Fans - Page 2

Metode Catur Dalam Sepakbola

1

Bak langit dan bumi, begitulah kiasan yang tepat jika catur dan sepak bola dianalogikan. Dibutuhkan tenaga ekstra kuat untuk memainkan sepak bola, dibanding catur yang jauh lebih sederhana dan tidak terlalu membutuhkan tenaga ekstra layaknya sepak bola. Dari segi popularitas pun sangat timpang. Jelas, sepak bola menang telak dari catur –bahkan popularitas sepak bola mengalahkan popularitas eksistensi Agama.

Catur memang tidak serumit dan semegah sepak bola. Bermain catur hanya membutuhkan papan 64 kotak hitam dan putih, dan 16 buah catur. Bandingkan dengan sepak bola yang membutuhkan lapang kosong untuk memainkannya. Walaupun perbedaan sepak bola dan catur sangat kontras, tetapi kedua olahraga ini memiliki tujuan yang sama, yaitu merangkai strategi untuk mengalahkan lawan. Lanjutkan Membaca …

Re : Surat Terbuka Javier Zanetti Untuk Interisti

1

“Kami akan menunggu pertandingan yang tak akan pernah usai, yang akan kau mulai”

Hallo Kapten, aku baru saja selesai membaca surat darimu. Di awal surat kau menulis “Untuk Pendukung Inter dan pecinta Olahraga di seluruh dunia” . Ah , aku termasuk di dalam itu tadi kapten, jadi, bolehkan aku membalas surat ini padamu ?? Juga untuk mewakili mereka yang tidak sempat membalas suratmu, atau mungkin terlalu sibuk untuk membacanya.

Tahukah kau kapten, tak pernah aku niatkan sebelumnya, untuk menjadi pendukungmu, atau mendukung Inter (klub yang tak bosan kau bela 19 tahun terakhir). Aku bersumpah kapten, aku tidak sengaja menjadi bagian dari pendukungmu. Aku ingat saat itu, sebelum berangkat sekolah sembari memakan beberapa lembar roti,  aku melihat cuplikan pertandingan antara Inter vs Lazio di final piala UEFA (saat itu aku terlalu muda untuk menonton pertandingan tengah malam- dan sejujurnya saat itu, aku tak tahu apa itu Piala UEFA). Tak mungkin kau lupa, kau mencetak 1 gol dipertandingan itu, dan selebrasi gol mu itu kapten yang menarik perhatianku, seorang “anak muda” meluapkan kegembiraannya dengan berlari sembarang sambil mengangkat setengah jerseymu (yang aku lihat belakangan itu menjadi selebrasi khas mu, tiap kau sempat mencetak gol, bukan begitu kapten??). Hei kapten, aku berani bertaruh, bahkan kau pun pasti tidak menyangka tendanganmu tadi akan menghasilkan gol, ayolah itu bukan kebiasaanmu kan ?? Haha.

 Aku belum menjadi pendukungmu saat itu.

Lanjutkan Membaca …

KATA MEREKA INI RACUN

2

“bahkan sebagian dari mereka rela memasukkannya sebagai pengeluaran wajib bulanan”

Jadi kemarin saya ngeliat suatu di thread di salah satu forum terbesar di Indonesia, judulnya menarik “Perlu ga sih beli jersey original?” -pertanyaan yang sama dari saya, beberapa tahun silam-  dan bisa ditebak terjadi diskusi sehat yang lumayan panjang di thread tersebut. Kenapa saya katakan diskusi sehat ?? Si pembuat thread menjawab pertanyaan tadi dengan sebuah cerita dan analogi, tidak ada kalimat yang memaksakan atau memojokan pihak lain.  dan menyetujui SEMUA jawaban dari pertanyaan itu sembari menyisipkan 1-2 kalimat “pencucian otak”.

Karena biasanya, bahasan tentang jersey ori vs jersey kw melahirkan sebuah diskusi sengit yang ujung nya cenderung “ngotot-ngototan”. Si pemakai kw biasanya mengemukakan alasan yang masuk akal, bisa diterima, tapi tidak oleh mereka yang memakai jersey ori, atau sebaliknya, si pemakai jersey ori menyampaikan alasan kenapa memilih ori, masuk akal, bisa diterima, tapi tidak oleh mereka yang memakai jersey kw.

