Scroll to top

Inter

andhikamppp
Posted by andhikamppp
24 September 2019

Demi Bola

Saya sedang merasa puas luar biasa. Pasalnya, sudah lama sekali, sejauh yang saya ingat, saya mampu mengkhatamkan satu pertandingan penuh laga yang dilakoni tim sepakbola favorit saya. Iya, di layar kaca tentu saja. Di akhir pekan kemarin saya berhasil menghabiskan sembilan puluh menit penuh melihat mereka berjibaku di tengah lapang meluluhlantahkan musuh bebuyutannya. Beberapa waktu yang banyak, saya memang kerap alfa dalam memberi dukungan maya. Jangankan satu laga penuh atau separuhnya, bahkan bisa dikatakan saya absen menonton di hampir seluruh laga yang mereka mainkan.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
27 September 2018

Balada Baju Bola

Dalam dua minggu terakhir, paling tidak satu perempat koleksi telah menghilang dari lemari. Iya, dua minggu lalu saya memutuskan untuk melepas ke pasar baju bola yang selama ini saya koleksi. Meskipun belum habis, keputusan untuk melepas semua koleksi sedikit berbuah manis. Dana yang didapat dari penjualan baju tersebut saya alokasikan untuk menyogok membeli kebutuhan rumah tangga agar saya bisa membeli mainan. Saya sempat pesimis ketika memutuskan untuk menjualnya. “Ada yang mau emang?”, “Laku enggak ya” dan nada-nada sumbang lain. Ternyata salah. Dunia bola, termasuk baju bola di dalamnya, masih tetap seperti sedia kala. Dalam porsi tertentu, ia menjadi salah satu potensi bisnis yang menguntungkan.

Read More
Pram Ichanx
Posted by Pram Ichanx
16 October 2017

Dear Senor

Buenos dias, Senor! Bagaimana akhir pekan anda kemarin? Anda pasti sudah lebih tenang dan lega selepas pulang dari Estadio Olimpico Atahualpa di Ekuador. Negara kelahiran anda termasuk saya, akhirnya berhasil mengamankan satu tempat di Piala Dunia 2018.

Read More
Pram Ichanx
Posted by Pram Ichanx
9 March 2017

... With Sugar Daddy

Siang hari, 8 Maret 2017. Langkah ku tepat di belakang asisten rumah tangga yang tadi membukakan pintu lalu kemudian mempersilahkanku masuk. Aku terus mengekor langkah sang asisten rumah tangga tersebut hingga ke sebuah ruang yang di dominasi rak buku berwarna coklat tua dengan deretan buku yang tergolong banyak. Sesaat setelah menyiapkan dua buah kursi yang dipisahkan dengan sebuah meja yang berbentuk artistik, sang asisten rumah tangga itu meninggalkanku menunggu dengannyaman orang yang memang ingin ku temui hari ini. Seseorang yang memiliki hunian mewah nan asri di Forte dei Marmi ini, jelas bukan sosok yang biasa biasa saja. Sudah sejak lama sebenarnya aku menginginkan untuk bertemu dengan pemilik rumah ini dan melakukan wawancara dengan beliau, namun baru hari ini lah aku berkesempatan menemuinya secara pribadi dan sudah mendapat izin langsung darinya untuk melakukan wawancara secara ekslusif.

Read More
Muhammad Wanda Syafii
Posted by Muhammad Wanda Syafii
25 October 2016

Kapten Pendosa

Beberapa tahun lalu, Claudio Lotito, presiden klub Italia, Lazio mengecam Ultras Lazio dan melarang fans garis keras tersebut hadir di setiap pertandingan kandang mereka. Beberapa tahun lalu pula, fans klub Serie A lainnya, Genoa, menghukum para pemainnya dengan memaksa para pemain menanggalkan jersey klub kesayangan mereka. Fans menganggap jika para pemain tidak pantas mengenakan jersey kebanggaan kota Genoa tersebut yang tengah terpuruk di klasemen. Bersitegang dengan fans memang menjadi hal yang lumrah di Italia. Tetapi, ketegangan yang disebabkan Mauro Icardi, striker Inter Milan, dengan para Interisti tentu dua, atau tiga tingkat diatas 2 permasalahan yang saya jabarkan di atas.

