Skip to main contentScroll Top
CERPEN
Pemuja Rahasia

dari lirik lagu Sheila on 7,

Tentang doa yan tetap terucap, tentang harap yang tak pernah lenyap, tentang selesai dari yang tak pernah dimulai.

Yang terhenti sebelum perlu diperjuangkan.

Aku melihatmu menahan, mengecil, dan menjauh dari dirimu sendiri, sementara aku memilih tinggal—meski tahu kita tidak akan pernah sampai

Pagi datang dengan cara yang sama: sunyi, pelan, dan hampir tidak terasa. Di antara rutinitas yang luput dari ingatan, ada satu nama yang selalu terselip dalam doa. Aku tidak memintanya dengan muluk; “Tuhan, jaga dia di bagian-bagian yang tak mampu kujangkau sendirian. Untuk selalu bahagia dalam penuh ketenangan”. Setelah itu, pagi membawaku ke dalam satu diam yang panjang, berjeda di antara dua napas, tepat sebelum hiruk-pikuk hari mengambil alih sepenuhnya. Dan di antara jeda itu, namamu menetap sebagai amin yang paling senyap.

Mungkin karena aku mengawasimu terlalu lama, dari menikmati tutur lakumu dari sudut gelap secara saksama, hingga aku hafal bagaimana caramu menyembunyikan lelah di balik sapa. Aku mengenalmu lewat pilihan kata yang kamu sisakan, lewat cara kamu menatap dunia, dan lewat diam yang kamu pilih saat sebenarnya ada banyak hal yang ingin kamu suarakan.

Bagian-bagian yang kamu jaga rapat itu perlahan menjadi lekat dalam ingatanku. Aku melihatmu sebagai sosok yang gemar menahan dan memilih tenang, seolah segalanya bisa selesai hanya dengan kuat sendirian. Padahal, aku ingin kamu tahu bahwa sesekali menangis itu tidak apa-apa. Tidak semua hari harus kamu lalui dengan utuh, ada kalanya kamu diizinkan untuk sesekali runtuh; tidak semua luka harus kamu rapikan dan tidak semua lelah harus kamu sembunyikan.

Sering kali aku sesak melihatmu yang gemar menyempitkan ruang bagi dirimu sendiri. Kamu terlalu merawat rendah hatimu hingga ia berubah menjadi jeruji, membuatmu lebih memilih menunduk di sudut sunyi saat seharusnya kamu tegak berdiri sebagai pemilik hari. kamu seolah-olah menganggap binar di matamu adalah beban yang harus kamu sembunyikan dari dunia

Kamu terbiasa merawat batas-batas semu di kepalamu, menciptakan jarak pada hal-hal yang sebenarnya bisa kamu tuju. kamu berdiri di depan sumur harapanmu sendiri, menatap airnya yang tenang, namun memilih untuk tetap di sana tanpa benar-benar ingin meraihnya. Kamu seolah asing dengan keinginanmu sendiri, hingga keberanian untuk sekadar mencecap airnya pun kamu anggap sebagai sesuatu yang tak berhak untuk kamu miliki. Kamu belajar merasa cukup dengan setengah; setengah percaya dan setengah melangkah. Kamu terbiasa menerima tanpa banyak tanya, seakan apa pun yang datang sudah cukup dan apa pun yang pergi memang tak layak dipertahankan. Kamu membiarkan mimpi-mimpimu memudar dan menguap menjadi hampa, hanya karena kamu terlalu enggan untuk sekadar beradu sapa dengan takdir yang tak kunjung kamu paksa.

“Aku tidak harus punya semuanya,” ucapmu ringan kala itu. Aku mengangguk, namun dalam diam aku tahu—ini bukan tentang memiliki segalanya, tapi tentang caramu yang terlalu sering memadamkan api di dalam dirimu sebelum ia sempat menyala. Dan entah kenapa, itu justru membuatku ingin tinggal sedikit lebih lama, melihatmu dari sisi yang belum sempat kamu sadari ada.

Semakin lama aku memperhatikan, semakin aku paham bahwa caramu bertahan adalah sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kebiasaan. Bukan karena semuanya selalu mudah, tapi karena kamu tidak menjadikan sulit sebagai sesuatu yang harus kamu perlihatkan. Tanpa kamu sadari, dari cara-cara kecil yang kamu anggap biasa itu, aku mulai melihatmu dengan cara yang tidak lagi sama—sebagai seseorang yang tahu bagaimana tetap berdiri tegak tanpa perlu membuat dunia tahu seberapa berat beban yang sedang kamu dekap.

Itulah alasan mengapa namamu selalu menemukan celah untuk menyelinap ke dalam doaku. Ada sesuatu dari caramu yang membuatku diam-diam terkait, meski aku harus menjagamu di antara jarak yang rumit, atau sekadar mengagumimu melalui sudut yang sempit. Pada akhirnya, aku belajar dari caramu yang tenang: bahwa tidak semua yang kita inginkan harus kita miliki, dan tidak semua yang dekat harus kita genggam dalam jemari. Aku menyayangimu dengan luar biasa, namun aku pun sadar bahwa antara memuja dan memiliki, kita hanyalah dua garis cakrawala yang dipaksa bersisian tanpa pernah bisa benar-benar bersentuhan muka.

Kamu tidak perlu menghiraukan apa yang kurasakan; jangan merasa terbebani oleh sayang yang memang tidak butuh balasan. Biarkan aku menjadi pemujamu yang menjagamu dari kejauhan sampai ujung waktu yang tak lagi menyisakan pertanyaan. Izinkan aku menyimpan harap yang tak terucap—bahwa suatu saat nanti, mungkin di waktu setelah mati, aku ingin memberimu sejuk melalui peluk.

Tapi untuk saat ini, adamu yang tenang sudah cukup mengikis lara yang menyapa. Aku akan menyayangimu dengan caramu menjalani hidup: tidak mengejar, tidak memaksa dan tidak harus memiliki.

Bagiku, asal aku tahu bahwa kamu ada dan hidup—dan itu sudah cukup.

Leave a comment