Lalu sebenernya apa jawaban dari pertanyaan  “Perlu ga sih beli jersey original?”

Lanjutkan Membaca …

NIKMATI SAJA

2
“Serie-A adalah gambaran kecil dari kehidupan manusia  itu sendiri. Penuh drama, penuh intrik, penuh emosi, atau bahkan suci sekaligus munafik yang tersembunyi di antara tarik dan buang nafas setiap hari”

Kamis 24 Oktober 2013 pagi waktu Indonesia, di media sosial twitter yang dimana saya terdaftar sebagai pengguna aktif, saya banyak sekali membaca dan melihat kicauan dari beberapa akun dan semua twit yang saya baca banyak yang berisi ejekan terhadap satu subjek tertentu. Ya, pagi itu Arturo Vidal mendadak menjadi hits dengan banyaknya twit yang memuat nama belakang dirinya. Deras nya twit yang memuat dirinya pagi itu di unggah banyak pengguna lain bukan karena hattrick, gol salto atau aksi solo run yang di buat nya dinihari beberapa jam sebelumnya, melainkan atas aksi diving nya yang boleh di katakan lucu atau bahkan memalukan. Klub tempat Vidal bermain semakin menambahkan hujatan yang mengarah kepada dirinya. Penggemar sepakbola di negeri ini seperti sudah mengenal luar dalam soal Juventus dan kontroversi yang senantiasa mengelilingi nya. Juventus ibarat planet bumi dan segala catatan kontroversi ibarat atmosfir. Tanpa atmosfir, entah sudah sehancur apa bumi ini dari serangan benda asing lain nya.

Lanjutkan Membaca …

Nasionalisme dan Indra Sjafri

Entah kenapa, saya adalah salah satu orang yang sejak dulu agak anti mendengar sebuah kata berbunyi “nasionalisme”. Nasionalisme bagi saya pribadi, saya masukan dalam daftar kata yang bersifat absurd. Secara etimologi, Nasionalisme yang berasal dari kata “nasional” dan “isme” adalah suatu paham kebangsaan yang mempunyai makna kesadaran dan semangat cinta tanah air, memiliki kebanggaan sebagai bangsa atau memelihara kehormatan bangsa, memiliki rasa solidaritas terhadap musibah dan kekurangberuntungan saudara setanah air, sebangsa dan senegara, persatuan dan kesatuan. Anda mampu langsung menghapal nya setelah membaca satu kali? Saya membaca sudah berkali kali dan tak kunjung hapal. Lebih tepatnya, saya memang tak ingin hanya menghapal teori.

Dewasa ini, Nasionalisme seringkali kita baca atau kita dengar terlebih lagi beberapa minggu terakhir Timnas Indonesia sering bertanding di dalam negeri. Timnas U19 bahkan mampu menjuarai Turnamen AFF Cup 2013 yang di gelar di Sidoarjo Jawa Timur. Prestasi itu seolah menjadi oase di padang gurun atas kekecewaan yang teraku mulasi dari kegagalan kegagalan sebelumnya. Euforia tampak di mana mana. Dari anak kecil, kaum muda hingga kalangan tua tak lagi malu untuk keluar rumah menggunakan kostum Timnas Indonesia. Letupan fanantisme akan Timnas Indonesia makin meninggi ketika selang beberapa hari kemudian Timnas Indonesia U19 mampu lolos ke Piala Asia U19 2014 di Myanmar setelah menjuarai grup serta mempermalukan juara bertahan yaitu Korea Selatan.

Puja puji di lontarkan untuk penampilan sensasional para punggawa Gardua Muda. Kata nasionalisme kembali menjadi hits seiring meninggi nya animo masyarakat mendukung dan menonton langsung Timnas U19 yang berlaga. Bagi sebagian orang, nasionalisme adalah mendukung sepenuh hati dan menonton langsung penampilan Timnas di stadion. Semudah itukah label sakral Nasionalisme melekat pada diri seseorang? Bila iya, berarti label Nasionalisme sudah melekat di diri saya sejak Sabtu 18 Oktober 1997 ketika Indonesia takluk dari Thailand di partai final Sea Games 1997.

