• andhikamppp
  • Posted by andhikamppp
23 July 2021

“Nuju naon, Kang?” aku sedang berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan di daerahku ketika aku melihat sesosok pemuda gempal yang sedang asyik di atas kursi plastik sambil menatap layer ponsel di depan etalase tokonya. Di atas etalase, kopi panas masih mengepul, rokok kretek tersempil di tengah-tengah jemarinya. “Eh, ngarereuwas wae euy. Kabiasaan. Ieu, keur nonton.” Ia menunjukkan layar ponselnya. Di layar terlihat sebuah aplikasi video yang sedang memutar film -yang kutebak ia dapat dari unduhan situs film bajakan.  Sebuah film yang kuhafal betul isinya. Inside Out, nama film itu. “Anteng kitu, euy!” aku menggodanya. Yang digoda membalasnya dengan kekehan ringan yang menyebalkan. “Enya, euy, rame. Kapikiran waenya orang barat mah nyieun film jiga kieu. Geus nonton?”. Ia balik bertanya yang kujawab dengan sebuah anggukan.

Tentu saja aku tahu. Film yang kutonton berulang kali. Film yang mengejawantahkan emosi manusia ke dalam beberapa bentuk yang berbeda. Yang masing-masingnya akan bereaksi hebat tergantung pada kondisi dan keadaan manusia itu. Aku mengamini pernyataannya tadi. Para pelaku film di luar sana memang luar biasa. Memahami melalui visual bagaimana emosi manusia itu bekerja tentu menjadi pengalaman yang luar biasa.

Read More
  • andhikamppp
  • Posted by andhikamppp
12 May 2017

Ingatanku berkelebat. Rasa-rasanya baru kemarin aku mengambil jatah cuti separuh waktu, memesan moda tranportasi dalam jaringan, menembus padatnya jalanan ibukota di waktu siang. Sesuatu yang jarang sekali aku lakukan di waktu yang biasanya. Untungnya beberapa pekerjaan telah aku selesaikan sebelum tenggat waktu. Beberapa pekerjaan yang lain bisa aku delegasikan. Setidaknya urusan cuti ini menjadi mudah jika tidak ada hutang pekerjaan. Aku tidak mungkin mendapat panggilan dari kantor semasa cuti. “Bang, macetnya parah ini. Kita lewat jalan tikus, ya?” pengemudi transportasi itu bertanya. Tanpa perlu menunggu persetujuanku, ia memasuki lajur-lajur sempit diantara gedung tinggi ibukota.

Read More
  • andhikamppp
  • Posted by andhikamppp
12 February 2016

Beberapa tahun sebelumnya hanya pada waktu-waktu tertentu sajalah manusia mengabadikan momen yang dilaluinya kedalam sebuah foto. Alasannya sederhana, kamera saat itu masih menjadi barang mewah yang tidak semua orang mampu untuk memilikinya selain itu proses cuci cetak yang memakan waktu membuat orang terlanjut malas untuk merekam aktivitasnya dalam bentuk cetak. Paling menyebalkan, untuk memiliki banyak momen kegiatan dalam bentuk cetak maka diperlukan juga ruang yang banyak untuk menyimpan jilid album tempat kita menyimpan foto.

Sebaliknya untuk sekarang ini foto seolah menjadi bentuk eksistensi dan arogansi dari setiap individu, maka berlomba-lombalah manusia untuk mendapatkan foto yang terbaik melalui perangkat genggamnya dimanapun, dengan siapapun, kapanpun seolah tak mengenal waktu mereka tak begitu peduli asalkan mendapat objek yang bagus untuk diunggah kedalam media sosialnya untuk mendapatkan love, like dan comment.

Read More