Ia berdiri di dalam hujan yang berjatuhan perlahan, bersandar pada sebatang tiang dengan lampunya yang mulai padam. Ia, wanita itu, hanya menatap nanar ke sekelilingnya yang gelap. Sudah lewat tengah malam dan tak ada satupun batang hidung yang tampak sepanjang tamasya di sudut stasiun kota. Bahkan ketika hujan perlahan-lahan menderas, ia masih tetap setia pada posisinya, tidak bergerak walau selangkah. Sesekali dari mulutnya terucap sepatah dua patah kata halus yang merayu dan memanja. Namun kemudian kepalanya menunduk, menyembunyikan sesuatu yang mulai keluar dari matanya yang bulat. Tangisan itu, yang kini tersamar oleh butiran air hujan
Sesosok pria bertelanjang dada berdiri tak jauh dari sebuah taman luas yang bermandikan cahaya matahari pagi. Pria itu sepertinya bangun…
Semenjak saya menjadi seorang ayah, dan kemudian karena satu dan lain hal menyebabkan saya dan anak harus berjauhan, membuat saya…
Ia tak lebih dari seorang malaikat yang tersesat di dunia yang kejam. Dititipkan oleh Tuhan dengan segala kebaikan, itu semua…
Aku baru pulang kerja waktu itu, dan telepon berdering kencang, mengalunkan nada yang aku hafal sebagai tanda berita bahagia. Nada…
Beberapa tahun lalu, Claudio Lotito, presiden klub Italia, Lazio mengecam Ultras Lazio dan melarang fans garis keras tersebut hadir di…