Read More
Pram Ichanx
Posted by Pram Ichanx
10 August 2016

Dari Paolo Untuk Javier

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika aku menuliskan ini kepadamu. Aku tentu saja tidak semahir Pier Paolo Pasolini dalam menderetkan kata-kata, namun aku merasa memang harus menuliskan ini, dan secara khusus, tulisan ini memang sengaja aku kutujukan kepadamu. Izinkan aku mengawali nya dengan sebuah cerita yang mungkin belum pernah kau dengar sebelumnya.

Februari 2003. Aku mungkin lupa tepatnya, namun aku jelas masih mengingat dengan baik kala seorang staff mendatangi ku dan memberitahu sebuah kabar yang mengejutkan. Ada seorang anak yang kabarnya mengidolakan aku dan sangat ingin bertemu denganku. Aku lalu berkata ke staff tersebut untuk mengajak saja anak tersebut ke sini dan aku akan menemui nya setelah berlatih. Namun, kemudian staff ku tersebut bercerita bahwa anak yang bernama Andrea tersebut mengidap leukemia dan dokter sudah memvonis bahwa waktu hidupnya tidak lama lagi dan mustahil baginya bepergian meninggalkan rumah sakit apalagi datang ke Milanello.

Read More
Pram Ichanx
Posted by Pram Ichanx
27 May 2016

Fiksi di Botinero

“Temui aku pukul 10 malam di Botinero"Javier Zanetti membaca pesan yang terpampang di  layar  telfon genggam canggihnya lalu memerosotkan nya ke saku kiri mantel hitam yang panjang nya mendekati lutut.

Angin malam berhembus cukup menusuk di pelataran Hotel Melia Milano ketika seorang pria bergaya necis berdiri di depan lobby dan tak lama kemudian sebuah taksi menghampiri nya. “Buonanotte, dove stai andando, signore?” sang supir membuka percakapan setelah pria itu masuk dan duduk di bangku belakang. “per favore mi navetta a questo indirizzo…” sang penumpang lantas menyerahkan secarik kertas yang bertuliskan VIA S.Marco, 3, 20121 Milano. Taksi pun segera melaju menembus kota bergelimang cahaya yang suasananya layak dinikmati dan tidak akan di lewatkan begitu saja oleh si penumpang.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
9 March 2016

Happy Birthday Inter

Kala itu saya pernah, pada berbagai kesempatan, memperkenalkan diri sebagai seorang pendukung dari salah satu klub sepakbola yang ada di Italia. Sejati ?? Entahlah rasa-rasanya tak perlu sejauh itu jika tujuannya hanya untuk berkonfrotasi dengan khalayak ramai, lawan atau kawan. Kala itu pula saya menjadi salah satu yang paling marah ketika klub itu dikutuk atau dihina dengan semena-mena oleh  pendukung klub lawan untuk berbagai alasan. Dan juga saya termasuk dari bagian yang menjadi rusak mood-nya ketika klub itu sedang kalah dan menjadi yang paling berbahagia ketika sedang bermain cantik lalu menang.

Kala itu saya termasuk yang tak sudi untuk kehilangan satu pertandingan pun klub itu bermain. Tengah malam, hujan lebat, sakit sedang, jarak jauh belasan atau puluhan kilometer, itu persoalan kecil belakangan lah bisa kita pikirkan. Tapi demi bisa senantiasa duduk manis di depan layar untuk menonton klub itu bertanding, saya akan lakukan apapun persoalannya. Pertandingan persahabatan yang tak mempertaruhkan apa-apa saja saya sanggupi apalagi jika dihadapkan pada pertandingan besar penuh gengsi. Kerja ?? Cuti sajalah, masih ada besok lusa.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
9 November 2015

