Selayang Buku
Beberapa tahun sebelum aksi-aksi paling subversif, Tuan Putri masih mengingat pertemuan dirinya dengan si orang menyebalkan itu; orang yang dengan kurang ajar membuatnya menunggu dan bersiap menjadi perawan tua. Ia sedang duduk di sana, di samping tangga dengan wajah cemberut, ketika Tuan Putri menghampirinya dan mencoba menghibur, hanya karena Tuan Putri benci melihat wajah kusut seperti itu.
Si laki-laki menoleh, laki-laki yang telah memutuskan tanggal 10 April sebagai hari perkawinan mereka dan berkata bahwa kau cantik, ia memang kurang ajar, sebelum keluhan yang sesungguhnya keluar: ia seperti kesakitan bicara tentang buku Immanuel Kant yang dimakan kutu buku atau tikus, dengan halaman yang lepas-lepas dan sebagian bab bahkan hilang, serta kertas yang patah-patah di perpustakaan kami. Ia bilang buku seperti itu tak layak dicuri dan itu yang membuatnya tampak tak berbahagia.
Sebagai kumpulan cerita pendek, buku ini memuat berbagai kisah yang bergerak di sekitar kehidupan masyarakat urban, relasi sosial, dan absurditas yang sering tersembunyi di balik rutinitas.
Setiap cerita memiliki sudut pandang dan tokoh yang berbeda, mulai dari yang realistis hingga yang sedikit ganjil.
Melalui format cerpen, Eka membangun narasi yang ringkas namun tetap meninggalkan ruang tafsir.
Ada kritik sosial yang halus, satire, dan potret keseharian yang terasa sangat hidup.
Kumpulan ini menjadi salah satu karya penting untuk melihat perkembangan gaya menulis Eka pada fase awal.
| Penulis | Eka Kurniawan |
|---|---|
| Penerbit | Jendela |
| Jumlah Halaman | 144 |
| Seri | – |
| Bagian | – |
| Tahun Rilis | 2000 |
| Status Baca | Selesai dibaca |








Reviews
There are no reviews yet.