Skip to main contentScroll Top
REVIEW
One Day: Mencintai dalam satu hari.

Tentang satu hari yang dipinjam dan luka yang harus dibawa pulang sendirian selamanya

Bagian 1.

Terbiasa Tak Ada.

"Sebuah penghormatan bagi mereka yang terbiasa tidak dianggap ada"

Cinta tak harus memiliki” adalah kalimat klise. Sebuah frasa usang yang sering kita jadikan alibi atas rasa sakit yang kita simpan rapat-rapat. Kita mengucapkannya agar tetap terlihat utuh, seolah melepaskan adalah kemenangan, padahal di baliknya ada keinginan yang dipaksa mati agar kita tidak terlihat kalah di hadapan mimpi. Penghibur untuk hati yang babak belur.

Mencintai dalam diam adalah seni mengelola harapan. Belajar merasa cukup hanya dengan melihat, tanpa menyentuh; menjaga, tanpa harus dianggap ada. Ia adalah pengabdian sunyi yang tidak membutuhkan tepuk tangan, perjalanan tanpa ujung yang sering kali berakhir pada dinding angan yang kita bangun sendiri.

Namun, sebagaimanapun menyebalkannya narasi ini, ia tetap menjadi salah satu alasan mengapa kita masih betah bertaruh pada sebuah cerita. Ia adalah tragedi yang laris manis karena kita semua pernah menjadi pecundang yang sama dalam urusan rasa, dan salah satu manifestasi terbaik dalam penjabaran narasi ini hadir dalam sebuah laku visual bernama One Day.

One Day—atau yang dalam judul aslinya, Fanday: Fan Kun Khae Wan Diaw—adalah sebuah hasil karya Banjong Pisanthanakun yang dirilis pada 2016 silam. Nama yang sama yang bertanggung jawab atas kegalauan ribuan orang lewat Hello Stranger (2010). Banjong seolah memiliki bakat alami untuk mengemas luka dalam balutan komedi romantis, lalu membiarkan penontonnya terjebak dalam rasa sesak yang terlambat disadari.

Film ini berpusat pada Denchai (Ter Chantavit Dhanasevi; Hello Stranger, ATM Er Rak Error) seorang karyawan IT yang menjadi personifikasi dari eksistensi yang transparan. Di tengah keriuhan kantor, ia adalah “cat dinding” yang tak pernah diajak bicara. Sebuah latar belakang yang baru akan diperhatikan ketika ia diperlukan. Denchai bukan sekadar tidak populer; ia adalah kekosongan yang berjalan.

Bagi dunia, Denchai adalah sekadar fungsi tanpa wajah. Namanya tidak pernah mampir dalam renyah percakapan makan siang, dan sosoknya adalah jenis bayang-bayang yang segera hilang begitu orang lain memalingkan pandang. Ia adalah manusia yang keberadaannya hanya divalidasi oleh kerusakan, dan kehadirannya segera dihapuskan oleh kenyataan. Dan ia menyukai seorang wanita bernama Nui (Nittha Jirayungyurn; 7 Days).

Nui berada di seberang spektrum, hidup dalam realitas yang berkebalikan dengan Denchai. Jika Denchai adalah bayang-bayang, maka Nui adalah matahari yang menjadi pusat orbit. Ia adalah personifikasi dari standar yang diinginkan dunia: kecantikan yang intimidatif, pembawaan yang hangat, posisi sosial yang mapan, dan tawa yang selalu dikelilingi oleh pemujaan. Ia adalah puncak dari segala sesuatu yang dianggap ideal, kecuali satu hal: ia mencintai seorang pria mapan yang sudah memiliki keluarga. Sebuah noda hitam yang ironisnya menjadi satu-satunya celah manusiawi dari sosok Nui yang tampak sempurna.

Namun, segala noda dan jarak yang ada pada diri Nui tidak sedikit pun menyurutkan langkah Denchai untuk tetap menyukainya. Baginya, mencintai bukan tentang menyembah kesempurnaan, melainkan tentang menerima seluruh realitas orang yang dicintainya, termasuk bagian-bagian yang paling rapuh dan tersembunyi. Denchai memilih jalan yang sunyi: mencintai melalui lensa mikroskopis. Ia adalah pengamat yang tekun, yang percaya bahwa kasih sayang adalah tentang ketelitian dalam membaca detail-detail kecil yang sering kali dianggap kerdil.

Bagian 2.

Satu hari untuk selamanya

Pilihan antara memeluk kenangan atau melepaskan kenyataan

Kesempatan itu akhirnya datang melalui sebuah celah medis yang ganjil, sebuah “keajaiban” yang hanya berumur dua puluh empat jam. Seperti judulnya, Denchai mendapatkan satu hari untuk meminjam identitas yang selama ini hanya ada dalam mimpinya: menjadi pria yang berhak menggenggam tangan Nui. Dalam satu hari itu, dunia seolah berhenti berputar untuk memberinya sebuah ruang simulasi; tempat di mana semua kemustahilan disingkap, dan semua jarak ditiadakan.