Collezio Inter

Collezio adalah sebuah bahasa italia yang jika diterjemahkan secara paksa kedalam Bahasa Indonesia memiliki arti ‘koleksi’. Dan Inter dalam bahasa semesta bola kerap diidentikan kepada sebuah tim sepakbola yang juga berasal dari italia. Jadi jika sekali lagi saya diizinkan untuk memaksakan bahasa terjemahan maka saya akan mengartikan Collezio Inter adalah koleksi inter. Lalu bagaimana jika ada sekelompok orang yang melabeli diri mereka dengan nama Collezio Inter, apakah mereka itu adalah kelompok orang-orang yang punya koleksi tentang Inter??

Nama bagaimanapun adalah sebuah tentang variasi yang banyak. Bisa saja ia tentang warna kulit seperti misalnya si hitam & si putih atau bisa saja suatu waktu ada yang dinamai si malas, si pintar, si rajin dan lain lain bergantung seperti apa sifat dari yang dinamai tersebut. Yang paling mulia, tentu saja nama yang digunakan sebagai doa seperti misalnya ketika saya menamai anak saya dengan nama Naufal Daffa yang secara bahasa kurang lebih artinya adalah : Lelaki tampan dan dermawan yang memiliki pertahanan diri yang kuat. Tapi, bisa saja kan nama tidak memiliki arti apa-apa –kosong hanya sebagai pembeda antara A dan B karena pada akhirnya nama akan menjadi sebuah identitas yang harus dijaga.

Lalu, kembali ke pertanyaan tadi bagaimana jika ada sekelompok orang yang melabeli diri mereka dengan nama Collezio Inter, apakah mereka itu adalah kelompok orang-orang yang punya koleksi tentang Inter??

Read More
Pram Ichanx
Posted by Pram Ichanx
10 August 2015

Carta a Los Amigos Javier Zanetti

Kursi kayu sederhana aku duduki saat tulisan ini aku rangkai. Jika biasanya aku mengetik buah pikiran ku dengan komputer, kali ini aku memilih menulis dengan tangan ku sendiri. Cerutu yang sedari tadi ku nikmati tetap menyala di iringi hembusan angin pedalaman hutan Chiapas. Entah sudah horchata gelas ke berapa ku tenggak demi kesegaran di tenggorokanku. Tidak ada belitan amunisi laras panjang AK-47 otomatis di leher ku dan ketiadaan pasukan pengawal di sekitarku menandakan aku sedang duduk nyaman di tempat aman ketika menulis ini, termasuk ketika aku memutuskan melepas balaclava favorit ku untuk sejenak.

Ini bulan ke 8 yang berarti bulan yang spesial untuk mu kawan. 42 tahun yang lalu kau lahir di sebuah kota tua bernama Buenos Aires di Argentina. Masa kecil mu yang banyak kau habiskan di kawasan distrik Dock Sud tentu memiliki kondisi yang lebih baik ketimbang masa kecilku dahulu di kawasan Meksiko tengah. Ayah ku yang dulu bekerja sebagai guru desa membuat aku mengenal dunia lewat bacaan. Aku tidak mengenal dunia lewat siaran berita melainkan lewat novel, essai atau potongan potongan sajak. Buku karya Garcia Marquez, Fuentes, Monsivais hingga Vargas Llosa menemani ku melewati masa kecil ku hingga kemudian di sekolah menengah aku mulai membaca tentang Hitler, Marx, Lenin, Mussolini dan banyak buku ilmu politik secara umum lain nya.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
18 February 2015
andhikamppp
Posted by andhikamppp
31 January 2015

Untuk Zanetti Dan Mantan Klubnya

Selamat siang (atau pagi atau malam terserah kapanpun kau membacanya). Terakhir kali aku membuat tulisan tentang kamu adalah ketika aku membalas surat terbuka yang kau tulis untuk kami, fans di seluruh dunia. Dan kau tidak membalasnya, entahlah apa sempat kau membaca balasan surat yang aku tempo hari.

