Blog

Yang Kedua

Matahari masih malu-malu dan sembunyi ketika seorang lelaki menjejakan kakinya di tanah ibukota untuk mengakhiri perjalanan seperempat harinya. Bersamanya pemburu waktu berlalu-lalang dengan nafas-nafas menderu. Tak ada sapa di antara mereka, bahkan ketika uap-uap panas dari air mendidih para penyaji kopi di tengah pasar yang bingar itu memanggil, mereka tak peduli belaka. Suara lantang kumandang azan dari sebuah langgar kecil tiga kali dua tak jauh dari sana menjadi pembeda. Seolah bersepakat, semua deru cepat nafas itu melambat bersatu dalam lantunan ayat yang khidmat. Si Lelaki kini berada dalam barisan, menunggu giliran air yang berkucuran. Seperti orang lain kebanyakan, dalam tunggunya, lelaki itu membuka beberapa pesan. Memilah mana yang harus dibaca dan mana yang harus diabaikan. Matanya tertuju pada satu pesan, dari wanita yang ia pernah bersumpah demi Tuhan untuk selalu menjaganya. Gilirannya datang dan kini ia enggan, orang tua berkacamata di belakangnya ia persilakan duluan. Pesan ini, terlalu penting untuk dilewatkan. Pesan yang seharga dengan seluruh kehidupan.

Lanjutkan Membaca …

Most Commented

Anak Kecil Itu

Suatu hari, pagi datang dengan sebagaimana mestinya. Embun yang beberapa waktu sebelumnya berjatuhan, memberikan nuansa sejuk pada pagi, kini telah digantikan cahaya … Lanjutkan Membaca ...

Satu Tahun Yang Lalu

“Sudah pembukaan empat, Pak” perawat berusaha menjelaskan setelah berulang kali aku menanyakan kondisi istri yang saat ini sedang terbaring di unit gawat … Lanjutkan Membaca ...

Yang Kedua

oleh

Matahari masih malu-malu dan sembunyi ketika seorang lelaki menjejakan kakinya di tanah ibukota untuk mengakhiri perjalanan seperempat harinya. Bersamanya pemburu waktu berlalu-lalang dengan nafas-nafas menderu. Tak ada sapa di antara mereka, bahkan ketika uap-uap panas dari air mendidih para penyaji kopi di tengah pasar yang bingar itu memanggil, mereka tak peduli belaka. Suara lantang kumandang azan dari sebuah langgar kecil tiga kali dua tak jauh dari sana menjadi pembeda. Seolah bersepakat, semua deru cepat nafas itu melambat bersatu dalam lantunan ayat yang khidmat. Si Lelaki kini berada dalam barisan, menunggu giliran air yang berkucuran. Seperti orang lain kebanyakan, dalam tunggunya, lelaki itu membuka beberapa pesan. Memilah mana yang harus dibaca dan mana yang harus diabaikan. Matanya tertuju pada satu pesan, dari wanita yang ia pernah bersumpah demi Tuhan untuk selalu menjaganya. Gilirannya datang dan kini ia enggan, orang tua berkacamata di belakangnya ia persilakan duluan. Pesan ini, terlalu penting untuk dilewatkan. Pesan yang seharga dengan seluruh kehidupan.

Lanjutkan Membaca …

Saya dan Petisi yang Sedang Ramai

oleh

Dulu. Dulu sekali. Saya sempat mempertanyakan dampak dari petisi-petisi yang dibuat di salah satu media penyedia petisi daring. Maksud saya, apakah dari ratusan atau ribuan petisi yang dibuat itu menghasilkan sesuatu seperti apa yang diharapkan oleh si pembuat petisi. Beberapa waktu berikutnya berlalu. Hari ini saya mendapatkan jawabannya. Ya. Banyak dari petisi itu yang memberikan hasil. Salah satu contohnya yang menghebohkan, yang beberapa hari terakhir berseliweran di linimasa semua sosial media, tentang permohonan penghapusan iklan sebuah market place yang dibintangi Blackpink, vokal grup wanita asal Korea Selatan. Lebih dari 100.000 orang menandatanganinya, yang berarti setuju, bahwa iklan tersebut harus dihapuskan. Dan demikian pula lah yang terjadi kemudian. Komisi penyiaran ‘memerintahkan’ seluruh media televisi menurunkan iklan tersebut. Lucu.

Lanjutkan Membaca …

Main Sepeda

oleh

Beberapa waktu terakhir ayah saya menghujani percakapan di layanan pesan singkat dengan segala hal yang berbau sepeda. Entah itu berupa gambar, kalimat, cuplikan video atau catatan suara. Terganggu? Tidak sama sekali. Saya malah merasa senang, di usia senjanya, ayah masih getol beraktivitas di luar. Sekali waktu ia bercerita tentang perjalanannya ke pusat kota, hampir tiga puluh kilometer jauhnya dari rumah, bersama dengan gengong aki-aki di rumah. Di waktu yang lain dengan bangga ia menunjukan tiket funbike yang diselenggarakan di salah satu gelanggang olahraga terbesar di kota bahkan beliau memaksa ibu untuk ikut menemaninya bersepeda. Biar sehat dan enggak cepat lupa, katanya. Saya yang berada ratusan kilometer jauhnya hanya bisa melamun rindu. Rindu kepada ayah yang tetap jenaka, ibu yang terpaksa dan tentu yang ada bersama mereka: sepeda.   Lanjutkan Membaca …

Manusia Setengah Kampret

oleh

Di sosial media belakangan ini muncul istilah baru untuk membagi manusia ke dalam dua kelompok tertentu. Cebong dan Kampret. Saya tahu, meskipun sempat kebingungan di awal, mengapa istilah itu muncul. Dan tentu istilah dan panggilan tersebut bukanlah panggilan sayang. Mereka, yang pertama kali membuat istilah itu, mengamati perilaku kelompoknya yang berseberangan, membandingkannya dengan binatang, memilah mana yang buruk dan, tentu saja, yang bisa dijadikan objek cela. Saya tidak mau dan tidak pernah mau terlibat aktif di dua kelompok itu. Tapi, tiba-tiba kok ya saya tergelitik untuk menebak-nebak sendiri. Kalau melihat pola dan perilaku, saya ada di mana, sih? Lanjutkan Membaca …

Pake Duit Lu Aja Dulu Nanti Gue Ganti

oleh

Hari ini teman saya mendapatkan puncak perhatian yang luar biasa di akun twitternya. Melalui sebuah cuitan, ia mendapatkan impresi dan perhatian lebih dari lima ribu orang. Untuknya, hal ini menjadi pencapaian yang luar biasa menyenangkan. Di cuitan tersebut ia menyinggung tentang budaya cashless society plus ragam uang digital yang beredar di pasaran. Biasa? Betul, sebetulnya cuitan tersebut cuitan yang amat biasa yang rasa-rasanya tidak layak untuk diperhatikan. Sampai ia menutupnya dengan satu kalimat pamungkas: ‘Pake duit lu dulu ntar gue ganti’ sebagai salah satu jenis pembayaran yang sah. Kalimat itulah yang menjadi pembeda. Yang membuat cuitan tersebut pantas untuk diperhatikan. Sebuah kalimat yang amat sangat dekat di kehidupan kita. Lanjutkan Membaca …

Go to Top