Tag archive

Ibu

Yang Kedua

oleh

Matahari masih malu-malu dan sembunyi ketika seorang lelaki menjejakan kakinya di tanah ibukota untuk mengakhiri perjalanan seperempat harinya. Bersamanya pemburu waktu berlalu-lalang dengan nafas-nafas menderu. Tak ada sapa di antara mereka, bahkan ketika uap-uap panas dari air mendidih para penyaji kopi di tengah pasar yang bingar itu memanggil, mereka tak peduli belaka. Suara lantang kumandang azan dari sebuah langgar kecil tiga kali dua tak jauh dari sana menjadi pembeda. Seolah bersepakat, semua deru cepat nafas itu melambat bersatu dalam lantunan ayat yang khidmat. Si Lelaki kini berada dalam barisan, menunggu giliran air yang berkucuran. Seperti orang lain kebanyakan, dalam tunggunya, lelaki itu membuka beberapa pesan. Memilah mana yang harus dibaca dan mana yang harus diabaikan. Matanya tertuju pada satu pesan, dari wanita yang ia pernah bersumpah demi Tuhan untuk selalu menjaganya. Gilirannya datang dan kini ia enggan, orang tua berkacamata di belakangnya ia persilakan duluan. Pesan ini, terlalu penting untuk dilewatkan. Pesan yang seharga dengan seluruh kehidupan.

Lanjutkan Membaca …

Main Sepeda

oleh

Beberapa waktu terakhir ayah saya menghujani percakapan di layanan pesan singkat dengan segala hal yang berbau sepeda. Entah itu berupa gambar, kalimat, cuplikan video atau catatan suara. Terganggu? Tidak sama sekali. Saya malah merasa senang, di usia senjanya, ayah masih getol beraktivitas di luar. Sekali waktu ia bercerita tentang perjalanannya ke pusat kota, hampir tiga puluh kilometer jauhnya dari rumah, bersama dengan gengong aki-aki di rumah. Di waktu yang lain dengan bangga ia menunjukan tiket funbike yang diselenggarakan di salah satu gelanggang olahraga terbesar di kota bahkan beliau memaksa ibu untuk ikut menemaninya bersepeda. Biar sehat dan enggak cepat lupa, katanya. Saya yang berada ratusan kilometer jauhnya hanya bisa melamun rindu. Rindu kepada ayah yang tetap jenaka, ibu yang terpaksa dan tentu yang ada bersama mereka: sepeda.   Lanjutkan Membaca …

Cerita tentang Wibi

oleh

Cerita ini dimulai saat matahari mulai tenggelam dan senja datang membawakan banyak sekali cerita. Sunyinya taman kota membuat suara ayunan yang berisik menjadi jelas setiap kali ia berdenyit. Satu persatu orang mulai pergi meninggalkan tempat itu, semakin sepi saja, menyisakan anak kecil yang termangu duduk sendiri di ayunan yang nyaris tak bergerak tepat di tengah taman kota. Ia mulai terisak di saat air matanya belum sempat jatuh. Tak ada yang lebih menyakitkan daripada itu. Tangis yang tak dibarengi oleh air mata. “Ayah” ia berucap pelan, memanggil sosok yang amat ia rindukan. Matahari sudah hilang sempurna. Langit menjadi gelap, plang Taman kanak-kanak Tadika Puri di seberang taman kota sudah tidak terlihat. Sudah lebih dari tiga jam ia menunggu disana, untuk anak seusianya ini sudah berlebihan. Tapi bagaimanalah, paman tak bisa menjemput tepat waktu, dipaksa kerja lembur.

