Tag archive

Naufal Daffa

Anak & Telepon Genggam

oleh

Telepon genggam bagaikan dua sisi mata pisau yang memiliki sifat berlawanan. Di satu sisi, ia memberikan banyak sekali kemudahan untuk penggunananya. Banyak hal yang dulu harus dilakukan melalui berbagai medium, sekarang bisa diwakili oleh satu perangkat saja. Di sisi lain, ia juga hadir sebagai medium yang adiktif, memberikan efek ketergantungan yang luar biasa, menyita hampir dari separuh waktu umat manusia. Negatifnya, hampir semua dari kita, seringkali lebih memilih asik dengan telepon genggam ketimbang dengan kehidupan sosial di sekitar sehingga melahirkan sebuah frasa baru: ‘generasi menunduk’. Lanjutkan Membaca …

Panggilan Video

oleh

“Permisi!”

Malam yang teduh. Bintang entah disembunyikan oleh siapa. Awan atau gelap. Tidak jelas. Menyisakan langit di atas sendirian. Bulan yang pemalas juga belum datang. Tanpa lampu, sulit untuk menebak suara siapa yang muncul tiba-tiba dari luar pagar.

Aku bangkit dari dudukku di teras rumah. “Sebentar, ya, ada tamu,” sahutku ke anak kecil di dalam layar telepon genggam. Lanjutkan Membaca …

Liburan Nanti

oleh

Sudah ngajuin cuti?”

Bulan ketiga di tahun ini. Sudah waktunya mempersiapkan segala sesuatu untuk menepikan sejenak rutinitas demi membagi waktu untuk Si Kecil yang akan berulang tahun di bulan depan. Setidaknya, itulah yang biasa kami lakukan di tiga tahun terakhir ini.

“Sudah. Kamu, sudah?” pertanyaan itu kembali padaku. Aku menggeleng, menunggu momen yang pas, kataku kemudian. Rencananya memang di minggu-minggu ini aku baru berencana mengajukan cuti. Birokrasi pengajuan cuti di tempatku bekerja memang tidak terlalu sulit. Namun, mengingat kekosongan beberapa posisi di divisi tempatku bertugas, aku harus memutar otak untuk alasan cuti yang masuk akal. Lanjutkan Membaca …

Anak Ayah

oleh

“Anak ayah banget, ya, Dek?” pengemudi transportasi daring itu berujar setelah cukup lama memerhatikan anak kecil itu yang, sedari kami masuk ke dalam mobil, terus memelukku erat. Ia mencoba menggodanya dengan beberapa lelucon yang biasa manusia dewasa haturkan kepada anak kecil. Percuma, untuk membuatnya berbicara, memang membutuhkan waktu atau kau harus menemukan bahasan yang ia sukai atau kau hanya akan didiamkan serupa batu belaka. “Dede mau kemana? Pulang ke rumah, ya?” pengemudi itu gigih mencari perhatian. Satu detik, dua detik, ia diam, lima detik, dan masih diam. “Mau pulang ke rumah, De?” kali ini aku yang bertanya. Ia merespon dengan satu tatapan galak, sampai satu detik kemudian ia menjawab “Kan, ihh, mu ke umah mamah”. Lanjutkan Membaca …

Si Jagoan

oleh

“Yah, jek aja,” suara lembut penuh semangat dari ujung telfon di sana. Dua jam sebelum pergantian hari menuju akhir pekan. Aku baru saja tiba di terminal ibukota provinsi. Untuk mencapai rumah, jika menggunakan akses kendaraan seperti biasa, masih membutuhkan waktu enam sampai sembilan puluh menit lebih kurang. Meski sebenarnya cepat saja jika pemilik angkutan tidak bebal menunggu penumpang penuh. “Yah, jek, aja” ia kembali mengulang perkataanya. Menggunakan ojek, maksud dari perkataan itu, memang dapat memangkas waktu hampir setengahnya. Aku menimbang-nimbang, lalu mengangguk, tersenyum, “iya, dek, Ayah naik ojek, ya.” Lanjutkan Membaca …

Go to Top