Review

Agama Apa Yang Pantas Bagi Pohon-pohon?

Jika ada satu hal yang harus saya syukuri atas apapun yang telah saya lakukan di hari pergantian tahun kemarin adalah : saya memutuskan untuk memulai tahun ini dengan membaca ‘Agama apa yang pantas bagi pohon-pohon?’ buah tangan Eko Triono. Sungguh karya yang begitu memesona. Sebelum Anda memutuskan untuk membacanya, sebaiknya Anda membaca terlebih dahulu bagian belakang cetak buku. Ada sebuah pesan yang mengatakan bahwa “Eko Triono tidak membiarkan pembacanya tenang, Ia bersengaja meninggalkan kegelisahan melalui tulisannya. Kisah-kisah dalam buku ini sebaiknya dinikmati secara utuh. Lalu tak apa jika kemudian kamu melamun”. Sebuah pesan yang tidak bisa diabaikan. Dan bersama buku ini, saya menemukan lamunan yang menyenangkan. Lanjutkan Membaca …

Most Commented

Anak Kecil Itu

Suatu hari, pagi datang dengan sebagaimana mestinya. Embun yang beberapa waktu sebelumnya berjatuhan, memberikan nuansa sejuk pada pagi, kini telah digantikan cahaya … Lanjutkan Membaca ...

Kupu-Kupu Malam

Ia berdiri di dalam hujan yang berjatuhan perlahan, bersandar pada sebatang tiang dengan lampunya yang mulai padam. Ia, wanita itu, hanya menatap … Lanjutkan Membaca ...

Agama Apa Yang Pantas Bagi Pohon-pohon?

oleh

Jika ada satu hal yang harus saya syukuri atas apapun yang telah saya lakukan di hari pergantian tahun kemarin adalah : saya memutuskan untuk memulai tahun ini dengan membaca ‘Agama apa yang pantas bagi pohon-pohon?’ buah tangan Eko Triono. Sungguh karya yang begitu memesona. Sebelum Anda memutuskan untuk membacanya, sebaiknya Anda membaca terlebih dahulu bagian belakang cetak buku. Ada sebuah pesan yang mengatakan bahwa “Eko Triono tidak membiarkan pembacanya tenang, Ia bersengaja meninggalkan kegelisahan melalui tulisannya. Kisah-kisah dalam buku ini sebaiknya dinikmati secara utuh. Lalu tak apa jika kemudian kamu melamun”. Sebuah pesan yang tidak bisa diabaikan. Dan bersama buku ini, saya menemukan lamunan yang menyenangkan. Lanjutkan Membaca …

Cerita Akhir Tahun

oleh

“Mau minum teh manis hangat, bageur?”. Senja yang sudah hilang sedari tadi tidak serta membuat langit menjadi gelap. Lihatlah, dari jendela kamar rumah sakit terlihat langit masih terang memesona akibat hiruk pikuk manusia, dengan kembang api yang mereka nyalakan bergantian, menyambut malam pergantian tahun. Ia, wanita yang kutawari segelas teh hangat itu, mengangguk manja, “jangan terlalu panas ya, Ayah”. Aku tersenyum, tanganku terampil menuangkan air kedalam gelas sebelum memasukan satu buah teh celup beraroma khas, juga dengan satu-dua sendok gula. Lalu kemudian aku sodorkan, gelas itu, kepada pemiliknya. Ia yang sedang terbaring segera meminumnya perlahan. “Ayah” ia mengucap kata pelan. “Maaf” dengan rona kesedihan kata itu diucapkan sedemikian pelan. Lanjutkan Membaca …

Cara Menghargai Mereka

oleh

Sepanjang hari kemarin ada satu yang berbeda pada linimasa di hampir semua media sosial yang saya miliki. (Hampir) tak ada sedikitpun bahasan tentang segala perbincangan politik yang biadab atau tentang agama atau tentang segala sangkut paut yang boleh jadi bisa merusak kebinekaan. Makhluk media sosial hidup, sepanjang hari itu, hidup penuh dalam rasa damai akibat satu bahasan konyol, yang sebetulnya sudah usang, namun kembali diperbincangkan. Tentang sebuah aksi yang bisa kita temukan di sekitar, yang menyenangkan meski dalam beberapa kasus sebetulnya amat berbahaya untuk dilakukan : om telolet om. Lanjutkan Membaca …

Satu Langkah Lagi, Garuda

oleh

Siapa menyangka tim sepakbola negeri ini, meski pincang di awal, bisa berlari sedemikian jauh pada perhelatan sepakbola akbar se-Asia tenggara dalam tajuk Piala AFF 2016. Padahal di awal tahun, sepakbola negeri ini masihlah dirundung duka akibat dimatikan secara sepihak karena olah pikir ketidakbecusan para penguasa yang semena-mena. Dan di akhir tahun, kita berada di ujung jalan untuk memperebutkan singgasana tertinggi di sebelah tenggara asia melawan mereka, negeri gajah putih, sang penguasa sementara. Siapa menyangka.

Terakhir kali kita merasakan sensasi yang sama, berada di atas untuk level teratas, itu lebih kurang enam tahun lalu. Di ajang yang sama. Lanjutkan Membaca …

Kupu-Kupu Malam

oleh

Ia berdiri di dalam hujan yang berjatuhan perlahan, bersandar pada sebatang tiang dengan lampunya yang mulai padam. Ia, wanita itu, hanya menatap nanar ke sekelilingnya yang gelap. Sudah lewat tengah malam dan tak ada satupun batang hidung yang tampak sepanjang tamasya di sudut stasiun kota. Bahkan ketika hujan perlahan-lahan menderas, ia masih tetap setia pada posisinya, tidak bergerak walau selangkah. Sesekali dari mulutnya terucap sepatah dua patah kata halus yang merayu dan memanja. Namun kemudian kepalanya menunduk, menyembunyikan sesuatu yang mulai keluar dari matanya yang bulat. Tangisan itu, yang kini tersamar oleh butiran air hujan. Lanjutkan Membaca …

Castro & Che

oleh

Sesosok pria bertelanjang dada berdiri tak jauh dari sebuah taman luas yang bermandikan cahaya matahari pagi. Pria itu sepertinya bangun terlalu pagi, entah apa yang membuatnya rela terjaga lebih cepat dari biasanya. Sepertinya ada yang sedang ditunggu kedatangannya oleh pria itu, entah wanita lain yang dicinta, entah sanak keluarga atau sekedar teman lama. Tak jauh dari tempat pria itu tadi berdiri di dekat taman indah yang terbentang, ia kemudian mendaratkan tubuhnya di atas sebuah kursi kayu sederhana yang tertata rapi dengan meja kecil di teras rumahnya yang megah namun bergaya klasik. Pelayan tanpa di minta segera meletakan beberapa botol beer merk Hatuey di meja kecil di hadapan sang majikan yang kemudian langsung di bukanya dan di teguk sedikit sebelum mengeluarkan cerutu merk Montecristo dari saku celananya. Dari dalam rumah, alunan Hasta Siempre menemani si penunggu rumah melewati pagi yang nampaknya akan lain dari pagi pagi sebelumnya. Lanjutkan Membaca …

Go to Top