Tag archive

Cinta

Kupu-Kupu Malam

oleh

Ia berdiri di dalam hujan yang berjatuhan perlahan, bersandar pada sebatang tiang dengan lampunya yang mulai padam. Ia, wanita itu, hanya menatap nanar ke sekelilingnya yang gelap. Sudah lewat tengah malam dan tak ada satupun batang hidung yang tampak sepanjang tamasya di sudut stasiun kota. Bahkan ketika hujan perlahan-lahan menderas, ia masih tetap setia pada posisinya, tidak bergerak walau selangkah. Sesekali dari mulutnya terucap sepatah dua patah kata halus yang merayu dan memanja. Namun kemudian kepalanya menunduk, menyembunyikan sesuatu yang mulai keluar dari matanya yang bulat. Tangisan itu, yang kini tersamar oleh butiran air hujan. Lanjutkan Membaca …

Bagaimana Kita Jatuh Hati?

oleh

Waktu tak pernah berencana untuk diam, beristirahat sekedar membuang lelah. Waktu akan senantiasa berlari dengan irama yang sama, konstan tak pernah berubah seolah memaksa kita untuk tumbuh kembang beriringan dengan waktu yang terus berjalan. Tak diizinkan sekalipun kita untuk berputar arah atau jalan kebelakang, tak akan pernah bisa. Sekarang ini yang bisa kita lakukan hanya ikut menapak arah bersama waktu, melanjutkan cerita yang telah dimulai, menyelesaikan bait demi bait skenario hidup yang telah dicetak rapi dalam naskah bernama waktu. Sedang untuk waktu yang sudah tertinggal jauh hanya bisa kita tertawakan, atau tangisi?, terserah. Lalu di kemudian hari, kita akan mengejawantahkan beberapa hal pada waktu yang tertinggal itu. Untuk memaparkan pertanyaan yang tak sempat terjawab sebelumnya, atau setidaknya untuk menerjemahkanya ke dalam bentuk cerita.

Dan tentang pertanyaan-pertanyaan itu, ada satu yang kerapkali muncul setiap kali aku dipaksa mengingat waktu bagaimana cerita ini bisa bermula, tentang kita. Sudah sangat lama sejak hari itu, namun masih cukup hebat untuknya membuncahkan pikiran ini setiap kali aku mengingatnya. Pertanyaan yang aku pikir, akan sehebat apapun kita berdiskusi, berbincang sepanjang siang-sampai petang, tak akan pernah kita temui jawabnya. Meskipun pertanyaan itu sangat sederhana : bagaimana bisa kita saling jatuh hati?. Lanjutkan Membaca …

Berakhir di Angka Empat

oleh

“Hati boleh bodoh, otak jangan!!” Entah mengapa dalam beberapa minggu terakhir kalimat itu selalu berkelebat dan menari-nari dalam pikiranku. Berawal dari ketika aku membaca sebuah tulisan karya Christian Simamora yang kubaca berulang-ulang. Apa pasal?? Boleh jadi aku begitu terhanyut kedalam isi cerita tulisan itu, seperti aku berada didalamnya. Beberapa bagian dari isi cerita itu menjadi lekat dan begitu mengganggu pikiranku karena isi cerita itu begitu mirip atau aku bilang sama persis dengan apa yang sedang aku rasakan. Apa mungkin aku bodoh? Ah, masak iya? Apa nilai-nilai yang aku dapat semasa 17 tahun mengeyam bangku pendidikan kurang cukup membuktikan kecerdasanku yang melebihi kebanyakan orang?

Ah, sudahlah apa gunanya membahas apa yang aku raih dulu. Itu telah berlalu, tak berbekas. Mulai kurunut lagi semua peristiwa yang terjadi beberapa tahun belakangan ini. Peristiwa yang membuatku sedih dan bahagia silih berganti. Ketika aku menjatuhkan hatiku pada apa yang sebenarnya tak pernah dapat kuraih. Mungkin dari sinilah kebodohanku berlanjut. Entah hati, entah otak sepertinya semua dibodohi oleh sesuatu yang kebanyakan orang menyebutnya cinta. Orang menjadi bodoh ketika jatuh cinta. Bukan bodoh, lebih tepatnya membiarkan dirinya menjadi bodoh. Aku salah satunya. Lanjutkan Membaca …

Rasa Yang Sama

oleh

Malam ini adalah malam kesekian untuk aku melakukan hal yang sama, seperti kemarin dan kemarinnya lagi, mengantri demi sesuap sate. Tak perlu heran, sate adalah makanan favoritku –selain mie ayam tentu saja. Demi sate, aku rela untuk berkeliling kota berpindah dari satu tempat sate ke tempat yang lain. Seperti apapun itu tempatnya, untukku itu tak pernah menjadi soal. Asalkan sate itu adalah ayam dengan bumbu kacangnya, itu sudah menjadi alasan yang masuk akal untuk aku berkeliling tempat, entah itu harus menunggu manis di rumah makan kelas atas atau berdesak-desakan di abang sate pinggir jalan, sungguh, aku tak perduli.

Seperti malam ini misalnya, aku memutuskan membelinya di tempat ini, setelah sekian lama alpha. Terakhir kali aku makan disini, yang aku ingat rasanya enak sekali. Tak perlu waktu lama, aku segera memesan satu porsi sate ayam. Tapi, antrian yang begitu panjang membuatku –mau tak mau turun dari mobil untuk menunggu di salah satu kursi yang mereka disediakan. Di tempat itu sudah ada beberapa orang yang bernasib sama, menunggu. Lima menit pertama kuhabiskan memandangi para pembeli. Pasangan suami istri dengan dua anaknya yang masih duduk di atas motor yang baru saja mereka parkir, lucu sekali. Ada juga dua orang bapak yang asyik bercerita tentang entah apa, mungkin soal Persipura, soal politik atau hanya soal keluarga mereka. Ada seorang ibu yang kukira usianya tak jauh berbeda dengan usia ibuku, namun berpenampilan nyentrik dengan dandanan bak gadis berusia muda. Dan sepasang muda-mudi yang duduk manis tak jauh dariku. Lima menit pertama sudah habis, dan mereka yang terakhir itu lah, yang membuat aku masuk kedalam sebuah lamunan pada lima menit berikutnya dan berikutnya dan berikutnya lagi. Lanjutkan Membaca …

Go to Top