Scroll to top

Serie A

Pram Ichanx
Posted by Pram Ichanx
27 July 2017

Surat Yang Terlambat Kukirim

Tarikan nafas dalam atas sebatang rokok dengan huruf berwarna merah dan hitam di muka bungkus nya, menjadi hal pertama yang menyentuh bibir ku. Sebotol whisky yang tak penuh sisa semalam di sisi kanan seperti sedang bersiap jika aku butuh tameng dari hembusan kejam angin Samudera Adriatic. Waktu di awal Juli ketika belum di mulai nya aktivitas rutin mengenai sepakbola begitu ku nikmati terutama di usia ku yang tak lagi muda. Aku tak perlu lagi sesibuk di masa lalu untuk menelpon atau menerima panggilan telepon dari banyak agen yang bahkan tak satu pun ku ingat nama nya yang dengan mulut manis nya menjajakan pemain atau mencoba merekrut pemain asuhan ku. Bulan ke tujuh selalu menjadi waktu dimana ular setan penghasut Hawa di Taman Eden hadir lagi dalam balutan setelan perlente demi keuntungan pribadi maupun keuntungan klub pembeli di kemudian hari.

Read More
Muhammad Wanda Syafii
Posted by Muhammad Wanda Syafii
25 October 2016

Kapten Pendosa

Beberapa tahun lalu, Claudio Lotito, presiden klub Italia, Lazio mengecam Ultras Lazio dan melarang fans garis keras tersebut hadir di setiap pertandingan kandang mereka. Beberapa tahun lalu pula, fans klub Serie A lainnya, Genoa, menghukum para pemainnya dengan memaksa para pemain menanggalkan jersey klub kesayangan mereka. Fans menganggap jika para pemain tidak pantas mengenakan jersey kebanggaan kota Genoa tersebut yang tengah terpuruk di klasemen. Bersitegang dengan fans memang menjadi hal yang lumrah di Italia. Tetapi, ketegangan yang disebabkan Mauro Icardi, striker Inter Milan, dengan para Interisti tentu dua, atau tiga tingkat diatas 2 permasalahan yang saya jabarkan di atas.

Read More
Pram Ichanx
Posted by Pram Ichanx
5 May 2016

Surat Terakhir Sang Legenda

"Daripada delapan scudetto. Daripada promosi dari Seri B. Daripada satu Coppa Italia. Daripada empat Piala Super Italia. Daripada satu trofi Liga Champions. Daripada satu Piala Super Eropa. Daripada satu Piala Interkontinental. Daripada sebuah gol ke gawang Fiorentina. Daripada sebuah gol dengan gaya Del Piero. Daripada sebuah gol di Tokyo. Daripada air mata saya. Daripada sebuah gol di Bari. Daripada sebuah gol voli back-heel di dalam derby. Daripada sebuah gol untuk Avvocato. Daripada lidah yang terjulur dalam laga melawan Inter. Daripada sebuah assist untuk David. Daripada gol nomor 187. Daripada sebuah gol di Jerman. Daripada Berlin. Daripada sebuah gol ke gawang Frosinone. Daripada gelar top skorer Seri B. Daripada gelar top skorer Seri A. Daripada sebuah standing ovation di Bernabeu. Daripada 704 pertandingan dalam kostum hitam putih. Daripada 289 gol. Daripada sebuah tendangan bebas yang berbuah scudetto. Daripada sebuah gol ke gawang Atalanta. Daripada rekor apapun. Daripada kostum nomor 10. Daripada ban kapten.

Tidak ada, tapi... apa yang sudah kalian berikan kepadaku selama 19 tahun ini. Aku senang karena kalian tersenyum, bersorak, menangis, menyanyi, berteriak untukku dan denganku. Tak ada warna yang lebih cerah bagiku selain hitam dan putih. Kalian membuat mimpiku jadi nyata. Lebih daripada hal lain apapun, hari ini aku cuma mau bilang TERIMA KASIH. Selalu di samping kalian."

Read More
Pram Ichanx
Posted by Pram Ichanx
4 August 2015

Anomali Totti

Saat tulisan ini muncul di layar gadget anda, Steven Gerrard mungkin sedang berlari lari kecil di Stub Hub Center California bersama Robbie Keane di bawah arahan Bruce Arena. Gerrard adalah satu dari beberapa nama yang akhirnya memutuskan meninggalkan panggung sepakbola Eropa. Silau nya lampu sorot di benua biru tak lagi di rasa nyaman hingga akhir nya Amerika menjadi tujuan selanjutnya. Hasrat Gerrard untuk bisa menjadi juara Liga Inggris mungkin masih menyala meski dengan cahaya yang temaram bahkan nyaris mati. Maka tak ada yang salah juga ketika seorang Steven Gerrard memilih merumput di MLS agar lebih menikmati hidup nya sebagai pemain sepakbola yang tetap di bayar mahal namun dengan tekanan yang jauh lebih ringan.

