Scroll to top

Esai

Muhammad Wanda Syafii
Posted by Muhammad Wanda Syafii
25 October 2016

Kapten Pendosa

Beberapa tahun lalu, Claudio Lotito, presiden klub Italia, Lazio mengecam Ultras Lazio dan melarang fans garis keras tersebut hadir di setiap pertandingan kandang mereka. Beberapa tahun lalu pula, fans klub Serie A lainnya, Genoa, menghukum para pemainnya dengan memaksa para pemain menanggalkan jersey klub kesayangan mereka. Fans menganggap jika para pemain tidak pantas mengenakan jersey kebanggaan kota Genoa tersebut yang tengah terpuruk di klasemen. Bersitegang dengan fans memang menjadi hal yang lumrah di Italia. Tetapi, ketegangan yang disebabkan Mauro Icardi, striker Inter Milan, dengan para Interisti tentu dua, atau tiga tingkat diatas 2 permasalahan yang saya jabarkan di atas.

Read More
Pram Ichanx
Posted by Pram Ichanx
4 August 2015

Anomali Totti

Saat tulisan ini muncul di layar gadget anda, Steven Gerrard mungkin sedang berlari lari kecil di Stub Hub Center California bersama Robbie Keane di bawah arahan Bruce Arena. Gerrard adalah satu dari beberapa nama yang akhirnya memutuskan meninggalkan panggung sepakbola Eropa. Silau nya lampu sorot di benua biru tak lagi di rasa nyaman hingga akhir nya Amerika menjadi tujuan selanjutnya. Hasrat Gerrard untuk bisa menjadi juara Liga Inggris mungkin masih menyala meski dengan cahaya yang temaram bahkan nyaris mati. Maka tak ada yang salah juga ketika seorang Steven Gerrard memilih merumput di MLS agar lebih menikmati hidup nya sebagai pemain sepakbola yang tetap di bayar mahal namun dengan tekanan yang jauh lebih ringan.

Apakah Gerrard pengecut? Apakah Gerrard layak di labeli pecundang yang memilih meninggalkan medan perang nya sebelum ia benar benar gugur dalam pertempuran nya? Saya pribadi tak sesinis itu menilai keputusan Gerrard. Di usia nya yg tak lagi muda Gerrard hanya ingin terus bermain dengan tekanan yang tak melulu memaksanya lelah secara fisik dan pikiran. Gerrard butuh kenyamanan yang bisa melahirkan kebahagiaan dan Gerrard tahu betul kebahagiaan nya harus ia ciptakan sendiri meski itu harus membuatnya pergi dari kota yang ia cintai.

Read More
Pram Ichanx
Posted by Pram Ichanx
14 March 2015

Lucarelli Dan Cinta Yang Dibawanya

Untuk pertama kalinya dalam 30 tahun terakhir, sore itu di Armando Picchi, Livorno berkesempatan untuk bisa naik ke Serie-B. Syarat nya hanya satu, memenangkan pertandingan melawan Treviso. Fans memenuhi Armando Picchi dengan harapan di sertai keyekinan tebal untuk bisa berpesta setelah 90 menit nanti. Sukacita itu pecah ketika Igor Protti membuat gol tunggal yang membuat Livorno menang 1-0 dan seperti tradisi scudetto di Italia, semua fans dari tribun turun langsung ke lapangan untuk saling merayakan entah dengan pemain, penonton lain atau bahkan orang yang tidak di kenalnya sebelum pertandingan. Di tengah euforia maksimal dari seluruh fans Livorno, ada satu sosok pria tinggi berwajah tegas yang familiar turut serta dalam perayaan sore itu. Ya, Cristiano Lucarelli hadir saat itu di Armando Picchi untuk menonton Livorno berlaga. Lucarelli menyempatkan mendukung langsung meski harus meminta izin mati-matian kepada Torino, klub nya saat itu untuk tidak ikut bertanding demi pulang ke kota kelahiran nya.  Anda pernah berkorban macam apa demi suatu hal atau seorang yang anda cintai? Saya mungkin akan mendapat jawaban yang beragam, tapi apa yang telah di lakukan Lucarelli hari itu jelas sangat layak untuk di anugrahi sebagai sebuah tindakan cinta.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
18 November 2014

Ada Apa Dengan Inter ??

