Blog

Terang Bulan Juli

Tak ada yang lebih tabah, dari hujan bulan Juni. Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu. Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni. Dihapuskannya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu. Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni. Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu

Tersebut, adalah penggalan puisi ‘Hujan Bulan Juni’ sebuah mahakarya dari salah satu penulis terbaik yang dimiliki negeri ini: Sapardi Djoko Damono. Saya, jika diizinkan, ingin memaknai puisi tersebut sebagai rangkaian analogi dari sebuah penantian atas banyak sekali rindu, keragu-raguan, dan segala keniscayaan yang gamang. Oleh Djoko, hujan dibuat sebagai kawan yang menguatkan rasa rindu itu, sebagai teman yang mengiringi keragu-raguan itu, sebagai sahabat yang menyimpan segala gamang itu. Yang kesemuanya itu kemudian diejawantahkan dalan bentuk yang terang. Seperti yang biasanya terjadi setelah hujan berhenti. Lanjutkan Membaca …

Most Commented

Posted on

Satu Tahun Yang Lalu

“Sudah pembukaan empat, Pak” perawat berusaha menjelaskan setelah berulang kali aku menanyakan kondisi istri yang saat ini sedang terbaring di unit gawat… Lanjutkan Membaca ...

Posted on

Anak Kecil Itu

Suatu hari, pagi datang dengan sebagaimana mestinya. Embun yang beberapa waktu sebelumnya berjatuhan, memberikan nuansa sejuk pada pagi, kini telah digantikan cahaya… Lanjutkan Membaca ...

Posted on

Menyesal (Belum) Kuliah

Kita hidup pada masa dimana eksistensi di dunia kerja tak melulu soal kompetensi. Anda akan menemukan banyak sekali contoh dimana seseorang yang… Lanjutkan Membaca ...

Terang Bulan Juli

Tak ada yang lebih tabah, dari hujan bulan Juni. Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu. Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni. Dihapuskannya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu. Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni. Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu

Tersebut, adalah penggalan puisi ‘Hujan Bulan Juni’ sebuah mahakarya dari salah satu penulis terbaik yang dimiliki negeri ini: Sapardi Djoko Damono. Saya, jika diizinkan, ingin memaknai puisi tersebut sebagai rangkaian analogi dari sebuah penantian atas banyak sekali rindu, keragu-raguan, dan segala keniscayaan yang gamang. Oleh Djoko, hujan dibuat sebagai kawan yang menguatkan rasa rindu itu, sebagai teman yang mengiringi keragu-raguan itu, sebagai sahabat yang menyimpan segala gamang itu. Yang kesemuanya itu kemudian diejawantahkan dalan bentuk yang terang. Seperti yang biasanya terjadi setelah hujan berhenti. Lanjutkan Membaca …

Memilih Jarak

“Kamu yakin bersedia bergabung di perusahaan ini?” tanya seorang ahli ketika saya berkesempatan untuk hadir di sesi wawancara panggilan kerja beberapa waktu yang lalu. Pertanyaan yang sama hadir di kesempatan berikutnya saat penawaran dan kontrak kerjasama diajukan. Dua kali pertanyaan itu ditekankan karena saya memiliki catatan yang panjang bekerja di satu perusahaan. Sepuluh tahun tentu bukan waktu yang sebentar untuk saya bisa begitu saja mengiyakan sebuah tawaran. Namun di dua kesempatan itu saya, dengan banyak sekali hal dan tetek bengek lain yang sudah dipertimbangkan, menjawabnya dengan mantap: “Ya, tentu, saya bersedia”. Lanjutkan Membaca …

Setelah Pembukaan Kedua

“Iya. Sudah pembukaan, Pak. Tapi baru pembukaan satu”. Perawat berusaha menjelaskan kondisi istri yang kini terbaring di ranjang instalasi gawat darurat. Beberapa menit yang lalu aku menerobos masuk pintu rumah sakit meminta pelayanan terbaik untuk istriku yang sejak sore tadi merasakan nyeri luar biasa di perutnya. Kami bersepakat, melalui panggilan telfon, sesampainya aku di rumah kami langsung pergi untuk melakukan kontrol lanjutan demi memastikan adik di dalam perut baik-baik saja. Dan itu yang kulakukan kemudian, bahkan ketika aku belum benar-benar sampai masuk ke dalam rumah. Lanjutkan Membaca …

Akhir (Separuh) Perjalanan

Aku menatap kosong ke tengah taman yang lenggang. Di sana, di tengah taman itu, terdapat sebuah bangku tempat kami biasa bercengkerama, dalam rentang waktu satu-dua tahun terakhir satu persatu bangku telah kehilangan pemiliknya. Gelas-gelas yang biasanya berputar jauh, kini kembali lebih cepat. Akumulasi asap yang terkepul sudah menjadi sedemikian bias. Aku tersenyum. Rasa-rasanya baru kemarin taman ini ramai dengan tawa penghidupan. Sekarang semuanya berbeda. Aku bangkit berdiri. Menengok ke arah sana sekali lagi. Giliranku kali ini. Lanjutkan Membaca …

Teman Baru

Sedikit nasihat: Jika nanti suatu saat kamu mulai menyadari ada yang sesuatu yang berbeda di hubungan yang sedang kamu jalani, segeralah bertindak. Cari tahu dan lakukan sesuatu. Jangan terlalu lama diam. Jangan biarkan sedikit perbedaan itu menjalar menjadi sebuah masalah besar yang kamu tidak tahu apa dan bagaimana sampai akhirya ia rusak sempurna dan hilang saat kamu belum benar-benar siap merasakan kehilangan. Jika itu terjadi kemudian terimalah sakit hati yang menyebalkan. Lanjutkan Membaca …

1 2 3 77
Go to Top