Tag archive

puisi

Terang Bulan Juli

Tak ada yang lebih tabah, dari hujan bulan Juni. Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu. Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni. Dihapuskannya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu. Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni. Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu

Tersebut, adalah penggalan puisi ‘Hujan Bulan Juni’ sebuah mahakarya dari salah satu penulis terbaik yang dimiliki negeri ini: Sapardi Djoko Damono. Saya, jika diizinkan, ingin memaknai puisi tersebut sebagai rangkaian analogi dari sebuah penantian atas banyak sekali rindu, keragu-raguan, dan segala keniscayaan yang gamang. Oleh Djoko, hujan dibuat sebagai kawan yang menguatkan rasa rindu itu, sebagai teman yang mengiringi keragu-raguan itu, sebagai sahabat yang menyimpan segala gamang itu. Yang kesemuanya itu kemudian diejawantahkan dalan bentuk yang terang. Seperti yang biasanya terjadi setelah hujan berhenti. Lanjutkan Membaca …

Langkah Selanjutnya

Saya suka membaca dan saya memiliki tingkat agresivitas yang cukup tinggi dalam membaca, apapun itu bentuknya, email-email yang harus dibaca, artikel menarik dari beberapa situs, dan linimasa twitter adalah salah satu diantaranya. Baiklah, jika kesemua itu tadi dianggap aktivitas atau tuntutan dari keseharian, saya akan mengambil contoh lain. Sedari kecil saya sempat dan masih mengoleksi bacaan fisik seperti novel, komik, tabloid dan beberapa potong koran. Saat saya masih belum terkontaminasi dampak negatif teknologi, mereka itulah yang menyita waktu saya. Kombinasi terbaik saat makan adalah : tangan kanan makanan dan tangan kiri buku. Entah berapa banyak buku yang sempat basah karena dibawa ke kamar mandi. Sekarang –meski tak seaktif dulu aktivitas itu masih suka saya lakukan. Ehm, maaf. Jadi bolehkan saya mengklaim­ kalau saya suka membaca ??

Saya suka menulis dan saya memiliki tingkat agresivitas yang cukup tinggi dalam menulis, apapun itu bentuknya, email-email yang harus dibalas, mengomentari artikel menarik dari beberapa situs, dan memenuhi linimasa twitter adalah salah satu diantaranya. Baiklah, jika kesemua itu tadi dianggap aktivitas atau tuntutan dari keseharian, saya akan mengambil contoh lain. Ehm, sebentar dulu. Contoh yang lain, apa ?? Menulis cerita di tabloid remaja ?? menulis puisi di surat kabar akhir pekan, menulis opini di situs-situs bertraffic tinggi ?? atau sekedar memenuhi blog dengan tulisan-tulisan entah apapun lah itu bentuknya ??

Mengingat kebeberapa waktu belakang. Sial, ternyata saya tak sesuka itu dalam menulis.

Lanjutkan Membaca …

Go to Top