"Karena semua orang bisa mulai dari awal"

Saat anda membaca tulisan ini, tentu saja anda sudah hidup sedari beberapa tahun yang lalu, Jika melihat siklus dari analisis IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) tentang kemampuan manusia untuk fasih dalam membaca, setidaknya saat ini usia anda 5-7 tahun, atau jika anda sedang berada dalam siklus kedua dimana anda berproses dalam mengingat dan merekam apa yang telah anda baca dan atau anda lakukan, setidaknya anda saat ini berusia antara 10-14 tahun. Atau sekarang anda berusia di antara 17-20 tahun -atau mungkin lebih- jika saat ini anda berproses dalam mereka ulang -dalam bentuk fantasi- semua yang telah anda baca, anda lakukan dan hal hal-lain yang anda simpan dalam bentuk kenangan.

Siklus pertama adalah siklus pembelajaran, siklus kedua adalah siklus adaptasi, dan siklus ketiga adalah proses aplikasi. Saat kita sudah masuk kedalam proses aplikasi kita akan cenderung lebih melibatkan emosi dalam tiap bahasan tentang kenangan. Silahkan untuk mencoba mereview kisah hidup pada manusia di siklus ketiga, setiap satu kata bahasan yang melibatkan apa yang anda baca, apa yang anda lihat dan apa yang anda lakukan di masa lalu akan mentranfsormasi jutaan sel di dalam tubuh menjadi emosi kompleks. Senang, sedih, haru, marah itu urusan belakangan tergantung apa yang dibahas. Dan jika hasil transformasi kenangan itu membawa kita ke dalam emosi yang indah, kita pasti akan betah berlama-lama diam didikte kenangan, kemudian berfantasi untuk mereka ulang kenangan indah itu.

Adalah LINE sebuah provider layanan pesan singkat asal korea selatan yang dengan jenius memanfaatkan “kelemahan”manusia di siklus ketiga tadi lewat miniklip ADA APA DENGAN CINTA?? yang dirilis beberapa waktu lalu. Bagi anda yang membaca tulisan ini dan berada di rentang usia 17-20 tahun atau lebih tidak mungkin tidak mengenal Cinta dan Rangga di film ADA APA DENGAN CINTA?? (AADC) yang muncul di bioskop 12 tahun silam. LINE memaksa kita kembali ke waktu disaat AADC “meledak” , plot film tentu tak akan berubah maka dengan jahatnya –dan tujuan promosinya- LINE mendesain ulang cerita untuk mendorong jatuh manusia di siklus ketiga tadi untuk jatuh lebih dalam ke dinamika waktu 12 tahun terakhir. Hasilnya ?? Indonesia tak akan seheboh kemarin jika LINE membuat miniklip HANTU DUDA  PERAWAN.

Buruknya kualitas tontonan saat ini -yang satu tema dengan AADC- membuat kehadiran miniklip ADA APA DENGAN CINTA?? versi LINE semakin klimaks, para manusia di siklus ketiga mengalami orgasme massal.

Di belahan bumi lainnya, setengah globe ke barat dari Indonesia, di Milan, Italia, FC Internazionale -untuk pasar yang lebih sempit- mencoba taktik pemasaran LINE dengan membawa kenangan lain bernama Roberto Mancini.

Read More
Pram Ichanx
Posted by Pram Ichanx
30 September 2014

ZEMAN, DAN FILOSOFI YANG (TAK PERNAH) MATI

"Sepulang dari Giueseppe Meazza, Zeman dan kopinya sama sama berfilosofi"

Saat anda membaca tulisan ini, saya tidak tahu persis apa yang sedang di lakukan oleh seorang Zdenek Zeman. Ia b isa saja sedang merokok yang memang sudah menjadi kebiasaan nya sejak dulu. Ia bisa juga sedang tersenyum kecil membaca Koran-koran pagi Italia di awal pekan ini yang terkadang lembaran nya tertiup hembusan angin khas Pulau Sardinia. Yang pasti saya tahu, di usia nya yang kini semakin senja, pesona Zeman sebagai pelatih sepakbola bagi saya pribadi sama sekali belum memudar. Ia mungkin kalah pamor dengan deretan nama pelatih beken yang setiap hari beritanya tercecar di berbagai media, tapi atas apa yang pernah di lakukan nya untuk sepakbola Italia, saya bersyukur sempat hidup di zaman ketika Zdenek Zeman berkiprah dengan berbagai sisi negative dan positif yang ia miliki.

