cartoonaday-dot-com
Cerpen

Cerita tentang Wibi

Cerita ini dimulai saat matahari mulai tenggelam dan senja datang membawakan banyak sekali cerita. Sunyinya taman kota membuat suara ayunan yang berisik menjadi jelas setiap kali ia berdenyit. Satu persatu orang mulai pergi meninggalkan tempat itu, semakin sepi saja, menyisakan anak kecil yang termangu duduk sendiri di ayunan yang nyaris tak bergerak tepat di tengah taman kota. Ia mulai terisak di saat air matanya belum sempat jatuh. Tak ada yang lebih menyakitkan daripada itu. Tangis yang tak dibarengi oleh air mata. “Ayah” ia berucap pelan, memanggil sosok yang amat ia rindukan. Matahari sudah hilang sempurna. Langit menjadi gelap, plang Taman kanak-kanak Tadika Puri di seberang taman kota sudah tidak terlihat. Sudah lebih dari tiga jam ia menunggu disana, untuk anak seusianya ini sudah berlebihan. Tapi bagaimanalah, paman tak bisa menjemput tepat waktu, dipaksa kerja lembur.

Dari langit hujan datang beriringan, tak terlalu banyak namun cukup membuat anak itu basah kuyup. Ia tak peduli, karena di tengah taman kota, paman akan mudah menemukannya dan ia percaya paman akan segera datang. Benar saja, sebelum adzan Isya berkumandang paman datang tergesa-gesa, memeluknya erat merasa berdosa membiarkan anak sekecil itu menunggu lama di tengah hujan. “Maafkan paman datang terlambat, Wibi”. Lanjutkan Membaca

MOST COMMENTED

Family

Satu Tahun Yang Lalu

“Sudah pembukaan empat, Pak” perawat berusaha menjelaskan setelah berulang kali aku menanyakan kondisi istri yang saat ini sedang terbaring di unit gawat … Lanjutkan Membaca

pencil

Awal Cerita

“Memang Abang punya blog ??” Adit tak puas,  membuatku yang baru saja berniat untuk beranjak pindah ke ruang tamu, terpaksa harus menundanya … Lanjutkan Membaca

Credit photo : Kapanlagi.com

Duel Otak

Sejatinya, manusia hidup hanya untuk disibukkan oleh tanya jawab saja. Setiap harinya kita akan selalu disuguhkan pada ragam pertanyaan yang lantas harus … Lanjutkan Membaca

Cerita tentang Wibi

oleh

Cerita ini dimulai saat matahari mulai tenggelam dan senja datang membawakan banyak sekali cerita. Sunyinya taman kota membuat suara ayunan yang berisik menjadi jelas setiap kali ia berdenyit. Satu persatu orang mulai pergi meninggalkan tempat itu, semakin sepi saja, menyisakan anak kecil yang termangu duduk sendiri di ayunan yang nyaris tak bergerak tepat di tengah taman kota. Ia mulai terisak di saat air matanya belum sempat jatuh. Tak ada yang lebih menyakitkan daripada itu. Tangis yang tak dibarengi oleh air mata. “Ayah” ia berucap pelan, memanggil sosok yang amat ia rindukan. Matahari sudah hilang sempurna. Langit menjadi gelap, plang Taman kanak-kanak Tadika Puri di seberang taman kota sudah tidak terlihat. Sudah lebih dari tiga jam ia menunggu disana, untuk anak seusianya ini sudah berlebihan. Tapi bagaimanalah, paman tak bisa menjemput tepat waktu, dipaksa kerja lembur.

Dari langit hujan datang beriringan, tak terlalu banyak namun cukup membuat anak itu basah kuyup. Ia tak peduli, karena di tengah taman kota, paman akan mudah menemukannya dan ia percaya paman akan segera datang. Benar saja, sebelum adzan Isya berkumandang paman datang tergesa-gesa, memeluknya erat merasa berdosa membiarkan anak sekecil itu menunggu lama di tengah hujan. “Maafkan paman datang terlambat, Wibi”. Lanjutkan Membaca

Menyesal (Belum) Kuliah

oleh

Kita hidup pada masa dimana eksistensi di dunia kerja tak melulu soal kompetensi. Anda akan menemukan banyak sekali contoh dimana seseorang yang kurang cakap menjadi pimpinan dalam suatu roda organisasi, alih-alih menjalankan fungsi operasi bahkan beberapa diantaranya kerap gagap menjalankan deskripsi kerja yang menjadi tanggung jawabnya. Atau sebaliknya saya dan mungkin juga anda akan merasa getir ketika melihat seseorang yang luar biasa pintar, berkompetensi tinggi ditambah dengan etos kerja yang baik tetapi berada di titik terbawah dalam suatu roda organisasi.

