Sebelum Anda membaca tulisan ini ada baiknya, agar tulisan ini lebih dapat dikhidmati, Anda menutup mata sejenak. Kemudian membayangkan sebuah ikatan persahabatan yang Anda bina, bersama sahabat-sahabat Anda, tentu saja. Di mana canda, tawa, susah, senang menjadi hal yang luar biasa yang membuat ikatan persahabatan itu menjadi sedemikian kuat. Dan suatu ketika mereka, sahabat-sahabat Anda itu, hilang entah pergi atau mati, meninggalkan Anda sendirian. Satu per satu. Hingga akhirnya menyisakan Anda seorang belaka dalam kesepian. Sudah? Jika sudah, maka biarkanlah saya menceritakan suatu hal tentang kehilangan dan persahabatan.
Dan kemudian aku pun tertawa sedemikian riang bersama mereka, teman-temanku, dengan kemampuan sepeda yang amat terbatas sedang melaju adu cepat. Suara gelas bekas air mineral kemasan yang disimpan di antara ban dan batangnya terdengar begitu khas. Orang-orang yang kami lewati di sepanjang perjalanan hanya bisa menggeleng, menertawakan keseruan yang kami buat. “Yeah, aku menang,” Aris pemilik sepeda berwarna ungu sampai duluan “lambat sekali kalian” ia menambahkan setelah dua orang temannya sampai, satu setengah menit kemudian. “Kau curang, kan perjanjiannya tidak boleh lewat jalan pintas!” Irpan protes kepada Aris. Yang dijawab hanya dengan ‘hehe’ dan satu garukan pada kepalanya yang tidak gatal….
Menunggu jelas bukan suatu kebiasaan, yang jika dalam waktu normal, sudi untuk saya lakukan. Terlebih jika dalam prosesi menunggu itu saya harus memerhatikan suatu objek yang membosankan. Astaga, bukankah itu membosankan sekali? Tapi dalam beberapa waktu terakhir, empat minggu kalau tidak salah, saya terpaksa harus melakukannya, beberapa kali bahkan dilakukan sedari pagi diam di satu tempat hanya bergerak beberapa langkah sampai senja melewati kepala demi suatu upaya untuk mempercantik suatu benda yang nantinya akan menjadi peneduh ketika semesta sedang tidak bersahabat. Ketika Anda membaca tulisan ini, boleh jadi saya sudah berada di suasana baru, di tempat itu, tempat yang selama…
Kita hidup pada masa dimana eksistensi di dunia kerja tak melulu soal kompetensi. Anda akan menemukan banyak sekali contoh dimana seseorang yang kurang cakap menjadi pimpinan dalam suatu roda organisasi, alih-alih menjalankan fungsi operasi bahkan beberapa diantaranya kerap gagap menjalankan deskripsi kerja yang menjadi tanggung jawabnya. Atau sebaliknya saya dan mungkin juga anda akan merasa getir ketika melihat seseorang yang luar biasa pintar, berkompetensi tinggi ditambah dengan etos kerja yang baik tetapi berada di titik terbawah dalam suatu roda organisasi. Saya sering sekali berpikir, apa alasan orang yang standar atau kurang cakap atau malah bodoh bisa memimpin orang yang mahir…
Seorang lelaki yang baru genap berusia dua puluh tahun melakukan perjalanan udara untuk pertama kalinya. Berpindah dari pulau terpadat menuju pulau terbesar yang ada di negerinya. Ia enggan untuk ragu, enggan pula untuk kelu karena bagaimanapun yang ia lakukan saat ini adalah sebagian saja dari rencana masa kecilnya. Pada hari itu paripurna sudah ia menjadi asing untuk banyak orang di sekitarnya. Termuda diantara banyak usia dan boleh jadi terbodoh diantara para profesional yang ada. Namun, sekali lagi ia enggan untuk ragu, enggan pula untuk kelu. Dengan modal seadanya ia bersiap untuk bernafas dan berkeringat dalam entah beberapa lama kemudian untuk…
“Enak bener yaa jadi mereka, yang ga bekerja, yang cuma diem dirumah, nunggu tuyul bawa setoran. Kapan yaa mereka bisa seperti saya yang selalu menggerutu ini” @Pidibaiq – Drunken Monster Jadi kemaren gue beli buku nya @pidibaiq yang judulnya drunken monster, emang belum gue baca semua isi bukunya , yaa baru sekitar 75% lah dari total 289 halaman. Tapi di dalam proses membaca buku itu ada satu bab yang nyentil banget gue, ehm mungkin buat sebagian yang baca tulisan ini juga bakal ngerasa kesentil deh. Judulnya “Oh, Kerja” . Di bab itu ga ada tips atau trik bagaimana seharusnya seorang pekerja…