Apakah Gerrard pengecut? Apakah Gerrard layak di labeli pecundang yang memilih meninggalkan medan perang nya sebelum ia benar benar gugur dalam pertempuran nya? Saya pribadi tak sesinis itu menilai keputusan Gerrard. Di usia nya yg tak lagi muda Gerrard hanya ingin terus bermain dengan tekanan yang tak melulu memaksanya lelah secara fisik dan pikiran. Gerrard butuh kenyamanan yang bisa melahirkan kebahagiaan dan Gerrard tahu betul kebahagiaan nya harus ia ciptakan sendiri meski itu harus membuatnya pergi dari kota yang ia cintai.

Read More
Pram Ichanx
Posted by Pram Ichanx
14 March 2015

Lucarelli Dan Cinta Yang Dibawanya

Untuk pertama kalinya dalam 30 tahun terakhir, sore itu di Armando Picchi, Livorno berkesempatan untuk bisa naik ke Serie-B. Syarat nya hanya satu, memenangkan pertandingan melawan Treviso. Fans memenuhi Armando Picchi dengan harapan di sertai keyekinan tebal untuk bisa berpesta setelah 90 menit nanti. Sukacita itu pecah ketika Igor Protti membuat gol tunggal yang membuat Livorno menang 1-0 dan seperti tradisi scudetto di Italia, semua fans dari tribun turun langsung ke lapangan untuk saling merayakan entah dengan pemain, penonton lain atau bahkan orang yang tidak di kenalnya sebelum pertandingan. Di tengah euforia maksimal dari seluruh fans Livorno, ada satu sosok pria tinggi berwajah tegas yang familiar turut serta dalam perayaan sore itu. Ya, Cristiano Lucarelli hadir saat itu di Armando Picchi untuk menonton Livorno berlaga. Lucarelli menyempatkan mendukung langsung meski harus meminta izin mati-matian kepada Torino, klub nya saat itu untuk tidak ikut bertanding demi pulang ke kota kelahiran nya.  Anda pernah berkorban macam apa demi suatu hal atau seorang yang anda cintai? Saya mungkin akan mendapat jawaban yang beragam, tapi apa yang telah di lakukan Lucarelli hari itu jelas sangat layak untuk di anugrahi sebagai sebuah tindakan cinta.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
18 February 2015
andhikamppp
Posted by andhikamppp
5 January 2015
andhikamppp
Posted by andhikamppp
13 November 2014
Pram Ichanx
Posted by Pram Ichanx
30 September 2014

ZEMAN, DAN FILOSOFI YANG (TAK PERNAH) MATI

"Sepulang dari Giueseppe Meazza, Zeman dan kopinya sama sama berfilosofi"

Saat anda membaca tulisan ini, saya tidak tahu persis apa yang sedang di lakukan oleh seorang Zdenek Zeman. Ia b isa saja sedang merokok yang memang sudah menjadi kebiasaan nya sejak dulu. Ia bisa juga sedang tersenyum kecil membaca Koran-koran pagi Italia di awal pekan ini yang terkadang lembaran nya tertiup hembusan angin khas Pulau Sardinia. Yang pasti saya tahu, di usia nya yang kini semakin senja, pesona Zeman sebagai pelatih sepakbola bagi saya pribadi sama sekali belum memudar. Ia mungkin kalah pamor dengan deretan nama pelatih beken yang setiap hari beritanya tercecar di berbagai media, tapi atas apa yang pernah di lakukan nya untuk sepakbola Italia, saya bersyukur sempat hidup di zaman ketika Zdenek Zeman berkiprah dengan berbagai sisi negative dan positif yang ia miliki.

Pria kelahiran Praha, Cekoslovakia pada 12 Mei 1947, tiba di Italia pertama kalinya ketika ia mencari paman nya saat butuh pertolongan akibat konflik di negara kelahiran nya. Oleh banyak pengamat sepakbola di Italia, sejak kemunculan nya Zeman di cap sebagai pria dengan watak ekstrimis. Zeman tidak hanya jago menciptakan kontroversi, namun dengan watak semodel itulah Zeman mengkombinasikan sisi ekstrimis nya dengan filosofi sepakbola yang ia pegang teguh yaitu, all out attack football.

Ledakan awal seorang Zdenek Zeman di persepakbolaan Italia di mulai ketika ia mampu memoles tim tanpa tradisi yaitu Foggia menjuarai Serie B pada musim 1990-1991. Kala itu seantero Italia nyaris gempar ketika Zeman dan Foggia nya memainkan sepakbola yang sangat menyerang. Sepakbola menyerang nan atraktif yang di ikuti pressing ketat serta menciptakan high defensive line ala Foggia mendapat sorotan publik yang lantas melahirkan istilah Zemanlandia. Setelah promosi ke Serie-A, Foggia tetap membawa pola main tersebut ke kompetisi kasta tertinggi yang akhirnya menuai banyak apresiasi positif dari para pengamat sepakbola Italia. Bila anda seorang pelatih yang menerapkan pola menyerang nan agresif di Liga Jerman, Spanyol atau Inggris sekalipun anda akan di cap handal dan di nilai berprestasi, apalagi Zeman yang menerapkan pola itu di Italia. Zeman dengan berani memainkan gaya bermain menyerang di sebuah negara yang mengagungkan seni bertahan dan menang dengan cara-cara pragmatis. Pola main buah pikiran dari seorang Zeman yang di nilai ekstrimis seolah menampar telak pemuja cattenacio yang memilih mencetak 1 gol terlebih dahulu lalu bertahan sambil berharap serangan balik atas kesalahan lawan. Zeman mempersetankan pola main di balik frasa “menang dengan cara apapun” karena baginya, menang di sepakbola adalah terus menyerang selama 90 menit. Zeman mencintai sepakbola dengan cara nya sendiri, sepakbola yang menyerang.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
20 September 2014
Pram Ichanx
Posted by Pram Ichanx
4 September 2014