Pria kelahiran Praha, Cekoslovakia pada 12 Mei 1947, tiba di Italia pertama kalinya ketika ia mencari paman nya saat butuh pertolongan akibat konflik di negara kelahiran nya. Oleh banyak pengamat sepakbola di Italia, sejak kemunculan nya Zeman di cap sebagai pria dengan watak ekstrimis. Zeman tidak hanya jago menciptakan kontroversi, namun dengan watak semodel itulah Zeman mengkombinasikan sisi ekstrimis nya dengan filosofi sepakbola yang ia pegang teguh yaitu, all out attack football.

Ledakan awal seorang Zdenek Zeman di persepakbolaan Italia di mulai ketika ia mampu memoles tim tanpa tradisi yaitu Foggia menjuarai Serie B pada musim 1990-1991. Kala itu seantero Italia nyaris gempar ketika Zeman dan Foggia nya memainkan sepakbola yang sangat menyerang. Sepakbola menyerang nan atraktif yang di ikuti pressing ketat serta menciptakan high defensive line ala Foggia mendapat sorotan publik yang lantas melahirkan istilah Zemanlandia. Setelah promosi ke Serie-A, Foggia tetap membawa pola main tersebut ke kompetisi kasta tertinggi yang akhirnya menuai banyak apresiasi positif dari para pengamat sepakbola Italia. Bila anda seorang pelatih yang menerapkan pola menyerang nan agresif di Liga Jerman, Spanyol atau Inggris sekalipun anda akan di cap handal dan di nilai berprestasi, apalagi Zeman yang menerapkan pola itu di Italia. Zeman dengan berani memainkan gaya bermain menyerang di sebuah negara yang mengagungkan seni bertahan dan menang dengan cara-cara pragmatis. Pola main buah pikiran dari seorang Zeman yang di nilai ekstrimis seolah menampar telak pemuja cattenacio yang memilih mencetak 1 gol terlebih dahulu lalu bertahan sambil berharap serangan balik atas kesalahan lawan. Zeman mempersetankan pola main di balik frasa “menang dengan cara apapun” karena baginya, menang di sepakbola adalah terus menyerang selama 90 menit. Zeman mencintai sepakbola dengan cara nya sendiri, sepakbola yang menyerang.

Read More
raysistance
Posted by raysistance
7 July 2014

Metode Catur Dalam Sepakbola

Bak langit dan bumi, begitulah kiasan yang tepat jika catur dan sepak bola dianalogikan. Dibutuhkan tenaga ekstra kuat untuk memainkan sepak bola, dibanding catur yang jauh lebih sederhana dan tidak terlalu membutuhkan tenaga ekstra layaknya sepak bola. Dari segi popularitas pun sangat timpang. Jelas, sepak bola menang telak dari catur –bahkan popularitas sepak bola mengalahkan popularitas eksistensi Agama.

Catur memang tidak serumit dan semegah sepak bola. Bermain catur hanya membutuhkan papan 64 kotak hitam dan putih, dan 16 buah catur. Bandingkan dengan sepak bola yang membutuhkan lapang kosong untuk memainkannya. Walaupun perbedaan sepak bola dan catur sangat kontras, tetapi kedua olahraga ini memiliki tujuan yang sama, yaitu merangkai strategi untuk mengalahkan lawan.

Read More
raysistance
Posted by raysistance
2 July 2014

Penjaga Gawang: Pahlawan yang Terabaikan.

Selain ajang empat tahunan yang mempertemukan negara-negara antar benua. Piala Dunia acap kali ditafsirkan sebagai ajang para pemain glamour mementaskan seni mengolah si kulit bundar. Beragam pertunjukan dipertontonkan ke khalayak penikmat sepak bola. Brasil, Belanda dan Spanyol yang didaulat sebagai dalang dari karya seni sepak bola modern yang dikemas dengan aksi teatrikal para pemainnya, sampai sekarang belum menunjukan pentas seninya. Bahkan Spanyol yang enam tahun terakhir dianggap sukses mementaskan seni Tiqui-taca-nya, dipaksa angkat kaki lebih cepat dari Brasil.