Maka sekarang izinkan aku menulisimu surat (lagi) , oh iya, masih sama seperti kemarin, aku menulis surat ini dalam rangka tantangan yang sedang ramai di linimasa, tentang bagaimana mengeksplorasi kemampuan kita dalam menulis surat cinta selama konsisten, satu bulan penuh, 30 hari tanpa jeda. Untuk siapa surat itu dikirim, itu terserah kami yang menulis, jika hari kemarin aku menulis surat cinta untuk istriku dirumah, maka kali ini aku berniat untuk menulisi surat untuk klub sepakbola yang (dulu) benar benar sangat kucinta. Ah, karena kupikir klub sepakbola itu sebuah benda, dan buta, mana mungkin juga bisa baca, jadi, yasudah aku tulis surat kali ini untukmu, rasa-rasanya sama saja.

Jadi, mari kita mulai, kapten.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
5 January 2015
andhikamppp
Posted by andhikamppp
21 November 2014
andhikamppp
Posted by andhikamppp
18 November 2014

Ada Apa Dengan Inter ??

"Karena semua orang bisa mulai dari awal"

Saat anda membaca tulisan ini, tentu saja anda sudah hidup sedari beberapa tahun yang lalu, Jika melihat siklus dari analisis IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) tentang kemampuan manusia untuk fasih dalam membaca, setidaknya saat ini usia anda 5-7 tahun, atau jika anda sedang berada dalam siklus kedua dimana anda berproses dalam mengingat dan merekam apa yang telah anda baca dan atau anda lakukan, setidaknya anda saat ini berusia antara 10-14 tahun. Atau sekarang anda berusia di antara 17-20 tahun -atau mungkin lebih- jika saat ini anda berproses dalam mereka ulang -dalam bentuk fantasi- semua yang telah anda baca, anda lakukan dan hal hal-lain yang anda simpan dalam bentuk kenangan.

Siklus pertama adalah siklus pembelajaran, siklus kedua adalah siklus adaptasi, dan siklus ketiga adalah proses aplikasi. Saat kita sudah masuk kedalam proses aplikasi kita akan cenderung lebih melibatkan emosi dalam tiap bahasan tentang kenangan. Silahkan untuk mencoba mereview kisah hidup pada manusia di siklus ketiga, setiap satu kata bahasan yang melibatkan apa yang anda baca, apa yang anda lihat dan apa yang anda lakukan di masa lalu akan mentranfsormasi jutaan sel di dalam tubuh menjadi emosi kompleks. Senang, sedih, haru, marah itu urusan belakangan tergantung apa yang dibahas. Dan jika hasil transformasi kenangan itu membawa kita ke dalam emosi yang indah, kita pasti akan betah berlama-lama diam didikte kenangan, kemudian berfantasi untuk mereka ulang kenangan indah itu.

Adalah LINE sebuah provider layanan pesan singkat asal korea selatan yang dengan jenius memanfaatkan “kelemahan”manusia di siklus ketiga tadi lewat miniklip ADA APA DENGAN CINTA?? yang dirilis beberapa waktu lalu. Bagi anda yang membaca tulisan ini dan berada di rentang usia 17-20 tahun atau lebih tidak mungkin tidak mengenal Cinta dan Rangga di film ADA APA DENGAN CINTA?? (AADC) yang muncul di bioskop 12 tahun silam. LINE memaksa kita kembali ke waktu disaat AADC “meledak” , plot film tentu tak akan berubah maka dengan jahatnya –dan tujuan promosinya- LINE mendesain ulang cerita untuk mendorong jatuh manusia di siklus ketiga tadi untuk jatuh lebih dalam ke dinamika waktu 12 tahun terakhir. Hasilnya ?? Indonesia tak akan seheboh kemarin jika LINE membuat miniklip HANTU DUDA  PERAWAN.

