Tag archive

Fiksi

Surat Dari Si Penyihir Malas

oleh

Pukul 10 malam. Laju  kapal membelah kegelapan sunyi di antara kota San Fernando dan Tigre. Buih air yang tercipta dari laju lambat kapal bertuliskan Nueva Cristina bergantian mengisi suara dengan binatang malam tepi sungai. Ada yang berbeda malam itu jika dibandingkan dengan malam yang lain. Tak terlihat penumpang yang biasanya merupakan pasangan duduk berhadapan di atas meja kecil dengan penerangan lilin di tengah dua pasang bola mata yang berhadapan. Malam itu pun laju kapal jauh lebih lambat dari yang biasanya terlihat. Mungkin hanya semburat bayangan lampu kapal di air yang terlihat normal seperti biasanya. Lily dan Ricardo, yang merupakan pasangan yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi dan tersaji di atas kapal, tak terlihat sibuk seperti biasanya. Mereka tak hilir mudik membawakan hidangan special ataupun botol anggur dari tahun 1980 buatan Prancis ke meja kecil di bagian atas kapal. Tak ada pasangan malam itu. Tak ada dua insan yang sengaja memesan tempat demi sebuah makan malam romantis di atas Barco Nueva Cristina. Lanjutkan Membaca …

Castro & Che

oleh

Sesosok pria bertelanjang dada berdiri tak jauh dari sebuah taman luas yang bermandikan cahaya matahari pagi. Pria itu sepertinya bangun terlalu pagi, entah apa yang membuatnya rela terjaga lebih cepat dari biasanya. Sepertinya ada yang sedang ditunggu kedatangannya oleh pria itu, entah wanita lain yang dicinta, entah sanak keluarga atau sekedar teman lama. Tak jauh dari tempat pria itu tadi berdiri di dekat taman indah yang terbentang, ia kemudian mendaratkan tubuhnya di atas sebuah kursi kayu sederhana yang tertata rapi dengan meja kecil di teras rumahnya yang megah namun bergaya klasik. Pelayan tanpa di minta segera meletakan beberapa botol beer merk Hatuey di meja kecil di hadapan sang majikan yang kemudian langsung di bukanya dan di teguk sedikit sebelum mengeluarkan cerutu merk Montecristo dari saku celananya. Dari dalam rumah, alunan Hasta Siempre menemani si penunggu rumah melewati pagi yang nampaknya akan lain dari pagi pagi sebelumnya. Lanjutkan Membaca …

Dari Paolo Untuk Javier

oleh

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika aku menuliskan ini kepadamu. Aku tentu saja tidak semahir Pier Paolo Pasolini dalam menderetkan kata-kata, namun aku merasa memang harus menuliskan ini, dan secara khusus, tulisan ini memang sengaja aku kutujukan kepadamu. Izinkan aku mengawali nya dengan sebuah cerita yang mungkin belum pernah kau dengar sebelumnya.

Februari 2003. Aku mungkin lupa tepatnya, namun aku jelas masih mengingat dengan baik kala seorang staff mendatangi ku dan memberitahu sebuah kabar yang mengejutkan. Ada seorang anak yang kabarnya mengidolakan aku dan sangat ingin bertemu denganku. Aku lalu berkata ke staff tersebut untuk mengajak saja anak tersebut ke sini dan aku akan menemui nya setelah berlatih. Namun, kemudian staff ku tersebut bercerita bahwa anak yang bernama Andrea tersebut mengidap leukemia dan dokter sudah memvonis bahwa waktu hidupnya tidak lama lagi dan mustahil baginya bepergian meninggalkan rumah sakit apalagi datang ke Milanello. Lanjutkan Membaca …

Fiksi di Botinero

oleh

“Temui aku pukul 10 malam di Botinero”Javier Zanetti membaca pesan yang terpampang di  layar  telfon genggam canggihnya lalu memerosotkan nya ke saku kiri mantel hitam yang panjang nya mendekati lutut.

Angin malam berhembus cukup menusuk di pelataran Hotel Melia Milano ketika seorang pria bergaya necis berdiri di depan lobby dan tak lama kemudian sebuah taksi menghampiri nya. “Buonanotte, dove stai andando, signore?” sang supir membuka percakapan setelah pria itu masuk dan duduk di bangku belakang. “per favore mi navetta a questo indirizzo…” sang penumpang lantas menyerahkan secarik kertas yang bertuliskan VIA S.Marco, 3, 20121 Milano. Taksi pun segera melaju menembus kota bergelimang cahaya yang suasananya layak dinikmati dan tidak akan di lewatkan begitu saja oleh si penumpang. Lanjutkan Membaca …

Go to Top