Tag archive

menulis

Proses 2.0

oleh

Jika kelak saya memiliki karir yang baik dalam dunia kepenulisan. Saya akan menandai tahun dua ribu enam belas sebagai awal mula saya belajar menulis. Lalu apa yang terjadi dengan tulisan-tulisan saya sebelum itu? Jika Anda pernah membacanya lalu ingin meludahi tulisan-tulisan lama saya. Mari, saya akan dengan senang menemani Anda. Apakah berarti saya tidak menghargai tulisan saya sendiri? Bukan. Justru sebaliknya, saya ketika itu benar-benar tidak pernah menghargai apa yang namanya belajar. Proses. Oleh karena itu saya jauh sekali dari pantas untuk disebut sebagai penulis. Namun, apabila Anda sekarang ini, pada tulisan-tulisan saya yang baru, masih ingin meludahinya. Sebentar dulu, biarkan saya menjelaskan sesuatu. Lanjutkan Membaca …

Cerita Akhir Tahun

oleh

“Mau minum teh manis hangat, bageur?”. Senja yang sudah hilang sedari tadi tidak serta membuat langit menjadi gelap. Lihatlah, dari jendela kamar rumah sakit terlihat langit masih terang memesona akibat hiruk pikuk manusia, dengan kembang api yang mereka nyalakan bergantian, menyambut malam pergantian tahun. Ia, wanita yang kutawari segelas teh hangat itu, mengangguk manja, “jangan terlalu panas ya, Ayah”. Aku tersenyum, tanganku terampil menuangkan air kedalam gelas sebelum memasukan satu buah teh celup beraroma khas, juga dengan satu-dua sendok gula. Lalu kemudian aku sodorkan, gelas itu, kepada pemiliknya. Ia yang sedang terbaring segera meminumnya perlahan. “Ayah” ia mengucap kata pelan. “Maaf” dengan rona kesedihan kata itu diucapkan sedemikian pelan. Lanjutkan Membaca …

Tutorial Jika Tidak Memiliki Materi Tutorial

oleh

Dalam ranah tulis digital terdapat sebuah mitos menggelikan, bahwasanya untuk lebih diperhatikan oleh Sang Dewa digital kita mesti menjadi penulis yang bermanfaat bagi penulis lain. Misalnya menulis jawaban tugas-tugas mata kuliah lengkap dengan landasan teori, keterangan, penjelasan ilmiah serta daftar pustaka. Atau di waktu lain, membagikan informasi lomba, informasi pekerjaan, atau malah Anda sendiri yang membuat lomba dan memberi pekerjaan untuk para penulis lain. Tapi, manfaat tidak melulu tentang tetek bengek seperti itu. Untuk menjadi bermanfaat Anda bisa dengan mudah melakukannya tanpa harus kuliah, tanpa harus membuat lomba atau memberi pekerjaan. Dengan begitu, penulis kere seperti saya pun sah-sah saja jika ingin memiliki manfaat. Caranya? Buaanyaakk. Tapi saya tidak akan menulis semua. Khawatir tulisan ini malah akan menjadi novel jika saya tulis semuanya. Saya ambil contoh paling sederhana. Untuk menjadi bermanfaat buatlah satu tulisan ringkas tentang tata cara, bagaimana untuk dan seperti itulah. Njelimet? Baiklah, saya sederhanakan begini, sebut saja : membuat tutorial. Lanjutkan Membaca …

Ketidakpekaan Kamu dan Kesemuan Kita

oleh

Kamu tidak lagi menjadi bagian terpenting dalam hidupku. Semua sudah tiada, ketika kita sepakat untuk tidak meneruskan. Satu hal penting dalam hidup selama aku berkeliling

“apa-apa yang terburu-buru tidaklah enak”. 

Dan kamu melakukannya. Aku sengaja melonggarkan waktu untuk kita dengan tujuan mengenal lebih jauh kita agar tidak terperangkap dalam relung hati, tapi kamu berusaha terburu-buru dan tidak mengindahkan kodeku. Kemudian kita bersama, lalu kamu tidak suka pada beberapa bagian, lalu aku pun juga sama. Hasilnya? Kita berusaha sempurna di mata orang lain, tapi hati kita tidak nyaman. Tragis. Lanjutkan Membaca …

Proses

oleh

Ketika pertama kali saya memutuskan untuk menulis pada media digital. Sungguh saya hanya ingin menulis, membagikannya, dan jika beruntung, ada yang membacanya. Tak lebih dari itu. Peduli setan dengan jumlah pengunjung,  jumlah komentar, atau apapunlah yang semacam itu. Saya menulis, sesekali saya berbagi, jika ada yang membacanya, syukur, jikapun tidak, ya sudah. Oleh karena itu saya sama sekali tidak merasa perlu untuk mempercantik tampilan blog saya ini demi kenyamanan mata para pembaca. Atau memerhatikan kaidah penulisan? atau tata letaknya? Masa bodoh. Saya yang menulis, saya pemilik blog ini. Jika tampilan blog ini buruk, jika tulisan pada blog ini sangat berantakan, urusan Anda apa? Pikir saya kala itu. Sombong sekali manusia bodoh satu ini. Namun, seiring perjalanan saya dalam dunia tulis digital, saya menemukan beberapa fase yang membuat saya sadar betapa bodohnya saya ini. Sudah bodoh, sombong lagi. Bedebah. Lanjutkan Membaca …

Go to Top