Tiki-taka bukan lagi teror yang selalu menghantui lawan yang akan berhadapan dengan Spanyol. Mulai meredupnya masa keemasan Barcelona dianggap sebagai biang keladi dari kebobrokan lini per lini skuat Spanyol di Piala Dunia kali ini. Bayangkan saja, nyaris setiap sisi Spanyol pasti ada pemain Barcelona. Tapi tidak logis jika keterpurukan Spanyol dikaitkan dengan performa pemain-pemain Barcelona didalamnya. Toh, dalam timnas Spanyol banyak pemain yang juara bersama klub asalnya masing-masing.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
20 May 2014

Re : Surat Terbuka Javier Zanetti Untuk Interisti

"Kami akan menunggu pertandingan yang tak akan pernah usai, yang akan kau mulai"

Hallo Kapten, aku baru saja selesai membaca surat darimu. Di awal surat kau menulis “Untuk Pendukung Inter dan pecinta Olahraga di seluruh dunia” . Ah , aku termasuk di dalam itu tadi kapten, jadi, bolehkan aku membalas surat ini padamu ?? Juga untuk mewakili mereka yang tidak sempat membalas suratmu, atau mungkin terlalu sibuk untuk membacanya.

Tahukah kau kapten, tak pernah aku niatkan sebelumnya, untuk menjadi pendukungmu, atau mendukung Inter (klub yang tak bosan kau bela 19 tahun terakhir). Aku bersumpah kapten, aku tidak sengaja menjadi bagian dari pendukungmu. Aku ingat saat itu, sebelum berangkat sekolah sembari memakan beberapa lembar roti,  aku melihat cuplikan pertandingan antara Inter vs Lazio di final piala UEFA (saat itu aku terlalu muda untuk menonton pertandingan tengah malam- dan sejujurnya saat itu, aku tak tahu apa itu Piala UEFA). Tak mungkin kau lupa, kau mencetak 1 gol dipertandingan itu, dan selebrasi gol mu itu kapten yang menarik perhatianku, seorang “anak muda” meluapkan kegembiraannya dengan berlari sembarang sambil mengangkat setengah jerseymu (yang aku lihat belakangan itu menjadi selebrasi khas mu, tiap kau sempat mencetak gol, bukan begitu kapten??). Hei kapten, aku berani bertaruh, bahkan kau pun pasti tidak menyangka tendanganmu tadi akan menghasilkan gol, ayolah itu bukan kebiasaanmu kan ?? Haha.

 Aku belum menjadi pendukungmu saat itu.

Read More
Pram Ichanx
Posted by Pram Ichanx
3 March 2014

MENCINTAI SI BADUT

 “… so you can see me, I put make up on my face. But there’s no way you can feel it… from so far away.”

Sepenggal kalimat di atas adalah bagian sepotong lirik dari lagu yang entah mengapa menjadi favorit saya sejak beberapa hari terakhir ini. Lagu yang saya maksud adalah lagu yang di nyanyikan oleh seorang penyanyi wanita asal Inggris yaitu Emili Sande. Lirik tersebut ada di sebuah lagu yang berjudul “Clown”. Lagu yang di nyanyikan Emili Sande tersebut sebenarnya sudah di rilis sejak 3 Februari 2013 lalu dan menduduki posisi no 4 di tangga lagu UK Singles sepanjang tahun 2013.

Saya tidak ingin mencoba menterjemahkan makna dari lagu tersebut maupun mengupas lebih dalam dari tiap liriknya. Anda bisa mengunggahnya secara gratis dan memaknai sendiri setelah mendengarkan harmonisasi indah piano yang di padukan dengan suara soprano khas Emili Sande. Saya justru tertarik dengan judul dari lagu tersebut, “ Clown” yang dalam bahasa Indonesia berarti badut. Arti harafiah dari judul lagu tersebut adalah sesosok mahkluk yang bagi sebagian orang di sukai namun tidak sedikit juga yang phobia apabila melihat badut. Dalam dunia medis, ketakutan akan sesosok badut sering di sebut dengan istilah “Coulrophobia”. Saya bukan pengidap Coulrophobia, tapi dari banyak sumber yang saya baca atau saya dengar, Coulrophobia bisa terjadi pada seseorang akibat ketidaksukaan orang tersebut pada sosok yang memiliki dandanan aneh, bentuk badan aneh serta riasan wajah yang juga aneh dari kebanyakan manusia pada umum nya. Coulrhophobia juga timbul karena ketidaktahuan dari orang yang takut tersebut akan siapa sosok yang ada di balik perut buncit dan riasan wajah aneh dari sosok badut.

Read More