Tag archive

Kerja

Menyesal (Belum) Kuliah

oleh

Kita hidup pada masa dimana eksistensi di dunia kerja tak melulu soal kompetensi. Anda akan menemukan banyak sekali contoh dimana seseorang yang kurang cakap menjadi pimpinan dalam suatu roda organisasi, alih-alih menjalankan fungsi operasi bahkan beberapa diantaranya kerap gagap menjalankan deskripsi kerja yang menjadi tanggung jawabnya. Atau sebaliknya saya dan mungkin juga anda akan merasa getir ketika melihat seseorang yang luar biasa pintar, berkompetensi tinggi ditambah dengan etos kerja yang baik tetapi berada di titik terbawah dalam suatu roda organisasi.

Saya sering sekali berpikir, apa alasan orang yang standar atau kurang cakap atau malah bodoh bisa memimpin orang yang mahir dalam segala bidang. Dalam beberapa kali pengamatan juga disertai dengan diskusi. Saya memiliki dua jawaban terbaik. Yang pertama adalah latar belakang pendidikanlah yang kerap menjadi alasan. Orang yang memiliki pendidikan lebih tinggi seringkali dianggap lebih kompeten, lebih pantas untuk memimpin dan tentu saja lebih pantas untuk dihargai lebih tinggi. Astaga, jika benar seperti itu aturan mainnya, untuk saya yang hanya lulusan SMA, habislah sudah kesempatan. Lanjutkan Membaca …

Dari Tepian Mahakam

oleh

Seorang lelaki yang baru genap berusia dua puluh tahun melakukan perjalanan udara untuk pertama kalinya. Berpindah dari pulau terpadat menuju pulau terbesar yang ada di negerinya. Ia enggan untuk ragu, enggan pula untuk kelu karena bagaimanapun yang ia lakukan saat ini adalah sebagian saja dari rencana masa kecilnya.

Pada hari itu paripurna sudah ia menjadi asing untuk banyak orang di sekitarnya. Termuda diantara banyak usia dan boleh jadi terbodoh diantara para profesional yang ada. Namun, sekali lagi ia enggan untuk ragu, enggan pula untuk kelu. Dengan modal seadanya ia bersiap untuk bernafas dan berkeringat dalam entah beberapa lama kemudian untuk bertahan hidup di tanah yang baru ia pijak. Di tepian sungai Mahakam, ibukota Kalimantan Timur, Samarinda. Lanjutkan Membaca …

Pergi Ke Pasar

oleh

Saya percaya anda tidak akan membicarakan hal yang kurang baik jika saya bercerita tentang apa yang biasa terjadi di rumah. Tentang bagaimana saya yang hampir tidak pernah sama sekali membantu istri untuk melakukan pekerjaan rumah tangga. Membiarkan istri bangun lebih awal demi menyiapkan satu cangkir teh manis beserta kudapan yang bisa mengganjal perut ketika saya harus meninggalkan rumah selepas dua rakaat pertama setiap harinya. Dan juga ketika ia selalu memastikan makanan penutup hari di waktu malam selalu hangat setiap saya kembali ke rumah di waktu empat rakaat terakhir. Ah, padahal kami sama-sama bekerja di luar rumah. Tetapi pastilah tenaga yang ia keluarkan berlipat jauh dibandingkan saya.

Tetapi jikapun anggapan buruk itu ada, biar sajalah. Dan semoga saja satu cerita berikutnya bisa meyakinkan anda semua -dan anda harus percaya bagaimanapun akan ada saatnya seorang laki-laki akan menunjukan rasa tanggung jawab kepada keluarganya, ya meski dalam kasus ini porsinya teramat kecil. Lanjutkan Membaca …

Sabar Ya Nak

oleh

Darimana saya harus memulai ?? Ah , iya. Ini cerita di suatu malam, antara kami –saya dengan istri yang saling bertatapan lama sekali. Kami berniat untuk berbicara banyak tentang satu dua hal yang boleh jadi teramat penting. Tapi malam itu, selain suara pendingin ruangan yang mulai rusak tak ada sedikitpun suara di kamar kami yang kecil itu. Ini cerita di suatu malam, antara kami yang bercerita banyak tanpa bicara, yang cuma bisa saling menatap, khidmat. Dipisahkan malaikat kecil yang tersenyum dalam tidurnya. Aduhai, sungguh menggemaskan.

Semua diam tadi sebetulnya tentang anak kecil itu. Anak kecil yang mulai pagi setelah malam itu ditinggalkan kedua orang tuanya , setidaknya sembilan jam di hampir setiap hari. Lanjutkan Membaca …

OH, KERJA

oleh

“Enak bener yaa jadi mereka, yang ga bekerja, yang cuma diem dirumah, nunggu tuyul bawa setoran. Kapan yaa mereka bisa seperti saya yang selalu menggerutu ini” @Pidibaiq – Drunken Monster

Jadi kemaren gue beli buku nya @pidibaiq yang judulnya drunken monster,  emang belum gue baca semua isi bukunya , yaa baru sekitar 75% lah dari total 289 halaman.

Tapi di dalam proses membaca buku itu ada satu bab yang nyentil banget gue, ehm mungkin buat sebagian yang baca tulisan ini juga bakal ngerasa kesentil deh. Judulnya “Oh, Kerja” . Di bab itu ga ada tips atau trik bagaimana seharusnya seorang pekerja itu, atau bagaimana tips gimana jadi pekerja yang baik, tapi ada beberapa kalimat yang bikin gue kesentil, dan seharusnya bikin gue malu karna gue termasuk di golongan pekerja yang seperti itu.

Lanjutkan Membaca …

Go to Top