Tag archive

Esai

Kapten Pendosa

oleh

Beberapa tahun lalu, Claudio Lotito, presiden klub Italia, Lazio mengecam Ultras Lazio dan melarang fans garis keras tersebut hadir di setiap pertandingan kandang mereka. Beberapa tahun lalu pula, fans klub Serie A lainnya, Genoa, menghukum para pemainnya dengan memaksa para pemain menanggalkan jersey klub kesayangan mereka. Fans menganggap jika para pemain tidak pantas mengenakan jersey kebanggaan kota Genoa tersebut yang tengah terpuruk di klasemen. Bersitegang dengan fans memang menjadi hal yang lumrah di Italia. Tetapi, ketegangan yang disebabkan Mauro Icardi, striker Inter Milan, dengan para Interisti tentu dua, atau tiga tingkat diatas 2 permasalahan yang saya jabarkan di atas. Lanjutkan Membaca …

Anomali Totti

oleh

Saat tulisan ini muncul di layar gadget anda, Steven Gerrard mungkin sedang berlari lari kecil di Stub Hub Center California bersama Robbie Keane di bawah arahan Bruce Arena. Gerrard adalah satu dari beberapa nama yang akhirnya memutuskan meninggalkan panggung sepakbola Eropa. Silau nya lampu sorot di benua biru tak lagi di rasa nyaman hingga akhir nya Amerika menjadi tujuan selanjutnya. Hasrat Gerrard untuk bisa menjadi juara Liga Inggris mungkin masih menyala meski dengan cahaya yang temaram bahkan nyaris mati. Maka tak ada yang salah juga ketika seorang Steven Gerrard memilih merumput di MLS agar lebih menikmati hidup nya sebagai pemain sepakbola yang tetap di bayar mahal namun dengan tekanan yang jauh lebih ringan.

Apakah Gerrard pengecut? Apakah Gerrard layak di labeli pecundang yang memilih meninggalkan medan perang nya sebelum ia benar benar gugur dalam pertempuran nya? Saya pribadi tak sesinis itu menilai keputusan Gerrard. Di usia nya yg tak lagi muda Gerrard hanya ingin terus bermain dengan tekanan yang tak melulu memaksanya lelah secara fisik dan pikiran. Gerrard butuh kenyamanan yang bisa melahirkan kebahagiaan dan Gerrard tahu betul kebahagiaan nya harus ia ciptakan sendiri meski itu harus membuatnya pergi dari kota yang ia cintai. Lanjutkan Membaca …

Lucarelli Dan Cinta Yang Dibawanya

oleh

Untuk pertama kalinya dalam 30 tahun terakhir, sore itu di Armando Picchi, Livorno berkesempatan untuk bisa naik ke Serie-B. Syarat nya hanya satu, memenangkan pertandingan melawan Treviso. Fans memenuhi Armando Picchi dengan harapan di sertai keyekinan tebal untuk bisa berpesta setelah 90 menit nanti. Sukacita itu pecah ketika Igor Protti membuat gol tunggal yang membuat Livorno menang 1-0 dan seperti tradisi scudetto di Italia, semua fans dari tribun turun langsung ke lapangan untuk saling merayakan entah dengan pemain, penonton lain atau bahkan orang yang tidak di kenalnya sebelum pertandingan. Di tengah euforia maksimal dari seluruh fans Livorno, ada satu sosok pria tinggi berwajah tegas yang familiar turut serta dalam perayaan sore itu. Ya, Cristiano Lucarelli hadir saat itu di Armando Picchi untuk menonton Livorno berlaga. Lucarelli menyempatkan mendukung langsung meski harus meminta izin mati-matian kepada Torino, klub nya saat itu untuk tidak ikut bertanding demi pulang ke kota kelahiran nya.  Anda pernah berkorban macam apa demi suatu hal atau seorang yang anda cintai? Saya mungkin akan mendapat jawaban yang beragam, tapi apa yang telah di lakukan Lucarelli hari itu jelas sangat layak untuk di anugrahi sebagai sebuah tindakan cinta. Lanjutkan Membaca …

Ada Apa Dengan Inter ??

oleh

“Karena semua orang bisa mulai dari awal”

Saat anda membaca tulisan ini, tentu saja anda sudah hidup sedari beberapa tahun yang lalu, Jika melihat siklus dari analisis IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) tentang kemampuan manusia untuk fasih dalam membaca, setidaknya saat ini usia anda 5-7 tahun, atau jika anda sedang berada dalam siklus kedua dimana anda berproses dalam mengingat dan merekam apa yang telah anda baca dan atau anda lakukan, setidaknya anda saat ini berusia antara 10-14 tahun. Atau sekarang anda berusia di antara 17-20 tahun –atau mungkin lebih- jika saat ini anda berproses dalam mereka ulang –dalam bentuk fantasi- semua yang telah anda baca, anda lakukan dan hal hal-lain yang anda simpan dalam bentuk kenangan.

Siklus pertama adalah siklus pembelajaran, siklus kedua adalah siklus adaptasi, dan siklus ketiga adalah proses aplikasi. Saat kita sudah masuk kedalam proses aplikasi kita akan cenderung lebih melibatkan emosi dalam tiap bahasan tentang kenangan. Silahkan untuk mencoba mereview kisah hidup pada manusia di siklus ketiga, setiap satu kata bahasan yang melibatkan apa yang anda baca, apa yang anda lihat dan apa yang anda lakukan di masa lalu akan mentranfsormasi jutaan sel di dalam tubuh menjadi emosi kompleks. Senang, sedih, haru, marah itu urusan belakangan tergantung apa yang dibahas. Dan jika hasil transformasi kenangan itu membawa kita ke dalam emosi yang indah, kita pasti akan betah berlama-lama diam didikte kenangan, kemudian berfantasi untuk mereka ulang kenangan indah itu.

