Berbilang empat-lima minggu semenjak penguasa mengumumkan kasus Corona pertama di negeri ini. Maklumat yang tentu menampar habis sikap abai yang dipertontonkan segelontor pejabat dengan segala narasi canda yang menjemukan beberapa waktu sebelumnya. ‘Sedia Payung Sebelum Hujan’. Masing-masing kita tumbuh dengan memaknai pepatah itu. Kita diajarkan betul bagaimana seharusnya kita mempersiapkan banyak hal untuk setiap masalah yang mungkin muncul kemudian. Di kasus ini, ‘hujan’ telah datang, dan kita sama-sama tahu bahwa banyak hal yang sama sekali belum kita siapkan. Corona, nama ‘hujan’ itu, benar-benar membuat kita kebasahan.
Menyebalkan, sih, ketika melihat para jagoan kecil kepayahan karena sakit. Adik diare. Dehidrasi. Di usianya yang genap menyentuh angka enam bulan ia terpaksa harus dirawat demi memastikan cairan di dalam tubuhnya stabil. Melihat cairan infus ditanam di lengannya. Aduh, ayah enggak kuat, dek. Dan beberapa hari kemudian, kakak menyusul. Demam tinggi beberapa hari disertai batuk yang luar biasa menggelegar. Kakak menjadi pemurung, diam hampir sepanjang hari. Hilang kakak yang selalu riang, loncat ke sana kemari. Berat badannya turun. Beberapa kali orang yang melihat berkomentar: “kakak kok kurusan”. Ayah bunda sedih mendengarnya.
Mari temani saya sebentar. Kita sedikit berbicara tentang harapan, cita-cita dan mimpi besar lainnya. Dua tiga minggu yang lalu mimpi-mimpi dan harapan itu dikonversi oleh khalayak menjadi sebuah resolusi. Hal yang lazim dilakukan oleh hampir semua umat manusia di dunia. Yang diucapkan kali ini kembali terucap di tahun berikutnya. Lalu untuk kemudian dilakukan berulang kali di tahun yang banyak kemudian. Pertanyaannya. Apakah segala hal yang tidak tercapai itu adalah benar tentang mimpi yang kita inginkan? Atau malah kita mendapat apa-apa yang tidak pernah kita pikirkan?
Saya bekerja di tempat yang baru. Namun, banyak hal yang saya rasa tidak berubah dibandingkan dengan tempat sebelumnya. Wajar dua tempat ini memiliki lini bisnis yang hampir sama. Bisa dikatakan, apa yang saja kerjakan saat ini lebih kurang sama dengan apa yang pernah saya kerjakan sebelumnya. Termasuk di antaranya juga lingkup wilayah yang sudah saya singgahi dan atau yang akan saya tuju nanti. Beberapa kota di Borneo, satu-dua tempat di Sulawesi dan beberapa lainnya di Sumatera akan tetap menjadi tempat saya singgah barang satu-dua minggu setiap periode waktu tertentu. Tapi di sini, di tempat baru, ada satu daftar yang hilang….
“Mas, datang?” di satu kerumunan seorang teman memberikan undangan pernikahan. Yang bertanya tentu saja bukan si empunya hajat tapi teman lain yang juga menerima lembar undangan yang sama. Pikiran saya sedang kosong perlu satu-dua pertanyaan tambahan sampai akhirnya saya mengangguk kecil. “Iya, mudah-mudahan waktunya pas, ya” jawab saya. Ketika kerumunan itu mulai mereda saya menghempas diri di atas kursi. Menggaruk kepala yang tidak gatal. Diskusi-diskusi beberapa waktu terakhir berkelebat di dalam kepala. Aduh.
Saya sedang merasa puas luar biasa. Pasalnya, sudah lama sekali, sejauh yang saya ingat, saya mampu mengkhatamkan satu pertandingan penuh laga yang dilakoni tim sepakbola favorit saya. Iya, di layar kaca tentu saja. Di akhir pekan kemarin saya berhasil menghabiskan sembilan puluh menit penuh melihat mereka berjibaku di tengah lapang meluluhlantahkan musuh bebuyutannya. Beberapa waktu yang banyak, saya memang kerap alfa dalam memberi dukungan maya. Jangankan satu laga penuh atau separuhnya, bahkan bisa dikatakan saya absen menonton di hampir seluruh laga yang mereka mainkan.