Lucarelli Dan Cinta Yang Dibawanya

oleh

Untuk pertama kalinya dalam 30 tahun terakhir, sore itu di Armando Picchi, Livorno berkesempatan untuk bisa naik ke Serie-B. Syarat nya hanya satu, memenangkan pertandingan melawan Treviso. Fans memenuhi Armando Picchi dengan harapan di sertai keyekinan tebal untuk bisa berpesta setelah 90 menit nanti. Sukacita itu pecah ketika Igor Protti membuat gol tunggal yang membuat Livorno menang 1-0 dan seperti tradisi scudetto di Italia, semua fans dari tribun turun langsung ke lapangan untuk saling merayakan entah dengan pemain, penonton lain atau bahkan orang yang tidak di kenalnya sebelum pertandingan. Di tengah euforia maksimal dari seluruh fans Livorno, ada satu sosok pria tinggi berwajah tegas yang familiar turut serta dalam perayaan sore itu. Ya, Cristiano Lucarelli hadir saat itu di Armando Picchi untuk menonton Livorno berlaga. Lucarelli menyempatkan mendukung langsung meski harus meminta izin mati-matian kepada Torino, klub nya saat itu untuk tidak ikut bertanding demi pulang ke kota kelahiran nya.  Anda pernah berkorban macam apa demi suatu hal atau seorang yang anda cintai? Saya mungkin akan mendapat jawaban yang beragam, tapi apa yang telah di lakukan Lucarelli hari itu jelas sangat layak untuk di anugrahi sebagai sebuah tindakan cinta.

Sebagai gambaran singkat, Livorno adalah sebuah kota pelabuhan di pantai barat Italia dimana di kota ini pula lah Partai Komunis Italia di dirikan pada medio 1921 lalu.  Fakta tersebut otomatis menjadikan kota Livorno adalah simbol komunis di Italia. DI kota komunis itu pula lah, hanya ada satu klub sepakbola yang pada akhirnya membuat masyarakat Livorno menjadi fans yang sangat homogen. Lebih dari 90 persen masyarkat di sana berhaluan kiri dari sisi politik. Hal itu lah yang membuat fans Livorno tidak segan memasang giant banner bergambar Che Guevara atau gambar palu arit di tribun ketika Livorno berlaga di Armando Picchi. Mereka juga turut memperingati hari kelahiran Stalin setiap 18 Desember dan fans Livorno nyaris selalu menyanyikan lagu Red Flag yang notabene nya adalah lagu resistensi kaum komunis di saat Perang Dunia ke 2. Livorno adalah sebuah kontradiksi di Italia yang sudah di ketahui bersama menganut paham fasisme, meski dewasa ini ideology itu pun sudah di tinggalkan. Dan sejarah dunia pun mencatat, bahwa faham fasisme adalah faham yang akan selalu bersebrangan dengan komunisme.

Kisah Lucarelli dan Livorno di mulai ketika tahun 1997 lalu ia tampil untuk Italia U-21 di sebuah laga Internasional menghadapi Moldova. Lucarelli yang pada saat itu di sebut sebagai striker berprospek cerah sukses mencetak gol. Ketimbang melakukan selebrasi menunjuk tangan ke langit tanda syukur kepada Tuhan yang menjadi trademark Kaka dan di ikuti oleh Evan Dimas dkk, Lucarelli berlari riang menuju tribun fans Italia yang berada di belakang gawang Moldova. Lucarelli membuka jersey nya, dan saat itulah tergambar jelas wajah Che Guevara di kaos dalam nya. Sejak itu, setiap pelatih Italia seperti mendapat larangan tidak tertulis dari FIGC untuk memanggil Lucarelli ke Timnas. Bisa di bilang, Lucarelli di cekal federasi sepakbola negara nya sendiri. Apakah itu melunturkan cinta Lucarelli ke Livorno dan ideologi nya? Sama sekali tidak.