DEBUT YANG (TIDAK) INDAH

Andai saja Vidic  pernah belajar pelajaran Bahasa Indonesia

Mari kita sedikit bernostalgia , tepatnya kita coba kembali mengingat apa yang terjadi pada 22 September 2005. Hari itu, di Stadion Santiago Bernabeu, tuan rumah Real Madrid kedatangan tim tamu yaitu Atletic Bilbao. Wanderley Luxemburgo, pelatih Real Madrid kala itu  tidak melakukan banyak perubahan pada skuadnya kecuali memainkan seorang Inggris selain David Beckham. Malam itu Jonathan Woodgate yang di datangkan dari Newcastle United  akhirnya memainkan debut nya dengan seragam kebesaran Los Blancos. Woodgate sebenarnya sudah di datangkan dari musim sebelumnya, namun karena cedera kambuhan yang ia bawa sejak dari Liga Inggris, maka September 2005 itu lah ia baru benar benar bisa tampil di La Liga. Woodgate di partai itu di duetkan oleh Alvaro Mejia bek asal Spanyol yang di awal kemunculan nya di gadang gadang sebagai The Next Hierro meski pada kenyataan nya hanya wajah berminyak nya lah yang pantas di sejajarkan dengan Fernando “El Mariscal” Hierro. Menit ke 25 di babak pertama, sebuah sepakan dari Joseba Etxebarria coba di halau dengan kepala oleh Woodgate yang sialnya justru mengecoh Casillas dan mengakibatkan terciptanya gol bunuh diri. Debut di kandang lalu membuat gol bunuh diri. Bila anda pikir hal itu sudah tampak buruk, tunggu dulu sampai apa yang terjadi 40 menit kemudian tepatnya di menit ke 65 saat Woodgate menerima kartu kuning kedua yang berujung kartu merah. Woodgate melangkah menuju ruang ganti dengan wajah nelangsa. Ia masih tak percaya debut nya untuk klub impian seorang Santiago Munez di lewati dengan catatan gol bunuh diri dan kartu merah.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
2 September 2014
andhikamppp
Posted by andhikamppp
26 August 2014
andhikamppp
Posted by andhikamppp
11 August 2014
andhikamppp
Posted by andhikamppp
12 May 2014

Zanetti : Pahlawan Gotham Di Dunia Nyata

"A hero can be anyone, even a man doing something as simple and reassuring as putting a coat on a young boy's shoulders to let him know that the world hadn't ended"

Pahlawan bisa menjadi siapa saja, begitu yang diucapkan Christian Bale ketika memerankan Bruce Wayne dalam film The Dark Knight Rises. Pahlawan bukan hanya orang yang mampu menjaga apa yang dia cintai, apa yang ingin dijaga, tetapi pahlawan adalah orang yang mampu menggugah orang lain untuk melakukan hal yang sama, berjuang untuk apa yang dia cintai.

Saya mencoba mengingat tiap tiap scene dalam film The Dark Knight Rises tersebut, membayangkan tiap adegan dari film yang hampir satu tahun lebih belum saya tonton ulang (ini rahasia: sebenarnya Batman bukan superhero favorit saya). Setelah berusaha mengingat, dan mudah mudahan tidak salah, bukankah peran Batman dalam film tersebut lebih sebagai motivator ?? Ketimbang sebagai pemeran tunggal untuk melawan kejahatan ??

Bagaimana dia bisa menjadi sangat dibutuhkan di Gotham City, baik saat menjadi Bruce Wayne, ataupun saat menjadi Batman. Paling penting, bagaimana dia bisa membuat sosok pahlawan baru dalam diri John Blake (sampai akhirnya dia menjadi Robin pada akhir cerita), pada Jim Gordon, dan bahkan mampu merubah pandangan si Beatiful Thief , Catwoman.

Sulit menemukan sosok Bruce Wayne dalam kehidupan nyata.

Tapi, Hei, sebentar, bukankah ada orang seperti itu ?? Pahlawan yang baru saja mundur dari Medan Perangnya ??

Ya, bukankah sosok Bruce Wayne  sama seperti  dia, legenda hidup itu.

Dia yang bernama Javier Adelmar Zanetti.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
12 May 2014