Aku menatap bangunan di depan warung kopi ini. Mengetik balasan pesan singkat, memasukan perangkat genggam ke tempatnya, lalu tersenyum membayangkan kemungkinan babak kedua perbincangan dengan perempuan cantik di bangunan itu. Hujan memang masih mengguyur bumi cukup deras tetapi akan terlalu memakan waktu jika aku harus menunggunya sampai benar-benar reda. Lalu aku memutuskan untuk berlari cepat menabrak butiran-butiran air hujan yang jatuh ke bumi sesukanya tanpa memperdulikan apapun yang akan dihadapinya. “Kenapa gak nunggu berenti dulu sih !? Tunggu sebentar akan aku ambilkan kaus punya ayah.” setelah memberiku handuk kering perempuan itu mendengus kesal melihat lelakinya ini basah kuyup. Aku diam sebentar, tersenyum lalu menggangguk, malas…
Malam ini adalah malam kesekian untuk aku melakukan hal yang sama, seperti kemarin dan kemarinnya lagi, mengantri demi sesuap sate. Tak perlu heran, sate adalah makanan favoritku –selain mie ayam tentu saja. Demi sate, aku rela untuk berkeliling kota berpindah dari satu tempat sate ke tempat yang lain. Seperti apapun itu tempatnya, untukku itu tak pernah menjadi soal. Asalkan sate itu adalah ayam dengan bumbu kacangnya, itu sudah menjadi alasan yang masuk akal untuk aku berkeliling tempat, entah itu harus menunggu manis di rumah makan kelas atas atau berdesak-desakan di abang sate pinggir jalan, sungguh, aku tak perduli. Seperti malam…
Selamat sore, maaf jika aku salah, karena mungkin saja saat membaca tulisan ini kalian sedang sarapan, atau sedang beristirahat sambil memilih menu makan siang misalnya, atau boleh jadi saat ini kalian baru saja selesai mematikan lampu kamar dan kemudian melakukan rutinitas manusia modern kebanyakan : bermain seluler sebelum tidur. Tapi, aku sungguh menulis cerita ini ketika sore hari, seharusnya dalam beberapa menit kedepan aku menghentikan semua aktivitasku di kantor lalu seperti biasanya pulang ketika bel berbunyi, sama sekali tidak boleh terlambat. Aku sangat menikmati ketika menjadi saksi bumi berotasi, maksudku -kalian boleh jadi tidak sadar bukankah disetiap sorenya saat perjalanan…
Senja di penghujung November, adalah rutinitas kami duduk di teras menghabiskan waktu dengan secangkir kopi untukku, dan segelas susu atau teh manis untuk dia – tentu saja, anak sekecil itu belum aku izinkan untuk terkontaminasi kafein kopi. Tak lama ibunya datang menyuguhkan pisang goreng kesukaan Daffa, nama anak itu, lengkap sudah amunisi kami untuk membunuh waktu, setidaknya sampai matahari benar benar tenggelam nanti. “Ini obrolan lelaki, Bunda” Daffa dengan sopan tapi tegas menolak permintaan ibunya untuk ikut bergabung. “Kali ini tentang apa, nak??” aku mengeluarkan kalimat pembuka, yang selalu sama setiap Minggunya, rasa-rasanya anak ini memiliki banyak pertanyaan berbeda tiap…