Di sinilah kita melihat bagaimana seorang Denchai menggunakan waktu yang ia curi dari semesta. Ia tidak menggunakannya untuk hal-hal yang megah, melainkan untuk membuktikan betapa jauh ia telah melangkah dalam diam. Bagi Denchai, satu hari ini bukan sekadar kencan impian, melainkan sebuah pembuktian tentang seberapa besar keberanian yang ia miliki untuk mendekati sesuatu yang selama ini ia anggap mustahil.

Konflik utamanya justru hadir pada sebuah pertanyaan mendasar: apakah ketulusan itu tetap bermakna jika ia datang dari orang yang tidak kita inginkan? Bahwa perlakuan yang sama bisa memberikan respons yang jauh berbeda hanya karena perbedaan “siapa” yang melakukannya. Di sini kita dipaksa berkaca, bahwa rasa sayang bukan tentang seberapa besar janji yang kamu tawarkan, tapi seberapa teliti kamu mampu membaca retakan-retakan kecil di hati seseorang yang bahkan tak pernah memintamu untuk memperbaikinya.

Dalam salah satu narasi yang paling membekas, film ini menggunakan Everest dan World Trade Center sebagai simbol dari sesuatu yang melampaui batas kewajaran manusia. Bagi Denchai, Nui bukanlah sekadar pemandangan indah yang cukup dipandang dari kejauhan; ia adalah puncak tertinggi yang ingin ia daki, dan jarak mustahil yang ingin ia seberangi. Di sini, kita diajak memahami bahwa cinta memiliki kekuatan untuk mengubah seorang pengecut menjadi pemberani, dan mengubah logika yang kaku menjadi tindakan yang paling tidak masuk akal.

Cinta, dalam kacamata Denchai, adalah sebuah bahan bakar untuk melakukan hal-hal irasional. Ia sadar bahwa ia tidak memiliki perlengkapan yang cukup untuk menaklukkan puncak itu, namun ia tetap memilih untuk melangkah. Film ini ingin menegaskan bahwa saat seseorang benar-benar jatuh hati, semua alasan logis tentang “siapa kita” dan “siapa dia” mendadak lumat oleh keinginan untuk sekadar mencoba. Tidak ada ruang bagi keraguan saat tujuan di depan mata terasa begitu agung.

 

“When you’re truly in love, you don’t need any reason. Love makes us dare to do the most irrational things. You are my Mount Everest, you are my World Trade Center.”

Denchai, One Day (2016)

 

Dalam ruang sempit yang hanya berdurasi dua puluh empat jam itu, kita menyaksikan sebuah keajaiban yang ganjil: tentang bagaimana dinding pertahanan seseorang bisa luruh bukan oleh kemegahan, melainkan oleh ketulusan yang konsisten. Hati yang tadinya tertutup rapat perlahan mulai menemukan celah untuk menerima, membuktikan bahwa pada akhirnya, setiap manusia memiliki naluri untuk mencintai dan dicintai, terlepas dari siapa yang memberinya. Ada kebahagiaan yang tumbuh di sana. Sebuah momen di mana dua jiwa yang berada di spektrum berbeda bisa bertemu pada titik koordinat yang sama.

Namun, kehangatan itu sebenarnya adalah sebuah tragedi yang sedang menghitung mundur. Film ini membawa kita pada kesadaran pahit tentang “kebahagiaan yang dipinjam”. Kita sering kali lupa bahwa ada beberapa momen indah dalam hidup yang memang diciptakan bukan untuk menetap, melainkan hanya untuk sekadar lewat.

Ini adalah tentang kesunyian seorang penjaga memori. Betapa beratnya beban seseorang yang harus membawa beban ingatan yang utuh sendirian.

Di pengujung segalanya, kita akhirnya diajak memahami bahwa cinta sering kali meminta pengorbanan yang sunyi. Kita sering menganggap bahwa tragedi terbesar dalam hidup adalah kegagalan untuk bersatu. Namun, melalui kisah ini, kita akan pulang dengan satu kesadaran yang getir: bahwa yang paling menyakitkan bukan tentang cinta yang tidak bisa memiliki. Melainkan ketika kita bisa, namun kita secara sadar memilih untuk tidak melakukannya. Demi kebahagiaan orang lain yang kita cintai di atas kepentingan diri sendiri.

One Day bukan sekadar tontonan, ia adalah upacara pemakaman bagi harapan-harapan yang dipaksa mati. Bersiaplah untuk terdiam lama setelah layar menjadi gelap, karena jenis kesedihan seperti ini tidak akan pergi hanya dengan sekali usapan air mata.

Leave a comment