Traveloka

(Untuk) Sampai ke Tujuan

5 mins read
6

Mari temani saya sebentar. Kita sedikit berbicara tentang harapan, cita-cita dan mimpi besar lainnya. Dua tiga minggu yang lalu mimpi-mimpi dan harapan itu dikonversi oleh khalayak menjadi sebuah resolusi. Hal yang lazim dilakukan oleh hampir semua umat manusia di dunia. Yang diucapkan kali ini kembali terucap di tahun berikutnya. Lalu untuk kemudian dilakukan berulang kali di tahun yang banyak kemudian. Pertanyaannya. Apakah segala hal yang tidak tercapai itu adalah benar tentang mimpi yang kita inginkan? Atau malah kita mendapat apa-apa yang tidak pernah kita pikirkan? Lanjutkan Membaca …

Menghapus Medan

4 mins read
1

Saya bekerja di tempat yang baru. Namun, banyak hal yang saya rasa tidak berubah dibandingkan dengan tempat sebelumnya. Wajar dua tempat ini memiliki lini bisnis yang hampir sama. Bisa dikatakan, apa yang saja kerjakan saat ini lebih kurang sama dengan apa yang pernah saya kerjakan sebelumnya. Termasuk di antaranya juga lingkup wilayah yang sudah saya singgahi dan atau yang akan saya tuju nanti. Beberapa kota di Borneo, satu-dua tempat di Sulawesi dan beberapa lainnya di Sumatera akan tetap menjadi tempat saya singgah barang satu-dua minggu setiap periode waktu tertentu. Tapi di sini, di tempat baru, ada satu daftar yang hilang. Yang dari dulu saya idamkan untuk saya menjejak kaki tapi sekalipun belum pernah terlaksana: Medan. Lanjutkan Membaca …

Undangan di Kota Jauh

5 mins read
4

“Mas, datang?” di satu kerumunan seorang teman memberikan undangan pernikahan. Yang bertanya tentu saja bukan si empunya hajat tapi teman lain yang juga menerima lembar undangan yang sama. Pikiran saya sedang kosong perlu satu-dua pertanyaan tambahan sampai akhirnya saya mengangguk kecil. “Iya, mudah-mudahan waktunya pas, ya” jawab saya. Ketika kerumunan itu mulai mereda saya menghempas diri di atas kursi. Menggaruk kepala yang tidak gatal. Diskusi-diskusi beberapa waktu terakhir berkelebat di dalam kepala. Aduh.

Lanjutkan Membaca …

Memilih Jarak

5 mins read

“Kamu yakin bersedia bergabung di perusahaan ini?” tanya seorang ahli ketika saya berkesempatan untuk hadir di sesi wawancara panggilan kerja beberapa waktu yang lalu. Pertanyaan yang sama hadir di kesempatan berikutnya saat penawaran dan kontrak kerjasama diajukan. Dua kali pertanyaan itu ditekankan karena saya memiliki catatan yang panjang bekerja di satu perusahaan. Sepuluh tahun tentu bukan waktu yang sebentar untuk saya bisa begitu saja mengiyakan sebuah tawaran. Namun di dua kesempatan itu saya, dengan banyak sekali hal dan tetek bengek lain yang sudah dipertimbangkan, menjawabnya dengan mantap: “Ya, tentu, saya bersedia”. Lanjutkan Membaca …

Ke Arah Bandara

6 mins read

Lebih dari separuh perjalanan dinas luar kota –atau malah luar pulau yang saya lakukan adalah perjalanan yang tidak direncanakan. Kalau pun masuk dalam rencana kegiatan, biasanya baru direncanakan satu-dua hari sebelum keberangkatan. Apa yang menyebalkan? Seperti umumnya di sebuah perusahaan, kebijakan di tempat saya bekerja mengenai permintaan biaya perjalanan dinas harus dilakukan selambat-lambatnya tiga hari sebelum kegiatan. Artinya, di hampir setiap perjalanan saya harus menalangi terlebih dahulu biaya keberangkatan. Kalau berangkat di awal-awal bulan, sih, ya enggak terlalu masalah, ya. Tapi kalau perjalanan dinas dan proses talang-menalangi itu terjadi di akhir bulan, ya, pusing juga, jendral. Lanjutkan Membaca …