Tag archive

Keluarga

Ayah Kerja Dulu, Ya

oleh

Sudah beberapa hari berlalu dan ternyata benar, yang paling menyebalkan dari kembali bekerja setelah libur cukup panjang bukan tentang bagaimana menghadapi rutinitas hidup yang membosankan. Untuk urusan itu aku sejauh ini, seperti bagaimana biasanya, bisa mengatasinya. Tapi yang sulit adalah ketika aku, seperti sekarang ini, merasa amat sangat kehilangan atas kebiasaan sesaat yang kulakukan ketika dalam masa-masa liburan: menghabiskan waktu bercanda bertiga dengan Si Jagoan juga bunda dengan perutnya yang semakin besar. Lanjutkan Membaca …

Yang Kedua

oleh

Matahari masih malu-malu dan sembunyi ketika seorang lelaki menjejakan kakinya di tanah ibukota untuk mengakhiri perjalanan seperempat harinya. Bersamanya pemburu waktu berlalu-lalang dengan nafas-nafas menderu. Tak ada sapa di antara mereka, bahkan ketika uap-uap panas dari air mendidih para penyaji kopi di tengah pasar yang bingar itu memanggil, mereka tak peduli belaka. Suara lantang kumandang azan dari sebuah langgar kecil tiga kali dua tak jauh dari sana menjadi pembeda. Seolah bersepakat, semua deru cepat nafas itu melambat bersatu dalam lantunan ayat yang khidmat. Si Lelaki kini berada dalam barisan, menunggu giliran air yang berkucuran. Seperti orang lain kebanyakan, dalam tunggunya, lelaki itu membuka beberapa pesan. Memilah mana yang harus dibaca dan mana yang harus diabaikan. Matanya tertuju pada satu pesan, dari wanita yang ia pernah bersumpah demi Tuhan untuk selalu menjaganya. Gilirannya datang dan kini ia enggan, orang tua berkacamata di belakangnya ia persilakan duluan. Pesan ini, terlalu penting untuk dilewatkan. Pesan yang seharga dengan seluruh kehidupan.

Lanjutkan Membaca …

Main Sepeda

oleh

Beberapa waktu terakhir ayah saya menghujani percakapan di layanan pesan singkat dengan segala hal yang berbau sepeda. Entah itu berupa gambar, kalimat, cuplikan video atau catatan suara. Terganggu? Tidak sama sekali. Saya malah merasa senang, di usia senjanya, ayah masih getol beraktivitas di luar. Sekali waktu ia bercerita tentang perjalanannya ke pusat kota, hampir tiga puluh kilometer jauhnya dari rumah, bersama dengan gengong aki-aki di rumah. Di waktu yang lain dengan bangga ia menunjukan tiket funbike yang diselenggarakan di salah satu gelanggang olahraga terbesar di kota bahkan beliau memaksa ibu untuk ikut menemaninya bersepeda. Biar sehat dan enggak cepat lupa, katanya. Saya yang berada ratusan kilometer jauhnya hanya bisa melamun rindu. Rindu kepada ayah yang tetap jenaka, ibu yang terpaksa dan tentu yang ada bersama mereka: sepeda. Lanjutkan Membaca …

Manusia Setengah Kampret

oleh

Di sosial media belakangan ini muncul istilah baru untuk membagi manusia ke dalam dua kelompok tertentu. Cebong dan Kampret. Saya tahu, meskipun sempat kebingungan di awal, mengapa istilah itu muncul. Dan tentu istilah dan panggilan tersebut bukanlah panggilan sayang. Mereka, yang pertama kali membuat istilah itu, mengamati perilaku kelompoknya yang berseberangan, membandingkannya dengan binatang, memilah mana yang buruk dan, tentu saja, yang bisa dijadikan objek cela. Saya tidak mau dan tidak pernah mau terlibat aktif di dua kelompok itu. Tapi, tiba-tiba kok ya saya tergelitik untuk menebak-nebak sendiri. Kalau melihat pola dan perilaku, saya ada di mana, sih? Lanjutkan Membaca …

Anak & Telepon Genggam

oleh

Telepon genggam bagaikan dua sisi mata pisau yang memiliki sifat berlawanan. Di satu sisi, ia memberikan banyak sekali kemudahan untuk penggunananya. Banyak hal yang dulu harus dilakukan melalui berbagai medium, sekarang bisa diwakili oleh satu perangkat saja. Di sisi lain, ia juga hadir sebagai medium yang adiktif, memberikan efek ketergantungan yang luar biasa, menyita hampir dari separuh waktu umat manusia. Negatifnya, hampir semua dari kita, seringkali lebih memilih asik dengan telepon genggam ketimbang dengan kehidupan sosial di sekitar sehingga melahirkan sebuah frasa baru: ‘generasi menunduk’. Lanjutkan Membaca …

Go to Top