedua Chelsea Vs Man Utd semalem, iyaa yang semalem MU kalah, ditengah pertandingan ada sms masuk ke hape, teng tong, ucapan ulang tahun, dari dia yang selalu jadi pertama di 6 tahun kebelakang, ah entahlah siapa yang membuat tradisi harus ngucapin "selamat ulang tahun" tepat jam 12 malam, dan hebatnya dia (juga gue biasanya) terus menjaga tradisi itu selama 6 tahun terakhir. Doa yang selalu sama tapi ga pernah bosen dengernya karna selalu ada improvisasi materi baru di tiap tahun. Setelah selesai balas sms, dan ditambah beberapa kalimat ditelfon yang memakai pulsa, gue baru sadar kalo gue ulang tahun, beda dengan tahun kemarin, kali ini gue ulang tahun yang ke 25.

20 Januari 25 tahun yang lalu, atas kerendahan hati seorang hawa bernama Ibu, gue dengan nangis lahir kedunia, jam 10 pagi katanya (berarti yang ngucapin selamat ulang tahun jam 12 malam itu kecepetan). Gue lahir dari perkawinan bokap sama nyokap, kata mereka gue lucu waktu lahir, padahal lagi nangis, Terus ga lama dikasih nama Andhika Manggala Putra Pratama Partakusumah, kepanjangan tapi katanya artinya bagus. Yaudah gue ga bisa nolak. soalnya emang ga bisa waktu itu. Eh, udah dikasih nama panjang panjang dari kecil dipanggil nya ucha U-C-H-A , dikasih nama 42 karakter tapi dipanggil dengan cuma 4 karakter, padahal waktu itu belum ada twitter dipanggil nama lengkap juga ga masalah ga akan ngabisin karakter , ataupun kalo udah ada twitter pun masih nyisain 98 karakter, 93 kalo tiap spasi diitung. Dan lebih bete 2 tahun kemudian nama gue dibajak 80% nya sama orang tidak bertanggung jawab, iya 2 tahun kemudian muncul andhika kawe. Gue punya kakak tiga, cewek semuanya. Makanya pas gue lahir sebagai cowok bokap katanya seneng banget, Makanya dikasih nama Andhika, kalo lahirnya cewek mungkin namanya Andina,

Katanya, bokap sangat berharap pas udah gede kelak anak lelaki pertamanya bisa nerusin nama keluarga, bisa jadi sosok yang diandelin kelak, bisa jadi payung untuk keluarga, kebanggaan keluarga, dan hal hal positif lainnya.

20 Januari kali ini .. gue ngerasa takut kalo bokap nyesel punya anak kaya gue ....

Read More