Fans - Page 3

BENVENUTO ERICK THOHIR

Media olahraga di Indonesia, dan juga Italia … Dua hari ini membahas satu topik yang sama..  Tentang takeover 70% saham FC Internazionale oleh Erick Thohir, pengusaha asal Indonesia. Dengan bergantinya kepemilikan Inter dari Massimo Moratti ke Erick Thohir menjadikan Inter sebagai klub italia pertama yang dimiliki oleh pengusaha asal Asia.

Ini jadi dilema untuk saya dan (mungkin) teman teman Interisti di Indonesia. Kenapa ?? Di satu sisi, akan ada rasa bangga sebagai orang Indonesia karena klub favoritnya klub yang dicintainya dimiliki oleh salah satu anak bangsa, Tapi di sisi lain akan ada rasa takut dan akan ada pertanyaan apakah sang pemilik baru memiliki rasa cinta yang sama terhadap klub yang kami cintai ??

Terlebih orang yang digantikan oleh Erick Thohir adalah Massimo Moratti, Lanjutkan Membaca …

Statusisasi Interisti Indonesia

14

Menjelang petang di 27 September 2013 …

Lagi nunggu jam pulang, gue liat liat timeline twitter, dan gue baru keingetan kalo tadi malem ada match Inter. Iyaa, kalo abis match Inter, isi timeline gue cenderung begitu, monoton, isinya pasti ngebahas tentang match semalem, abisan gimana following gue kebanyakan isinya dari temen temen ICI (Inter Club Indonesia).

Hari ini juga timeline dipenuhi dengan ucapan ulang tahun untuk @ICI_Bandung , dari tweet para followers nya @ICI_Bandung, bisa keliatan loh gambaran ICI pada umumnya, tentang ICI yang semakin besar, doa dan harapan untuk organisasi ini kedepannya gimana, tanggapan member terhadap kegiatan yang udah ada selama ini dan hal lainnya. Emang kata kata yg gue lihat hari ini cuma dari followers @ICI_Bandung , tapi dengan sistem organisasi yg sama, di bawah bendera yang sama, dan satu klub yang sama, gue rasa pandangan member di regional lain pun kurang lebih sama. Makanya gue berani simpulin, doa dan harapan yg dilafalkan hari ini, adalah doa dan harapan dari member ICI, untuk kemajuan ICI.

Selintas gue liat ada yg sempet nulis “Karna ICI Kita Bersaudara” , bahkan tag “La Grande Famiglia Interisti Indonesia” yang sempat terpampang di Gelora Bung Karno Mei 2012, seolah menjadi tag “tidak resmi” dari ICI itu sendiri, karena banner dengan tulisan tersebut ada di tempat ICI nonton “Pesta Interisti” 2012 silam. Ga sedikit juga yang jadi “banyak temen” sesama pecinta Inter setelah bergabung dengan ICI, “belajar” tentang organisasi, atau sekedar belajar menghafal teks untuk ikut bernyanyi, kemudian dari situ lahir “kreativitas” sebagai fans, yel yel, koreografi menjadi “bumbu penyedap” agar member bisa ngerasa betah di Rumah, iyaa ICI buat gue rumahnya Interisti di Indonesia. Tempat para fans Inter berkumpul, bahkan “Identitas” ICI sebagai fans klub Inter, diakui langsung oleh Inter. Bahkan jadi Inter Club terbanyak anggota nya di antara Inter Club lain di dunia.

Identitas itu yang belakangan ini menjadi bahasan utama di timeline twitter / di forum / di broadcast message. Tentang pemesanan kartu Identitas sebagai anggota resmi Inter Club di Indonesia dan di dunia. Yaa pemesanan ID Card CCIC , sebagai syarat untuk tetap diterima menjadi bagian Inter Club di dunia. Dari kabar yang beredar, kalo sampai kuota pemesanan gak tercapai, status ICI sebagai fans klub Inter di Indonesia yang diakui oleh Inter, akan dicabut. Sadis, tapi wajar menurut gue, bagaimana mungkin mau mengakui Identitas ICI sedangkan anggotanya (kebanyakan) tidak beridentitas.

Lanjutkan Membaca …

Akan Selalu Kembali

1
Di sebuah buku berjudul Fever Pitch, Nick Hornby sang penulis menggambarkan bahwa ketika kita mencintai sepakbola, itu sama hal nya seperti kita mencintai seorang manusia lawan jenis kita tanpa pernah mempedulikan berbagai kemungkinan sakit hati yang menunggu kita di akhir cerita.
Ketika seseorang memutuskan untuk melabeli diri mereka dengan label penggila sepakbola, secara tidak langsung seseorang tersebut harus siap menerima segala resiko suka ataupun duka dari yang terjadi di dunia sepakbola. Seorang penggemar sepakbola akan mengalami suatu sisi emosional tingkat tinggi atas apa yang di cintai nya. Antusiasme, optimisme, euforia seperti berada di satu sisi yang saling membelakangi dengan skeptis, pesimisme dan kekecewaan yang mendalam. Dan gilanya, semua penggila sepakbola di seluruh dunia justru menikmati fase naik turunnya letupan emosional dalam dirinya atas apa yang telah di lakukan dengan baik oleh sepakbola.

Demi Sepakbola, Aku Bersumpah!

Sepakbola, olahraga paling populer dunia-akhirat, tak perlu dibantah, ini kenyatannya. Lalu apa yang menarik dari sepakbola? Bola kecil ditendang kesana-kemari, padahal berapa harga sebuah bola kecil, bagikan saja masing-masing satu bola ke-22 manusia keji yang dengan egoisnya menendang bola. Mereka tak perlu lagi berlari, tendang, kotor-kotoran dan berkeringat, sederhana. Tapi sepakbola lebih daripada itu semua, sepakbola tak hanya bola kecil yang diperebutkan 22 pemain bahkan para pendukung pun tak tanggung-tanggung untuk saling membunuh demi sepakbola. Ada beberapa sebagian orang yang menganggap sepakbola adalah agama. Coba tengok ke Italia, Amerika Latin, Afrika atau Indonesia. Italia terkenal dengan ultrasnya yang anarkis. Bagi ultras-ultras klub sepakbola di Italia, sepakbola layaknya agama dan pemain adalah nabinya, sangat sakral. Ultras Lazio dan AS Roma yang tak akan pernah bisa bersatu atau ultras Inter Milan dan AC Milan yang sama-sama mengklaim bahwa merekalah penguasa kota. Kita tak perlu jauh-jauh ke Italia demi menjadi seorang ultras atau ingin merasakan bahwa atmosfir sepakbola adalah atmosfir terbaik di dunia. Cukup di Indonesia saja kita sudah bisa merasakannya. Lanjutkan Membaca …