Buruknya kualitas tontonan saat ini -yang satu tema dengan AADC- membuat kehadiran miniklip ADA APA DENGAN CINTA?? versi LINE semakin klimaks, para manusia di siklus ketiga mengalami orgasme massal.

Di belahan bumi lainnya, setengah globe ke barat dari Indonesia, di Milan, Italia, FC Internazionale -untuk pasar yang lebih sempit- mencoba taktik pemasaran LINE dengan membawa kenangan lain bernama Roberto Mancini.

Read More
Pram Ichanx
Posted by Pram Ichanx
30 September 2014

ZEMAN, DAN FILOSOFI YANG (TAK PERNAH) MATI

"Sepulang dari Giueseppe Meazza, Zeman dan kopinya sama sama berfilosofi"

Saat anda membaca tulisan ini, saya tidak tahu persis apa yang sedang di lakukan oleh seorang Zdenek Zeman. Ia b isa saja sedang merokok yang memang sudah menjadi kebiasaan nya sejak dulu. Ia bisa juga sedang tersenyum kecil membaca Koran-koran pagi Italia di awal pekan ini yang terkadang lembaran nya tertiup hembusan angin khas Pulau Sardinia. Yang pasti saya tahu, di usia nya yang kini semakin senja, pesona Zeman sebagai pelatih sepakbola bagi saya pribadi sama sekali belum memudar. Ia mungkin kalah pamor dengan deretan nama pelatih beken yang setiap hari beritanya tercecar di berbagai media, tapi atas apa yang pernah di lakukan nya untuk sepakbola Italia, saya bersyukur sempat hidup di zaman ketika Zdenek Zeman berkiprah dengan berbagai sisi negative dan positif yang ia miliki.

Pria kelahiran Praha, Cekoslovakia pada 12 Mei 1947, tiba di Italia pertama kalinya ketika ia mencari paman nya saat butuh pertolongan akibat konflik di negara kelahiran nya. Oleh banyak pengamat sepakbola di Italia, sejak kemunculan nya Zeman di cap sebagai pria dengan watak ekstrimis. Zeman tidak hanya jago menciptakan kontroversi, namun dengan watak semodel itulah Zeman mengkombinasikan sisi ekstrimis nya dengan filosofi sepakbola yang ia pegang teguh yaitu, all out attack football.

Ledakan awal seorang Zdenek Zeman di persepakbolaan Italia di mulai ketika ia mampu memoles tim tanpa tradisi yaitu Foggia menjuarai Serie B pada musim 1990-1991. Kala itu seantero Italia nyaris gempar ketika Zeman dan Foggia nya memainkan sepakbola yang sangat menyerang. Sepakbola menyerang nan atraktif yang di ikuti pressing ketat serta menciptakan high defensive line ala Foggia mendapat sorotan publik yang lantas melahirkan istilah Zemanlandia. Setelah promosi ke Serie-A, Foggia tetap membawa pola main tersebut ke kompetisi kasta tertinggi yang akhirnya menuai banyak apresiasi positif dari para pengamat sepakbola Italia. Bila anda seorang pelatih yang menerapkan pola menyerang nan agresif di Liga Jerman, Spanyol atau Inggris sekalipun anda akan di cap handal dan di nilai berprestasi, apalagi Zeman yang menerapkan pola itu di Italia. Zeman dengan berani memainkan gaya bermain menyerang di sebuah negara yang mengagungkan seni bertahan dan menang dengan cara-cara pragmatis. Pola main buah pikiran dari seorang Zeman yang di nilai ekstrimis seolah menampar telak pemuja cattenacio yang memilih mencetak 1 gol terlebih dahulu lalu bertahan sambil berharap serangan balik atas kesalahan lawan. Zeman mempersetankan pola main di balik frasa “menang dengan cara apapun” karena baginya, menang di sepakbola adalah terus menyerang selama 90 menit. Zeman mencintai sepakbola dengan cara nya sendiri, sepakbola yang menyerang.

Read More