Aku menatap bangunan di depan warung kopi ini. Mengetik balasan pesan singkat, memasukan perangkat genggam ke tempatnya, lalu tersenyum membayangkan kemungkinan babak kedua perbincangan dengan perempuan cantik di bangunan itu. Hujan memang masih mengguyur bumi cukup deras tetapi akan terlalu memakan waktu jika aku harus menunggunya sampai benar-benar reda. Lalu aku memutuskan untuk berlari cepat menabrak butiran-butiran air hujan yang jatuh ke bumi sesukanya tanpa memperdulikan apapun yang akan dihadapinya. “Kenapa gak nunggu berenti dulu sih !? Tunggu sebentar akan aku ambilkan kaus punya ayah.” setelah memberiku handuk kering perempuan itu mendengus kesal melihat lelakinya ini basah kuyup. Aku diam sebentar, tersenyum lalu menggangguk, malas…
Beberapa waktu yang lalu seorang teman pernah menulis sebuah postingan yang saya anggap isinya sangat menarik. Jika boleh saya katakan sebagai sebuah curahan hati, maka apa yang dia tulis saat itu mewakili curahan hati yang banyak dari setiap kita yang mengalaminya. Terlebih jika anda termasuk kedalam kategori penulis blog yang blognya sudah cukup berumur tetapi blognya masih seperti milik saya ini. Sepi dan diam ditempat. Secara cerdas ia menuliskan tentang komentar sebagai materi tulisannya kala itu. Atau apa yang lebih tepat ?? Mengomentari komentar dalam sebuah postingan blog ?? Apa sajalah, silakan anda melihatnya sendiri pada tautan berikut ini : baru mampir…
Saya percaya anda tidak akan membicarakan hal yang kurang baik jika saya bercerita tentang apa yang biasa terjadi di rumah. Tentang bagaimana saya yang hampir tidak pernah sama sekali membantu istri untuk melakukan pekerjaan rumah tangga. Membiarkan istri bangun lebih awal demi menyiapkan satu cangkir teh manis beserta kudapan yang bisa mengganjal perut ketika saya harus meninggalkan rumah selepas dua rakaat pertama setiap harinya. Dan juga ketika ia selalu memastikan makanan penutup hari di waktu malam selalu hangat setiap saya kembali ke rumah di waktu empat rakaat terakhir. Ah, padahal kami sama-sama bekerja di luar rumah. Tetapi pastilah tenaga yang ia keluarkan berlipat…
Tuhan adalah perencana terbaik, kita semua akan sepakat untuk kalimat tersebut. Ketika menciptakan manusia dengan segala kesempurnaannya, Ia juga menitipkan banyak sekali rencana kepada manusia-manusia entah itu dalam bentuk mimpi, harapan, kemauan dan atau segala upaya yang bisa dilakukan oleh manusia. Tuhan yang maha baik sungguh sangat menyayangi umat-Nya dengan sangat banyak sekali cara. Dengan memberikan nikmat berupa rasa benci, rasa takut, rasa senang atau hal-hal yang bersifat fisik seperti harta adalah salah satu cara Tuhan menyayangi umat-Nya. Ah, dengan manusia dipercaya sebagai pemimpin di semesta yang Ia ciptakan saja itu sudah menjadi bukti nyata bahwa Tuhan adalah Maha penyayang….
Memang akan sangat membosankan ketika kita harus terus-terusan mendengar dan melihat hal yang sama berulang-ulang terlebih jika pengulangan itu dilakukan dalam waktu yang yang berdekatan. Tetapi, hanya karena kejadian luar biasa di Jakarta-lah yang membuat saya akan membuat pengecualian untuk mengabaikan rasa bosan ketika harus membicarakan hal yang telah dibicarakan banyak orang berulang-ulang. Tragedi yang menewaskan tujuh orang korban jiwa itu memang telah usai, cerita ditutup dengan ditembak matinya tiga orang pelaku dan empat orang pelaku lain ditangkap. “Jakarta telah aman” sebut beberapa media dan juga petinggi Polri di konferensi pers, itu kabar baik, dengan berakhirnya teror yang diawali dengan ledakan bom di pusat kota Jakarta…
Diujung pertanyaan aku bergegas berlari ke warung kecil yang berjarak sepelemparan batu dari bangunan tempat aku berbincang panjang enam puluh menit terakhir tadi. Warung ini tidak terlalu ramai hanya ada dua-tiga orang lelaki muda yang usianya aku taksir lebih kurang samalah dengan usiaku sekarang dan ditambah ibu pemilik warung beserta asistennya. Sembari menunggu pesanan kopi datang aku kembali dibuat tersenyum dengan perbincangan di bangunan yang letaknya persis berada ditempatku duduk sekarang ini. Tentang apa ?? Jika benar kau ingin tahu mohon tunggu sebentar dulu, aku harus menghisap satu-dua batang rokok yang sudah kutahan sedari tadi lagipula kopi hitam ini sudah…