Beberapa hari ini saya sekuat tenaga berusaha tidak ikut larut secara lebay dalam euforia Timnas Indonesia U19. Lalu semua keteguhan dan pertahanan saya akhirnya jebol setelah saya mencermati dan mengenal lebih dekat sosok arsitek Timnas Indonesia U19 yaitu Indra Sjafri. Ia di kabarkan rela terjun langsung ke pelosok nusantara demi mencari pemain muda berkualitas yang ia butuhkan untuk Tim Nasional. Saya tak perlu sebutkan seluas apa negara tercinta kita ini, yang jelas, apa yang Indra Sjafri lakukan sangatlah tidak mudah. Di butuhkan tenaga, waktu dan biaya yang tidak sedikit untuk mendapatkan yang ia butuhkan dan di kemudian hari ternyata yang ia cari dan ia butuhkan mampu memuaskan harapan seluruh rakyat Indonesia. Indra Sjafri seolah melawan semua pola dan sistem pemilihan pemain yang di pakai oleh pelatih pelatih terdahulu yang di ketahui bersama hanya berbuah kegagalan dan kekecewaan. Ketika pemilihan pemain biasanya hanya di ambil dari tim muda atau SSB di daerah yang selama ini justru lebih sering gagal, Indra Sjafri lebih memilih melakukan seleksi yang ia saksikan langsung di desa desa terpencil.

Indra Sjafri seolah paham betul fakta jika tidak semua bakat muda yang berkualitas punya kemampuan secara financial untuk masuk ke SSB yang memungut iuran dari para anak didiknya. Buat saya pribadi, apa yang mendasari dari semua yang di lakukan oleh Indra Sjafri adalah karena rasa cinta kepada tanah air nya yang begitu besar. Rasa cinta yang tak rela negara ini selalu bertemu dinding besar bernama kegagalan. Indra Sjafri muak dengan ocehan orang yang bilang bila Timnas Indonesia sulit berprestasi di pentas Asia dan dunia. Indra Sjafri seolah tak sudi bila namanya tercatat dalam daftar pelatih Timnas Indonesia yang gagal.

Maka dengan segala tekad dan niat untuk membangunkan raksasa yang tertidur telalu panjang ini, Indra Sjafri rela mendobrak sistem yang ada dengan sistem yang ia yakini dan terbukti ampuh untuk menghadirkan prestasi yang selama ini di rindukan. Bila Nasionalisme memiliki tingakatan, maka saya menempatkan Indra Sjafri sebagai orang dengan Nasionalisme teratas. Apa yang di tunjukan oleh Indra Sjafri dengan cara yang ia tempuh membuat saya berpikir dua kali sebelum saya melabeli diri saya dengan kata sakral Nasionalisme. Semua besarnya nominal uang yang saya keluarkan untuk puluhan partai Indonesia yang sudah saya tonton langsung masih terlihat minim bila di bandingkan dengan pengorbanan seorang Indra Sjafri.

Pada akhirnya saya hanya akan mengucapkan terima kasih banyak untuk tindakan menginspirasi dari Indra Sjafri.

Teruslah berinovasi, teruslah mencari, dan buktikan bangsa ini mampu berprestasi. Entah kenapa, saya adalah salah satu orang yang sejak dulu agak anti mendengar sebuah kata berbunyi “nasionalisme”. Nasionalisme bagi saya pribadi, saya masukan dalam daftar kata yang bersifat absurd. Secara etimologi, Nasionalisme yang berasal dari kata “nasional” dan “isme” adalah suatu paham kebangsaan yang mempunyai makna kesadaran dan semangat cinta tanah air, memiliki kebanggaan sebagai bangsa atau memelihara kehormatan bangsa, memiliki rasa solidaritas terhadap musibah dan kekurangberuntungan saudara setanah air, sebangsa dan senegara, persatuan dan kesatuan. Anda mampu langsung menghapal nya setelah membaca satu kali? Saya membaca sudah berkali kali dan tak kunjung hapal. Lebih tepatnya, saya memang tak ingin hanya menghapal teori.