Tag archive

Surat Cinta

Berakhir di Angka Empat

oleh

“Hati boleh bodoh, otak jangan!!” Entah mengapa dalam beberapa minggu terakhir kalimat itu selalu berkelebat dan menari-nari dalam pikiranku. Berawal dari ketika aku membaca sebuah tulisan karya Christian Simamora yang kubaca berulang-ulang. Apa pasal?? Boleh jadi aku begitu terhanyut kedalam isi cerita tulisan itu, seperti aku berada didalamnya. Beberapa bagian dari isi cerita itu menjadi lekat dan begitu mengganggu pikiranku karena isi cerita itu begitu mirip atau aku bilang sama persis dengan apa yang sedang aku rasakan. Apa mungkin aku bodoh? Ah, masak iya? Apa nilai-nilai yang aku dapat semasa 17 tahun mengeyam bangku pendidikan kurang cukup membuktikan kecerdasanku yang melebihi kebanyakan orang?

Ah, sudahlah apa gunanya membahas apa yang aku raih dulu. Itu telah berlalu, tak berbekas. Mulai kurunut lagi semua peristiwa yang terjadi beberapa tahun belakangan ini. Peristiwa yang membuatku sedih dan bahagia silih berganti. Ketika aku menjatuhkan hatiku pada apa yang sebenarnya tak pernah dapat kuraih. Mungkin dari sinilah kebodohanku berlanjut. Entah hati, entah otak sepertinya semua dibodohi oleh sesuatu yang kebanyakan orang menyebutnya cinta. Orang menjadi bodoh ketika jatuh cinta. Bukan bodoh, lebih tepatnya membiarkan dirinya menjadi bodoh. Aku salah satunya. Lanjutkan Membaca …

Di Luar Hujan Sebentar Lagi Aku Pulang

oleh

Padahal kita sering bersapa rindu, teramat malah, tapi bolehlah sesekali aku menulis segalanya tentang kamu disini, Istriku.

Terakhir aku menulisimu, kita belum tidur di ranjang yang sama, lebih dari itu kita bahkan belum sempat mengikat janji. Yang aku ingat, saat itu kita masih lucu berbalut baju putih abu, saat dimana nilai merah adalah hal sederhana yang membuat mood rusak sempurna, seketika. Saat pikiran kita hanya disibukan dengan kalimat “tugas apa besok?” bukan “makan apa besok?” seperti yang kita bahas sekarang setiap sebelum tidur, itu ketika kau kehabisan jatah memainkan permainan di selulermu.

Ah, tapi surat itu pun aku tulis karena tugas bahasa, bukan suka apalagi cinta.

Sebelum aku lanjutkan, tolong kau jangan bertanya isi surat saat itu, tentu saja aku lupa

Eh, satu lagi, saat kali ini aku menulisimu surat, pun, bukan karena cinta atau karena rindu. Setiap hari kita bertemu, kalaupun aku rindu, malam nanti aku cukup mematikan lampu, seperti sering hari kita lakukan. Jadi, aku menulis ini karena kebetulan saja saat sedang diam tadi aku melihat di linimasa tentang sebuah tantangan menulis surat cinta dalam waktu tertentu, 30 hari kalau tidak salah. Menurutku itu menarik, dan kebetulan di luar sedang hujan lebat, jadi aku coba menulisimu surat. Sebetulnya untuk mengikuti tantangan itu, bisa saja aku menulisi orang lain, tapi ayolah, malam ini aku tidak mau tidur di ruang tamu.

Jadi, mari kita mulai … Lanjutkan Membaca …

Go to Top