 “Some players buy themselves a Ferarri or a yacht for a billion lira. I bought myself a Livorno shirt. That’s all. “

Anda pernah membaca kutipan itu? Ya, itu adalah sepengggal kalimat yang terlontar dari Cristiano Lucarelli di awal musim 2003-2004. Lucarelli secara sadar memutuskan kembali bermain untuk Livorno di Serie-B dan membeli sisa kontrak nya sendiri di Torino seharga 1 juta lira. Pemain lain mengeluarkan uang sebesar itu untuk membeli kendaraan mewah yang di bawa ke pusat latihan, Lucarelli mengeluarkan uang sebesar itu untuk membeli sesuatu yang di yakini nya akan membuatnya bahagia. Mengendarai mobil mewah atau berjemur di atas yacht pribadi di kepulauan Karibia bukan berarti tak bisa memberikan kebahagiaan, tapi Lucarelli memilih serta menciptakan kebahagiaan dengan caranya sendiri. Bukankah Radit pernah berkata kepada Jani kalo kebahagiaan itu kita yang ciptakan persetan orang bilang apa?

Serse Cosmi pelatih flamboyant di kancah persepakbolaan Italia, pernah berujar bahwa Lucarelli adalah Livorno. Pernyataan Cosmi, boleh jadi di dasari oleh fakta-fakta yang memang membuat Lucarelli itu “Livorno banget”. Ada tato lambang Livorno di lengan kiri Lucarelli, Clenched Fist Salute tak pernah lupa di lakukan Lucarelli di setiap pertandingan bersama Livorno dan no 99 yang ia pakai adalah bentuk penghormatan dirinya terhadap kelompok Ultras Garis Keras Brigate Autonome Livornesi yang berdiri pada tahun 1999.

Tahun 2007 lalu, Lucarelli di undang oleh John Foot (penulis buku Calcio A History of Italian Football) untuk hadir di seminar sepakbola bertajuk “Money, Politics and Violence. Does Italian Football have a future ?“ yang di selenggarakan di London. Lucarelli  ketika itu di mintai pendapat nya soal sepakbola yang bersih dan Lucarelli dengan yakin berujar bahwa sepakbola Italia akan jauh dari kata bersih selama orang Italia masih memiliki sifat tidak dewasa ketika mengalami kekalahan dan tetap menghalalkan segala cara untuk menang. Di seminar itu pula, lagi-lagi Lucarelli mengeluarkan sebuah kutipan yang pasti akan saya loved jika ia posting di path, “If I had super natural powers, I would pick up Livorno and place it in England. To me, that would be ideal.” Makna yang tersirat dari ucapan Lucarelli itu seperti memendam keinginan agar orang Italia khususnya Livorno mau terbuka dan belajar dari orang Inggris agar legowo dalam menerima kekalahan. Lucarelli yang asli Italia dengan berani mengkritik orang Italia secara umum dan seolah menyalahkan bahwa kemunduran sepakbola Italia yang bisa terjadi kapan saja berawal dari penyakit moral orang Italia sendiri. Komunisme sebagai faham yang di anut Lucarelli dan ribuan masyarakat Livorno lain nya, sejatinya adalah faham yang memiliki keberpihakan tinggi kepada rakyat miskin dan menolak kapitalisme yang di anggap nya adalah penghisapan manusia terhadap manusia. Lucarelli mengibaratkan masyarakat Livorno sebagai “rakyat miskin” oleh karena itu Lucarelli tidak rela jika praktik culas di persepakbolaan Italia menggerus semangat kejujuran fans sepakbola di kota Livorno. Lucarelli seolah siap berdiri menantang di sisi kiri meski di sisi lain nya mengepung dan mencoba meniadakan komunisme usang masyarakat Livorno.

Saya setuju sepenuhnya dengan Serse Cosmi soal Lucarelli adalah Livorno. Kota Livorno dapat di rangkum secara ringkas dengan melihat sosok Lucarelli. Walaupun Lucarelli tidak pernah tamat sekolah, Lucarelli tahu betul bagaimana caranya menjadi orang Livorno. Ia besar dan terdidik dengan cara Livorno. Lucarelli tahu betul siapa yang harus ia idolai jika harus memilih antara Che Guevara atau Silvio Berlusconni. Dan tidak salah juga jika kita melabeli semua tindakan Lucarelli terhadap Livorno karena di dasari cinta. Cinta yang mungkin akan membuat CV karier sepakbola Lucarelli miskin trophy dan tenggelam dalam sejarah panjang sepakbola dunia. Tapi percayalah, nama seorang Cristiano Lucarelli akan abadi di kota tua itu. Bukankah nama yang terus di ingat karena keteguhan hati jauh lebih membanggakan dari sekedar deretan trophy?

credit photo : google.com
credit photo : google.com

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Esai

Go to Top