Adalah LINE sebuah provider layanan pesan singkat asal korea selatan yang dengan jenius memanfaatkan “kelemahan”manusia di siklus ketiga tadi lewat miniklip ADA APA DENGAN CINTA?? yang dirilis beberapa waktu lalu. Bagi anda yang membaca tulisan ini dan berada di rentang usia 17-20 tahun atau lebih tidak mungkin tidak mengenal Cinta dan Rangga di film ADA APA DENGAN CINTA?? (AADC) yang muncul di bioskop 12 tahun silam. LINE memaksa kita kembali ke waktu disaat AADC “meledak” , plot film tentu tak akan berubah maka dengan jahatnya –dan tujuan promosinya– LINE mendesain ulang cerita untuk mendorong jatuh manusia di siklus ketiga tadi untuk jatuh lebih dalam ke dinamika waktu 12 tahun terakhir. Hasilnya ?? Indonesia tak akan seheboh kemarin jika LINE membuat miniklip HANTU DUDA  PERAWAN.

Buruknya kualitas tontonan saat ini -yang satu tema dengan AADC- membuat kehadiran miniklip ADA APA DENGAN CINTA?? versi LINE semakin klimaks, para manusia di siklus ketiga mengalami orgasme massal.

Di belahan bumi lainnya, setengah globe ke barat dari Indonesia, di Milan, Italia, FC Internazionale -untuk pasar yang lebih sempit- mencoba taktik pemasaran LINE dengan membawa kenangan lain bernama Roberto Mancini.

Lanjutkan Membaca …

ZEMAN, DAN FILOSOFI YANG (TAK PERNAH) MATI

oleh

“Sepulang dari Giueseppe Meazza, Zeman dan kopinya sama sama berfilosofi”

Saat anda membaca tulisan ini, saya tidak tahu persis apa yang sedang di lakukan oleh seorang Zdenek Zeman. Ia b isa saja sedang merokok yang memang sudah menjadi kebiasaan nya sejak dulu. Ia bisa juga sedang tersenyum kecil membaca Koran-koran pagi Italia di awal pekan ini yang terkadang lembaran nya tertiup hembusan angin khas Pulau Sardinia. Yang pasti saya tahu, di usia nya yang kini semakin senja, pesona Zeman sebagai pelatih sepakbola bagi saya pribadi sama sekali belum memudar. Ia mungkin kalah pamor dengan deretan nama pelatih beken yang setiap hari beritanya tercecar di berbagai media, tapi atas apa yang pernah di lakukan nya untuk sepakbola Italia, saya bersyukur sempat hidup di zaman ketika Zdenek Zeman berkiprah dengan berbagai sisi negative dan positif yang ia miliki.

Pria kelahiran Praha, Cekoslovakia pada 12 Mei 1947, tiba di Italia pertama kalinya ketika ia mencari paman nya saat butuh pertolongan akibat konflik di negara kelahiran nya. Oleh banyak pengamat sepakbola di Italia, sejak kemunculan nya Zeman di cap sebagai pria dengan watak ekstrimis. Zeman tidak hanya jago menciptakan kontroversi, namun dengan watak semodel itulah Zeman mengkombinasikan sisi ekstrimis nya dengan filosofi sepakbola yang ia pegang teguh yaitu, all out attack football.

Ledakan awal seorang Zdenek Zeman di persepakbolaan Italia di mulai ketika ia mampu memoles tim tanpa tradisi yaitu Foggia menjuarai Serie B pada musim 1990-1991. Kala itu seantero Italia nyaris gempar ketika Zeman dan Foggia nya memainkan sepakbola yang sangat menyerang. Sepakbola menyerang nan atraktif yang di ikuti pressing ketat serta menciptakan high defensive line ala Foggia mendapat sorotan publik yang lantas melahirkan istilah Zemanlandia. Setelah promosi ke Serie-A, Foggia tetap membawa pola main tersebut ke kompetisi kasta tertinggi yang akhirnya menuai banyak apresiasi positif dari para pengamat sepakbola Italia. Bila anda seorang pelatih yang menerapkan pola menyerang nan agresif di Liga Jerman, Spanyol atau Inggris sekalipun anda akan di cap handal dan di nilai berprestasi, apalagi Zeman yang menerapkan pola itu di Italia. Zeman dengan berani memainkan gaya bermain menyerang di sebuah negara yang mengagungkan seni bertahan dan menang dengan cara-cara pragmatis. Pola main buah pikiran dari seorang Zeman yang di nilai ekstrimis seolah menampar telak pemuja cattenacio yang memilih mencetak 1 gol terlebih dahulu lalu bertahan sambil berharap serangan balik atas kesalahan lawan. Zeman mempersetankan pola main di balik frasa “menang dengan cara apapun” karena baginya, menang di sepakbola adalah terus menyerang selama 90 menit. Zeman mencintai sepakbola dengan cara nya sendiri, sepakbola yang menyerang. Lanjutkan Membaca …

Go to Top