Dari langit hujan datang beriringan, tak terlalu banyak namun cukup membuat anak itu basah kuyup. Ia tak peduli, karena di tengah taman kota, paman akan mudah menemukannya dan ia percaya paman akan segera datang. Benar saja, sebelum adzan Isya berkumandang paman datang tergesa-gesa, memeluknya erat merasa berdosa membiarkan anak sekecil itu menunggu lama di tengah hujan. “Maafkan paman datang terlambat, Wibi”. Lanjutkan Membaca …

Pergi Ke Pasar

oleh

Saya percaya anda tidak akan membicarakan hal yang kurang baik jika saya bercerita tentang apa yang biasa terjadi di rumah. Tentang bagaimana saya yang hampir tidak pernah sama sekali membantu istri untuk melakukan pekerjaan rumah tangga. Membiarkan istri bangun lebih awal demi menyiapkan satu cangkir teh manis beserta kudapan yang bisa mengganjal perut ketika saya harus meninggalkan rumah selepas dua rakaat pertama setiap harinya. Dan juga ketika ia selalu memastikan makanan penutup hari di waktu malam selalu hangat setiap saya kembali ke rumah di waktu empat rakaat terakhir. Ah, padahal kami sama-sama bekerja di luar rumah. Tetapi pastilah tenaga yang ia keluarkan berlipat jauh dibandingkan saya.

Tetapi jikapun anggapan buruk itu ada, biar sajalah. Dan semoga saja satu cerita berikutnya bisa meyakinkan anda semua -dan anda harus percaya bagaimanapun akan ada saatnya seorang laki-laki akan menunjukan rasa tanggung jawab kepada keluarganya, ya meski dalam kasus ini porsinya teramat kecil. Lanjutkan Membaca …

Bunda Jangan Berisik

oleh

Bunda, apa bunda ingat beberapa hari silam saat aku menangis marah –sedemikian parah. Seharian itu bunda melakukan banyak hal agar aku tenang, lalu diam. Bunda menimang aku dengan manja, memakaikan pakaian terbaik untukku, membersihkan kotoranku agar aku tetap nyaman, menyusui aku sehingga tetap bertenaga yang malah membuat aku bisa menangis lebih hebat. Hingga akhirnya bunda, kau kelelahan lalu tertidur karena lelah. Bunda tahu?? Bahkan saat tidur pun bunda tetap terlihat begitu cantik. Tak lama aku pun menyusul bunda, menyusul tidur.

Lewat tengah malam pintu kamar terbuka sungguh pelan, ayah pulang, sengaja meminimalkan suara agar aku dan bunda tidak bangun. Percuma ayah, aku hapal betul suara langkah kaki ayah yang sering tergesa-gesa dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuat aku terbangun. Tapi lihat, bunda masih lelap, sungguh lelah nampaknya bunda hari itu, sampai bunda melewatkan kebiasaan mencium tangan ayah setiap kali ayah pulang. Demi melihat bunda tertidur saat itu, ayah tersenyum, entah kenapa begitu penuh penghargaan. Selepas mengganti pakaian kerjanya ayah lalu mencium kening bunda, aku mendapat bagian yang sama. Dan aku tersenyum, sungguh itu adalah momen terbaik setiap ayah pulang di akhir pekan.

Hari itu, ayah tak langsung tidur seperti biasanya. Melihat aku yang belum lagi tidur setelah terbangun tadi, ayah berbisik mengajakku bercanda. Satu dua gerakan kemudian ayah berhenti, raut wajah ayah berubah sendu. Semenjak aku lahir beberapa bulan lalu, baru kali itu wajah ayah terlihat tidak menyenangkan. Belum sempat aku menangis –aku ingin bertanya kenapa wajah ayah berubah muram ayah lalu bercerita banyak sekali, masih sambil berbisik malah sekarang suara ayah hampir tidak terdengar. Aku tahu, ayah tak ingin membuat bunda terbangun.

Aku khidmat mendengar bisikan cerita dari ayah. Dan kali ini aku benar-benar ingin menangis kencang, dari cerita ayah aku jadi tahu, setelah dewasa nanti aku tak boleh seperti ayah. Lanjutkan Membaca …

Go to Top