Selayang Buku
Kapan terakhir kali kita memeluk ayah kita? Menatap wajahnya, lantas bilang kita sungguh sayang padanya? Kapan terakhir kali kita bercakap ringan, tertawa gelak, bercengkerama, lantas menyentuh lembut tangannya, bilang kita sungguh bangga padanya?
Inilah kisah tentang seorang anak yang dibesarkan dengan dongeng-dongeng kesederhanaan hidup. Kesederhanaan yang justru membuat ia membenci ayahnya sendiri. Inilah kisah tentang hakikat kebahagiaan sejati. Jika kalian tidak menemukan rumus itu di novel ini, tidak ada lagi cara terbaik untuk menjelaskannya.
Mulailah membaca novel ini dengan hati lapang, dan saat tiba di halaman terakhir, berlarilah secepat mungkin menemui ayah kita, sebelum semuanya terlambat, dan kita tidak pernah sempat mengatakannya.
Cerita berpusat pada Dam, seorang anak yang tumbuh dengan cerita-cerita yang sering disampaikan oleh ayahnya. Bagi Dam kecil, cerita-cerita tersebut terasa luar biasa, meski tidak selalu masuk akal.
Seiring bertambahnya usia, Dam mulai mempertanyakan kebenaran cerita tersebut dan melihatnya dengan sudut pandang yang berbeda.
Perubahan cara pandang ini menjadi inti konflik dalam cerita: antara mempercayai dan meragukan.
Melalui perjalanan waktu, Dam mencoba memahami kembali hubungan dengan ayahnya dan makna dari cerita-cerita yang pernah ia dengar.
Novel ini menghadirkan kisah tentang bagaimana kenangan, cerita, dan hubungan keluarga membentuk seseorang.
| Penulis | Tere Liye |
|---|---|
| Penerbit | Gramedia Pustaka Utama |
| Jumlah Halaman | 300 |
| Seri | – |
| Bagian | – |
| Tahun Rilis | 2011 |
| Status Baca | Selesai dibaca |








Reviews
There are no reviews yet.