Saya sering sekali berpikir, apa alasan orang yang standar atau kurang cakap atau malah bodoh bisa memimpin orang yang mahir dalam segala bidang. Dalam beberapa kali pengamatan juga disertai dengan diskusi. Saya memiliki dua jawaban terbaik. Yang pertama adalah latar belakang pendidikanlah yang kerap menjadi alasan. Orang yang memiliki pendidikan lebih tinggi seringkali dianggap lebih kompeten, lebih pantas untuk memimpin dan tentu saja lebih pantas untuk dihargai lebih tinggi. Astaga, jika benar seperti itu aturan mainnya, untuk saya yang hanya lulusan SMA, habislah sudah kesempatan. Lanjutkan Membaca

Surat Terakhir Sang Legenda

oleh

“Daripada delapan scudetto. Daripada promosi dari Seri B. Daripada satu Coppa Italia. Daripada empat Piala Super Italia. Daripada satu trofi Liga Champions. Daripada satu Piala Super Eropa. Daripada satu Piala Interkontinental. Daripada sebuah gol ke gawang Fiorentina. Daripada sebuah gol dengan gaya Del Piero. Daripada sebuah gol di Tokyo. Daripada air mata saya. Daripada sebuah gol di Bari. Daripada sebuah gol voli back-heel di dalam derby. Daripada sebuah gol untuk Avvocato. Daripada lidah yang terjulur dalam laga melawan Inter. Daripada sebuah assist untuk David. Daripada gol nomor 187. Daripada sebuah gol di Jerman. Daripada Berlin. Daripada sebuah gol ke gawang Frosinone. Daripada gelar top skorer Seri B. Daripada gelar top skorer Seri A. Daripada sebuah standing ovation di Bernabeu. Daripada 704 pertandingan dalam kostum hitam putih. Daripada 289 gol. Daripada sebuah tendangan bebas yang berbuah scudetto. Daripada sebuah gol ke gawang Atalanta. Daripada rekor apapun. Daripada kostum nomor 10. Daripada ban kapten.

Tidak ada, tapi… apa yang sudah kalian berikan kepadaku selama 19 tahun ini. Aku senang karena kalian tersenyum, bersorak, menangis, menyanyi, berteriak untukku dan denganku. Tak ada warna yang lebih cerah bagiku selain hitam dan putih. Kalian membuat mimpiku jadi nyata. Lebih daripada hal lain apapun, hari ini aku cuma mau bilang TERIMA KASIH. Selalu di samping kalian.”
Lanjutkan Membaca

Si Lion Air

oleh

Pada usia saya sekarang ini, saya beberapa kali sudah melakukan perjalanan udara. Menjelajah dari satu kota ke kota yang lain pindah dari suatu pulau ke pulau lainnya di dalam negeri. Entah itu untuk kepentingan pribadi ataupun untuk urusan pekerjaan. Ah, dari beberapa kali yang banyak itu lebih dari separuhnya adalah urusan pekerjaan yang artinya hanya sedikit sekali saya mengeluarkan sisa gaji untuk membeli tiket pesawat udara. Harap dimaklum karena saya memang bukan tipe orang yang suka bepergian.

Oleh karena perusahaanlah yang menanggung tiket perjalanan udara mereka jugalah yang menentukan dengan apa saya bepergian. Itu berarti saya tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk memilih maskapai penerbangan apa yang akan saya gunakan. Seperti banyaknya kebijakan di perusahaan lain, maskapai yang menjadi primadona setiap saya melakukan kepentingan bisnis adalah Lion Air. Ia menyumbang hampir tujuh puluh lima persen cerita saya berkendara di udara. Lantas apa yang menjadikan maskapai dengan jalur penerbangan terbanyak di negeri ini menjadi policy banyak perusahaan untuk setiap business trip ?? Apa dengan banyaknya menjadi pilihan lantas menjadikan mereka maskapai terbaik ?? Lanjutkan Membaca

Dari Tepian Mahakam

oleh

Seorang lelaki yang baru genap berusia dua puluh tahun melakukan perjalanan udara untuk pertama kalinya. Berpindah dari pulau terpadat menuju pulau terbesar yang ada di negerinya. Ia enggan untuk ragu, enggan pula untuk kelu karena bagaimanapun yang ia lakukan saat ini adalah sebagian saja dari rencana masa kecilnya.

Pada hari itu paripurna sudah ia menjadi asing untuk banyak orang di sekitarnya. Termuda diantara banyak usia dan boleh jadi terbodoh diantara para profesional yang ada. Namun, sekali lagi ia enggan untuk ragu, enggan pula untuk kelu. Dengan modal seadanya ia bersiap untuk bernafas dan berkeringat dalam entah beberapa lama kemudian untuk bertahan hidup di tanah yang baru ia pijak. Di tepian sungai Mahakam, ibukota Kalimantan Timur, Samarinda. Lanjutkan Membaca

Go to Top