Tag archive

Ayah - page 3

Pergi Ke Pasar

Saya percaya anda tidak akan membicarakan hal yang kurang baik jika saya bercerita tentang apa yang biasa terjadi di rumah. Tentang bagaimana saya yang hampir tidak pernah sama sekali membantu istri untuk melakukan pekerjaan rumah tangga. Membiarkan istri bangun lebih awal demi menyiapkan satu cangkir teh manis beserta kudapan yang bisa mengganjal perut ketika saya harus meninggalkan rumah selepas dua rakaat pertama setiap harinya. Dan juga ketika ia selalu memastikan makanan penutup hari di waktu malam selalu hangat setiap saya kembali ke rumah di waktu empat rakaat terakhir. Ah, padahal kami sama-sama bekerja di luar rumah. Tetapi pastilah tenaga yang ia keluarkan berlipat jauh dibandingkan saya.

Tetapi jikapun anggapan buruk itu ada, biar sajalah. Dan semoga saja satu cerita berikutnya bisa meyakinkan anda semua -dan anda harus percaya bagaimanapun akan ada saatnya seorang laki-laki akan menunjukan rasa tanggung jawab kepada keluarganya, ya meski dalam kasus ini porsinya teramat kecil. Lanjutkan Membaca …

Sabar Ya Nak

Darimana saya harus memulai ?? Ah , iya. Ini cerita di suatu malam, antara kami –saya dengan istri yang saling bertatapan lama sekali. Kami berniat untuk berbicara banyak tentang satu dua hal yang boleh jadi teramat penting. Tapi malam itu, selain suara pendingin ruangan yang mulai rusak tak ada sedikitpun suara di kamar kami yang kecil itu. Ini cerita di suatu malam, antara kami yang bercerita banyak tanpa bicara, yang cuma bisa saling menatap, khidmat. Dipisahkan malaikat kecil yang tersenyum dalam tidurnya. Aduhai, sungguh menggemaskan.

Semua diam tadi sebetulnya tentang anak kecil itu. Anak kecil yang mulai pagi setelah malam itu ditinggalkan kedua orang tuanya , setidaknya sembilan jam di hampir setiap hari. Lanjutkan Membaca …

Bunda Jangan Berisik

Bunda, apa bunda ingat beberapa hari silam saat aku menangis marah –sedemikian parah. Seharian itu bunda melakukan banyak hal agar aku tenang, lalu diam. Bunda menimang aku dengan manja, memakaikan pakaian terbaik untukku, membersihkan kotoranku agar aku tetap nyaman, menyusui aku sehingga tetap bertenaga yang malah membuat aku bisa menangis lebih hebat. Hingga akhirnya bunda, kau kelelahan lalu tertidur karena lelah. Bunda tahu?? Bahkan saat tidur pun bunda tetap terlihat begitu cantik. Tak lama aku pun menyusul bunda, menyusul tidur.

Lewat tengah malam pintu kamar terbuka sungguh pelan, ayah pulang, sengaja meminimalkan suara agar aku dan bunda tidak bangun. Percuma ayah, aku hapal betul suara langkah kaki ayah yang sering tergesa-gesa dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuat aku terbangun. Tapi lihat, bunda masih lelap, sungguh lelah nampaknya bunda hari itu, sampai bunda melewatkan kebiasaan mencium tangan ayah setiap kali ayah pulang. Demi melihat bunda tertidur saat itu, ayah tersenyum, entah kenapa begitu penuh penghargaan. Selepas mengganti pakaian kerjanya ayah lalu mencium kening bunda, aku mendapat bagian yang sama. Dan aku tersenyum, sungguh itu adalah momen terbaik setiap ayah pulang di akhir pekan.

Hari itu, ayah tak langsung tidur seperti biasanya. Melihat aku yang belum lagi tidur setelah terbangun tadi, ayah berbisik mengajakku bercanda. Satu dua gerakan kemudian ayah berhenti, raut wajah ayah berubah sendu. Semenjak aku lahir beberapa bulan lalu, baru kali itu wajah ayah terlihat tidak menyenangkan. Belum sempat aku menangis –aku ingin bertanya kenapa wajah ayah berubah muram ayah lalu bercerita banyak sekali, masih sambil berbisik malah sekarang suara ayah hampir tidak terdengar. Aku tahu, ayah tak ingin membuat bunda terbangun.

Aku khidmat mendengar bisikan cerita dari ayah. Dan kali ini aku benar-benar ingin menangis kencang, dari cerita ayah aku jadi tahu, setelah dewasa nanti aku tak boleh seperti ayah. Lanjutkan Membaca …

Titip Rindu Buat Babeh

“Di matamu masih tersimpan, selaksa peristiwa. Benturan dan hempasan terpahat di keningmu. Kau nampak tua dan lelah keringat mengucur deras, namun kau tetap tabah. Meski nafasmu kadang tersengal, memikul beban yang makin sarat. Kau tetap setia”

Di atas adalah salah penggalan lirik dari salah satu lagi terbaik dari Ebiet G Ade, lagu yang dipersembahkan untuk ayah. Buat gue Ayah adalah orang paling hebat, terlepas dari sosok Nabi Muhammad SAW , ayah adalah Lelaki nomor satu di Dunia. Adalah wajar bila seorang anak sangat mengagumi Ayahnya, tapi gue berusaha melewati batas batas wajar tersebut, gue dengan berani berjanji, kalo Ayah adalah sosok yang paling tepat untuk gue jadiin model hidup.

Bahkan saat gue kecil, saat ditanya tentang cita cita , gue menjawab dengan tegas kalo cita cita gue adalah  :

1. Pengen jadi Spiderman.

2. Pengen kaya Papah.

Dan percayalah, dewasa ini, gue pikir akan lebih mudah buat gue untuk jadi Spiderman, dibandingkan gue bisa jadi seperti sosok Babeh (Panggilan gue buat beliau).

Lanjutkan Membaca …

Go to Top