Aku menjalani hidup yang tenang, dan kamu juga, sampai kita dipertemukan lagi di waktu yang tidak memberi ruang untuk menjadi apa-apa.
Awalnya biasa saja, lalu berubah pelan, menyisakan hal-hal kecil yang tinggal lebih lama dari seharusnya.
Kita tahu batas itu ada, dan untuk pertama kalinya aku mengerti, aku kalah tanpa pernah benar-benar bertanding.
Aku tidak menyesal, hanya sadar tidak semua yang terasa tepat harus menjadi milik.
Jika mesin waktu itu ada, aku hanya ingin kembali untuk tidak melewatkan.
Dan ketika itu tidak mungkin, aku hanya bisa membiarkanmu tetap ada, dekat tapi tidak pernah bisa menjadi.
“Yah, jek aja,” suara lembut penuh semangat dari ujung telfon di sana. Dua jam sebelum pergantian hari menuju akhir pekan….
Seminggu terakhir gue dikadalin ama yang namanya “virus” , pertama di awal minggu kemaren, pas gue lagi masukin data via…
Beberapa hari lalu gue sempet posting tentang blog gue yang baru #isengisengwallpaper dan mulai aktif lah gue bikin kegiatan disitu. Cukup…
Perpisahan. Hari ini seminggu tepat setelah pergantian dari bulan ramadhan ke bulan syawal. Banyak orang orang yg ngejalanin ibadah di…
