Tag archive

Naufal Daffa

Si Jagoan

oleh

“Yah, jek aja,” suara lembut penuh semangat dari ujung telfon di sana. Dua jam sebelum pergantian hari menuju akhir pekan. Aku baru saja tiba di terminal ibukota provinsi. Untuk mencapai rumah, jika menggunakan akses kendaraan seperti biasa, masih membutuhkan waktu enam sampai sembilan puluh menit lebih kurang. Meski sebenarnya cepat saja jika pemilik angkutan tidak bebal menunggu penumpang penuh. “Yah, jek, aja” ia kembali mengulang perkataanya. Menggunakan ojek, maksud dari perkataan itu, memang dapat memangkas waktu hampir setengahnya. Aku menimbang-nimbang, lalu mengangguk, tersenyum, “iya, dek, Ayah naik ojek, ya.” Lanjutkan Membaca …

Cuti

oleh

Dalam rentang waktu satu minggu terakhir saya mengambil cuti dari tempat saya bekerja. Dalam rentang waktu tersebut saya juga menyengajakan diri keluar, untuk sementara waktu, dari dunia daring. Media sosial, grup-grup aplikasi percakapan, bahkan surel kantor, yang biasanya harus saya tanggapi, kini terpaksa saya abaikan. Tentu saja ada pengecualian yang saya lakukan untuk beberapa hal yang amat sangat mendesak. Pada periode waktu tersebut, saya melakukan beberapa hal yang tidak biasanya saya lakukan. Seperti misalnya menyalakan televisi di pagi hari. Ini menarik, karenanya saya jadi mengetahui Arsya, anak kedua dari Mas Anang dan istri, telah lahir dengan begitu menggemaskan. Ia, diberitakan, sedang diajak jalan-jalan keliling kota Jember menggunakan becak. Tentu saja dipangku oleh kedua orangtuanya. Tidak terasa, padahal seperti baru kemarin saja media memberitakan dengan berlebihan proses kelahiran Arsyi, anak pertama Mas Anang dan Mbak Ashanty. Lanjutkan Membaca …

Anak Kecil Itu

oleh

Suatu hari, pagi datang dengan sebagaimana mestinya. Embun yang beberapa waktu sebelumnya berjatuhan, memberikan nuansa sejuk pada pagi, kini telah digantikan cahaya fajar yang hangat. Satu dua orang berjalan cepat dengan telapak kaki dibiarkan telanjang menginjak bumi yang belum panas. Satu dua lainnya berlari lambat demi keringat dan banyak harapan gumpalan lemak di dalam perut segera enyah. Sepagi itu pula, saat para ayam pejantan sudah kembali masuk kandang setelah lelah berkokok panjang membangunkan manusia dari lelapnya tidur malam tadi, di rumah berluas beberapa bata saja ada seorang anak kecil dengan bau asam keringat yang menyenangkan sedang tertawa, terbahak sebegitu riang. Barisan gigi yang tumbuh belum sempurna diperlihatkannya dengan sengaja. Menggemaskan sekali. Ia berlari kesana-kemari sebelum terjatuh karena tak siap. Menangis sekejap sebelum kembali berlari. Lalu menari. Sembari mengulang tawa dengan begitu memesona. Lanjutkan Membaca …

Satu Tahun Yang Lalu

oleh

“Sudah pembukaan empat, Pak” perawat berusaha menjelaskan setelah berulang kali aku menanyakan kondisi istri yang saat ini sedang terbaring di unit gawat darurat. Beberapa menit yang lalu aku menerobos masuk pintu rumah sakit meminta pelayanan terbaik untuk istriku yang sejak sore tadi merasakan nyeri luar biasa di perutnya. Untunglah tidak terlambat, taxi yang kupesan datang tepat waktu, jalanan kota yang sepi membuat perjalanan dari rumah ke rumah sakit bisa ditempuh kurang dari sepuluh menit. “Silakan Bapak pulang dulu untuk membawa perlengkapan. Kami akan membawa istri bapak ke ruang persalinan. Mungkin harus menginap dua-tiga hari. Tak usah terburu-buru, Pak. Masih banyak waktu. Jika lancar, mungkin tujuh sampai delapan jam lagi” perawat itu dengan tenang menjelaskan. Aku tersenyum, menunjuk ke arah kursi yang sudah aku duduki satu jam terakhir “Sudah saya bawa, Mbak”.

Pukul satu lewat tiga puluh dini hari. Aku melihat penunjuk waktu pada layar telefon genggam lalu kuputuskan untuk melakukan panggilan suara. Sepanjang yang aku ingat, ini adalah panggilan suara paling pagi yang pernah aku lakukan. “Sudah pembukaan empat, Bu. Kata perawat mungkin baru pagi nanti. Doakan saja lancar semuanya. Iya, Bu. Pakai bus pertama masih sempat kok. Hati-hati” panggilan suara selesai beberapa kalimat setelahnya. Aku memberitahukan kondisi istri kepada ayah dan ibu dirumah. Tak lama setelahnya aku menghubungi orang tua istri dengan kalimat dan informasi yang lebih kurang sama persis.

“Pak, sudah pembukaan lima” kata perawat bergegas menuju ruang persalinan. Aku ikut menyusul, demi melihat istri yang makin kepayahan, aku berusaha untuk tetap tersenyum.

Lanjutkan Membaca …

Writer’s Block

oleh

Writer’s block kurang lebih artinya –menurut defisini pribadi adalah suatu kondisi dimana seorang penulis secara tiba-tiba mengalami kesulitan untuk mengembangkan rangkaian ide dan menerjemahkannya kedalam sebuah cerita didalam tulisan. Entah sudah berapa banyak ide yang datang ketika kita sedang ditengah perjalanan pulang dari tempat kerja, atau ketika sedang menatap kosong di ruangan meeting yang membosankan, atau ketika bersenandung kecil dengan guyuran air dingin di kamar mandi. Tapi seketika ide yang banyak itu terbuang hilang entah kemana saat kita benar-benar siap untuk menulis, di depan laptop misalnya. Ah, maaf, jika anda tidak sempat mengalami kejadian di atas, silakan anda ubah saja sendiri kata ganti orang “kita” dengan “saya”, karena memang, saya pribadi sering sekali mengalami writer’s block sialan itu.

Writer’s block adalah kondisi diluar kontrol manusia –dalam hal ini seorang penulis yang kehadirannya tidak diharapkan dan tidak bisa diprediksi, semestalah yang membuat itu terjadi. Atau boleh jadi sebetulnya writer’s block itu tidak ada?? Sifat malas manusia itu sendirilah yang membuat ide tulisan tidak bisa berkembang lalu kemudian mengkambing-hitamkan writer’s block sebagai biang keladi ketika konten blog tidak pernah bertambah atau dalam kasus yang lebih hebat ketika isi dari sebuah buku berhenti di bab kedua. Oh, anda tidak ?? Baiklah, ini lagi-lagi tentang saya yang sering mencaci maki keberadaan writer’s block ketika sarang laba-laba mulai memenuhi blog saya. Ini cerita tentang sifat malas saya yang lalu selanjutnya saya bersembunyi dibalik writer’s block yang tak pernah menuntut apa apa ketika disalahkan dan saya hadir sebagai sosok penulis suci yang tidak pernah kehilangan ide tulisan maupun kreatifitas, lalu jika kemudian saya tidak pernah menulis : maklumlah namanya juga kena serangan writer’s block.   Lanjutkan Membaca …

Go to Top